Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah di Kupang, NTT: Air Putih dan Makan Sehat (2)

20150105_114440JANGAN lupa, satu menu wajib di luar semua di atas, adalah air putih yang diambil langsung dari kran mana saja di seluruh kebun, tanpa dimasak. Semua pasien dan atau pendamping diajari untuk secara teratur mengkonsumsi air tanpa dimasak dari kebun itu hingga mampu mengkonsumsi 5-7 liter per hari. Untuk memudahkan mengingatnya, semua belajar dengan botol air mineral ukuran besar 1,5 liter atau lainnya 1,2 liter, dan sekali minum diupayakan habis. Jadi satu hari tinggal hitung antara 4-5 botol. Menyaksikan semua penghuni memberikan contoh bagaimana mereka ambil air dan minum, kami pun tidak ragu melakukannya. (Baca juga: Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah, Kupang, NTT (1) Dari sharing dan obrolan beberapa hari kemudian, air adalah menu andalan ketika Opa dan Tim melayani di berbagai kota (di Jawa dan pulau lain) atau berbagai pelosok di NTT. Peristiwa terlambat makan atau bahkan tidak tersedia makan ketika Opa memberikan pelayanan di pelosok-pelosok, adalah hal tidak aneh tutur mereka yang pernah ikut dalam pelayanan. Yang harus disiapkan utamanya adalah sejumlah air. Jadi terkadang kalau masuk daerah pelosok yang sulit, salah satu mobil harus membawa botol air mineral yang cukup untuk masa pelayanan. Saya lalu teringat dua orang penulis best seller, yang mengupas tentang air. Salah satu penulis tersebut adalah Ajahn Brahm, seorang kulit putih yang menjadi biksu yang menulis buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Ia mengatakan begini: “Saya tidak pernah kawatir kemana pun saya pergi, karena yang saya perlukan hanyalah sebotol air”. Penulis lain tentang air yang sangat kesohor, bahkan mempunyai rumah sakit ternama yang menggunakan air sebagai sarana terapi adalah Masaru Emoto peneliti dari Jepang. Salah satu bukunya The True Power of Water sangat laris. Di tengah tanah yang tandus itu mata saya terbuka melihat kehidupan yang luar biasa indah. Hidup mengalir begitu mudah. Siklus zero waste yang hampir 100 persen terjadi di Mekon, sebuah tempat yang hanya 10 menit dengan mobil dari Bandara El Tari. Saya sering berdiri merenung di sebuah kolam yang menggambarkan siklus sangat sederhana. Di atas kolam terhampar papan fiber glass bekas, yang dengan tanah tipis di tumbuhi kangkung, bayam, atau pok chai dan berbagai sayuran berbasis air lainnya. Air kolam yang tercampur lendir dan kotoran ikan, di pompa ke atas tanaman, lalu air meresap ke tanah tipis yang ditumbuhi sayuran, dan mengalir kembali ke kolam dalam kadar yang lebih bersih. Dengan tehnologi sederhana, terjadi perpaduan yang saling membantu antara ikan-ikan dan tanaman sayuran, dan sayur-sayur itu menjadi salah satu santapan kami sehari-hari. Sehat yang murah Dari hari ke hari, saya tak berhenti tertegun. Ketika kami mulai mengenal hampir semua pasien, ada berbagai penderita, misalnya saya sebut saja jenis penyakit dan nama kota asal penderita yang saya ingat, kanker hidung (Singapore); autis (Jakarta) gangguan ingatan (Surabaya) leukimia (Bandung) stroke (Pontianak) bengkak berat tidak bisa jalan (Yogyakarta) bayi yang tangan kakinya mencengkeram terus menerus (Flores), jantung dan komplikasi (Flores) dan sebagian lain saya tidak ingat. Kini istri dan saya menambah daftar itu: kanker payudara ganas. Yang sangat tertanam di hatiku adalah seruan bertubi-tubi hampir setiap hari Opa kepada semua pasien dan atau orangtua, pendamping pasien:”Terima saja dengan sabar dan ikhlas” atau “biar saja ibu tidak apa-apa” (yang terakhir ini biasanya untuk ibu-ibu yang menunggu anak penderita autis). “Mereka sedang mengeluarkan racun jiwanya” begitu kata Opa. Salah satu pasien autis yang saya menjadi cukup dekat, bahkan saya anggap cucu, dan ia pun panggil saya opa, memang sangat mengganggu dalam ukuran kacamata pergaulan biasa. Cukup sering, tiba-tiba ia mengangkat kaki ke depan muka d isebelahnya dan berkata keras “Tolong garukin” atau “Tolong pijitin”. Atau tiba-tiba, pegang tangan Opa (ketika sedang bicara serius) lalu minta Opa lihat jam.! “Om Anton, Ini mau selesai jam berapa!?” begitu ekspresi anak ini. Kalau Anda atau saya ibunya atau ayahnya, pasti kita sudah gusar bukan kepalang, dengan kelakuan anak ini, bukan? Demikian juga ibu anak ini. Namun Opa berkali-kali mengatakan:”Ibu,, biar saja, tidak apa-apa”, “sebenarnya yang disembuhkan di sini adalah ibu, ibu harus kuat menderita malu, sebab anak ini adalah darah daging ibu”. Lalu saya ingat persis Opa menutup dengan kalimat yang serius:” Ibu, kalau nanti anak ini sembuh, ibu akan menjadi salah satu ibu yang paling bahagia di dunia”. Rasanya, kami semua sulit menahan haru. Tidak lebih dari tiga pekan sejak saya mengenal anak ini, dengan rasa haru kami melepas kepulangan mereka ke Jakarta, dalam kondisi yang jauh lebih baik, dan boleh dikatakan sembuh. Di minggu itu, setelah Natal dan Tahun Baru 2014/2015, layaknya sebuah hadiah Natal dan Tahun Baru dari Atas, sebagian besar teman-teman kami yang saya sebutkan di atas telah kembali ke kota masing-masing dalam kondisi kesembuhan. Meski saya tidak dapat menjelaskan bagaimana ini terjadi, tetapi saya menuliskannya dengan jujur atas apa yang saya lihat dan alami. Lalu bagaimana perkembangan istri saya? Yang terang kami merasa intinya kami di bawa kembali kepada alam murni dengan jiwa gembira. Biarkan jiwa yang sehat dan gembira menuntun seluruh organ kita menjadi sehat dari dalam diri kita sendiri. Perjuangan tersulit istri (dan juga pasien lain) adalah ketika ia harus melepas seluruh obat-obatan medis yang begitu banyak dan mahal. Kini istri sudah bebas seluruhnya dari seluruh ornamen medik itu. Proses ini memakan waktu. Keluhan-keluhan masih terkadang muncul. Kalau sebelumnya setiap kali keluhan menimbulkan beban psikologis mendasar, karena kami tidak tahu sampai ke mana perjalanan medis nantinya. (Istri sudah dua kali operasi untuk sakit ini saja). Di samping itu, masih ada hantu pertanyaan biaya yang timbul (meski kami sebagian besar masih dibiayai kantor dimana saya bekerja dulu). Meski saat ini keluhan masih ada, tetapi sudah jauh berkurang. Melalui arahan Opa, keluhan seperti rasa nyeri yang datang, teratasi melalui obat generik yang tersedia di apotik dengan sangat murah (dibanding obat-obatan yang pernah kami beli sebelumnya). Berat badan Tiga alinea berikut sebenarnya tak layak berada di sini, namun karena kegembiraan dan sukacita, saya paksakan cerita tentang apa yang terjadi dengan diri saya sebagai pendamping. Saya pada dasarnya tidak mempunyai keluhan penyakit, tetapi saya adalah penderita overweight kronis, menuju ke obesitas. Tinggi 174, berat 95 kg. Kalau Tuhan berkenan, dua bulan lagi saya berumur 66 tahun. Meski terkadang saya berusaha mengatur makan, melalui berbagai cara, maksimal yang saya dapat capai adalah berat 92-93 kg. Angka 90 kg adalah keramat, seperti mimpi yang tak pernah kesampaian. Pernah memang saya mengkonsumsi produk multilevel marketing, yang sangat mahal dan pernah berat saya menembus angka 90, tetapi tidak bertahan lama, bahkan “arus baliknya” pernah membawa berat saya ke 97 kg. Di depan Opa, saya menjadi bahan canda yang empuk. “Sudah tua, bengkak lagi” begitu Opa suka mengerjain saya. Ketika saya bertanya secara pribadi apakah mungkin saya meniru pola beliau (makan hanya sekali sehari), dengan gembira beliau bilang: “Mengapa tidak? Yang terpenting jangan lupa dan jangan terlambat air, dan terus hindari racun”. Racun saya adalah daging, telor, cumi, kepiting, dan alkohol (dengan semua turunannya). Ketika saya menulis bagian ini adalah 15 Januari 2015, kira-kira sebulan saya mengikuti pola itu, hampir tanpa keluhan. Pagi dan siang saya makan 2-3 buah pisang rebus, terkadang sepotong ubi, dengan kopi pahit (kopi murni), dan sore pukul 18:00 saya makan biasa, bahan organik. Tentu harus minum 6-7 liter air setiap hari. Saya kerkesima, bahwa saya tidak merasa lapar, tidak pusing, dan bahkan kebiasaan mengantuk pkl 10:00-11:00 hilang. Sebelum menulis kalimat ini saya ke timbangan yang biasa saya gunakan, berat saya 89 kg, dan lingkaran perut saya pelan-pelan mengecil. Mata saya sekali lagi terbuka, bahwa sehat tidak harus mahal.

20150105_114440

JANGAN lupa, satu menu wajib di luar semua di atas, adalah air putih yang diambil langsung dari kran mana saja di seluruh kebun, tanpa dimasak. Semua pasien dan atau pendamping diajari untuk secara teratur mengkonsumsi air tanpa dimasak dari kebun itu hingga mampu mengkonsumsi 5-7 liter per hari.

Untuk memudahkan mengingatnya, semua belajar dengan botol air mineral ukuran besar 1,5 liter atau lainnya 1,2 liter, dan sekali minum diupayakan habis. Jadi satu hari tinggal hitung antara 4-5 botol. Menyaksikan semua penghuni memberikan contoh bagaimana mereka ambil air dan minum, kami pun tidak ragu melakukannya. (Baca juga: Menyembuhkan Kanker di Kebun Mekon Indah, Kupang, NTT (1)

Dari sharing dan obrolan beberapa hari kemudian, air adalah menu andalan ketika Opa dan Tim melayani di berbagai kota (di Jawa dan pulau lain) atau berbagai pelosok di NTT. Peristiwa terlambat makan atau bahkan tidak tersedia makan ketika Opa memberikan pelayanan di pelosok-pelosok, adalah hal tidak aneh tutur mereka yang pernah ikut dalam pelayanan. Yang harus disiapkan utamanya adalah sejumlah air. Jadi terkadang kalau masuk daerah pelosok yang sulit, salah satu mobil harus membawa botol air mineral yang cukup untuk masa pelayanan.

Saya lalu teringat dua orang penulis best seller, yang mengupas tentang air. Salah satu penulis tersebut adalah Ajahn Brahm, seorang kulit putih yang menjadi biksu yang menulis buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”.

Ia mengatakan begini: “Saya tidak pernah kawatir kemana pun saya pergi, karena yang saya perlukan hanyalah sebotol air”. Penulis lain tentang air yang sangat kesohor, bahkan mempunyai rumah sakit ternama yang menggunakan air sebagai sarana terapi adalah Masaru Emoto peneliti dari Jepang. Salah satu bukunya The True Power of Water sangat laris.

Di tengah tanah yang tandus itu mata saya terbuka melihat kehidupan yang luar biasa indah. Hidup mengalir begitu mudah. Siklus zero waste yang hampir 100 persen terjadi di Mekon, sebuah tempat yang hanya 10 menit dengan mobil dari Bandara El Tari. Saya sering berdiri merenung di sebuah kolam yang menggambarkan siklus sangat sederhana. Di atas kolam terhampar papan fiber glass bekas, yang dengan tanah tipis di tumbuhi kangkung, bayam, atau pok chai dan berbagai sayuran berbasis air lainnya.

mekon6
Kolam lele

Air kolam yang tercampur lendir dan kotoran ikan, di pompa ke atas tanaman, lalu air meresap ke tanah tipis yang ditumbuhi sayuran, dan mengalir kembali ke kolam dalam kadar yang lebih bersih. Dengan tehnologi sederhana, terjadi perpaduan yang saling membantu antara ikan-ikan dan tanaman sayuran, dan sayur-sayur itu menjadi salah satu santapan kami sehari-hari.

Sehat yang murah
Dari hari ke hari, saya tak berhenti tertegun. Ketika kami mulai mengenal hampir semua pasien, ada berbagai penderita, misalnya saya sebut saja jenis penyakit dan nama kota asal penderita yang saya ingat, kanker hidung (Singapore); autis (Jakarta) gangguan ingatan (Surabaya) leukimia (Bandung) stroke (Pontianak) bengkak berat tidak bisa jalan (Yogyakarta) bayi yang tangan kakinya mencengkeram terus menerus (Flores), jantung dan komplikasi (Flores) dan sebagian lain saya tidak ingat.

Kini istri dan saya menambah daftar itu: kanker payudara ganas.

Yang sangat tertanam di hatiku adalah seruan bertubi-tubi hampir setiap hari Opa kepada semua pasien dan atau orangtua, pendamping pasien:”Terima saja dengan sabar dan ikhlas” atau “biar saja ibu tidak apa-apa” (yang terakhir ini biasanya untuk ibu-ibu yang menunggu anak penderita autis).

“Mereka sedang mengeluarkan racun jiwanya” begitu kata Opa.

Salah satu pasien autis yang saya menjadi cukup dekat, bahkan saya anggap cucu, dan ia pun panggil saya opa, memang sangat mengganggu dalam ukuran kacamata pergaulan biasa. Cukup sering, tiba-tiba ia mengangkat kaki ke depan muka d isebelahnya dan berkata keras “Tolong garukin” atau “Tolong pijitin”.

Atau tiba-tiba, pegang tangan Opa (ketika sedang bicara serius) lalu minta Opa lihat jam.! “Om Anton, Ini mau selesai jam berapa!?” begitu ekspresi anak ini.

Kalau Anda atau saya ibunya atau ayahnya, pasti kita sudah gusar bukan kepalang, dengan kelakuan anak ini, bukan? Demikian juga ibu anak ini. Namun Opa berkali-kali mengatakan:”Ibu,, biar saja, tidak apa-apa”, “sebenarnya yang disembuhkan di sini adalah ibu, ibu harus kuat menderita malu, sebab anak ini adalah darah daging ibu”.

Lalu saya ingat persis Opa menutup dengan kalimat yang serius:” Ibu, kalau nanti anak ini sembuh, ibu akan menjadi salah satu ibu yang paling bahagia di dunia”. Rasanya, kami semua sulit menahan haru.

Tidak lebih dari tiga pekan sejak saya mengenal anak ini, dengan rasa haru kami melepas kepulangan mereka ke Jakarta, dalam kondisi yang jauh lebih baik, dan boleh dikatakan sembuh. Di minggu itu, setelah Natal dan Tahun Baru 2014/2015, layaknya sebuah hadiah Natal dan Tahun Baru dari Atas, sebagian besar teman-teman kami yang saya sebutkan di atas telah kembali ke kota masing-masing dalam kondisi kesembuhan. Meski saya tidak dapat menjelaskan bagaimana ini terjadi, tetapi saya menuliskannya dengan jujur atas apa yang saya lihat dan alami.

Lalu bagaimana perkembangan istri saya?

Yang terang kami merasa intinya kami di bawa kembali kepada alam murni dengan jiwa gembira. Biarkan jiwa yang sehat dan gembira menuntun seluruh organ kita menjadi sehat dari dalam diri kita sendiri. Perjuangan tersulit istri (dan juga pasien lain) adalah ketika ia harus melepas seluruh obat-obatan medis yang begitu banyak dan mahal. Kini istri sudah bebas seluruhnya dari seluruh ornamen medik itu. Proses ini memakan waktu.

Keluhan-keluhan masih terkadang muncul. Kalau sebelumnya setiap kali keluhan menimbulkan beban psikologis mendasar, karena kami tidak tahu sampai ke mana perjalanan medis nantinya. (Istri sudah dua kali operasi untuk sakit ini saja). Di samping itu, masih ada hantu pertanyaan biaya yang timbul (meski kami sebagian besar masih dibiayai kantor dimana saya bekerja dulu).

Meski saat ini keluhan masih ada, tetapi sudah jauh berkurang. Melalui arahan Opa, keluhan seperti rasa nyeri yang datang, teratasi melalui obat generik yang tersedia di apotik dengan sangat murah (dibanding obat-obatan yang pernah kami beli sebelumnya).

Berat badan

Tiga alinea berikut sebenarnya tak layak berada di sini, namun karena kegembiraan dan sukacita, saya paksakan cerita tentang apa yang terjadi dengan diri saya sebagai pendamping. Saya pada dasarnya tidak mempunyai keluhan penyakit, tetapi saya adalah penderita overweight kronis, menuju ke obesitas. Tinggi 174, berat 95 kg.

Kalau Tuhan berkenan, dua bulan lagi saya berumur 66 tahun. Meski terkadang saya berusaha mengatur makan, melalui berbagai cara, maksimal yang saya dapat capai adalah berat 92-93 kg. Angka 90 kg adalah keramat, seperti mimpi yang tak pernah kesampaian. Pernah memang saya mengkonsumsi produk multilevel marketing, yang sangat mahal dan pernah berat saya menembus angka 90, tetapi tidak bertahan lama, bahkan “arus baliknya” pernah membawa berat saya ke 97 kg.

Di depan Opa, saya menjadi bahan canda yang empuk. “Sudah tua, bengkak lagi” begitu Opa suka mengerjain saya. Ketika saya bertanya secara pribadi apakah mungkin saya meniru pola beliau (makan hanya sekali sehari), dengan gembira beliau bilang: “Mengapa tidak? Yang terpenting jangan lupa dan jangan terlambat air, dan terus hindari racun”.

Racun saya adalah daging, telor, cumi, kepiting, dan alkohol (dengan semua turunannya).

Ketika saya menulis bagian ini adalah 15 Januari 2015, kira-kira sebulan saya mengikuti pola itu, hampir tanpa keluhan. Pagi dan siang saya makan 2-3 buah pisang rebus, terkadang sepotong ubi, dengan kopi pahit (kopi murni), dan sore pukul 18:00 saya makan biasa, bahan organik. Tentu harus minum 6-7 liter air setiap hari.

Saya kerkesima, bahwa saya tidak merasa lapar, tidak pusing, dan bahkan kebiasaan mengantuk pkl 10:00-11:00 hilang. Sebelum menulis kalimat ini saya ke timbangan yang biasa saya gunakan, berat saya 89 kg, dan lingkaran perut saya pelan-pelan mengecil. Mata saya sekali lagi terbuka, bahwa sehat tidak harus mahal.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply