Menyambut Yesus Kristus, Sang Raja Damai di Hati Kita

jerus2Minggu Palma, 29 Maret 2015 Yes 50:4-7; Mzm 22:8-9,17-18a; Flp 2:6-11; Mrk 11:1-10 (Baca juga Mrk 14:1-15:47) “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. … Hosana di tempat yang maha tinggi.” HARI ini adalah Hari Minggu Palma. Kita mulai memasuki Pekan Suci. Para Imam pun mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti Rekoleksi Pembaharuan Janji Imamat. [Misalnya, di Keuskupan Agung Semarang akan dilaksanakan hari Senin-Selasa (30-31 Maret 2015 di Bandungan). Para Romo, selamat mempersiapkan diri untuk rekoleksi dan pembaharuan janji imamat kita bersama Bapak Uskup kita tercinta serta Perayaan Ekarisi pemberkatan Minyak Krisma (dan Minyak Katekumen dan Minyak Suci untuk Orang Sakit) pada hari Selasa, 31 Maret 2015, pkl 17.00 di Gereja Katedral Semarang.] Saya akan mendasarkan permenungan dan refleksi ini pada bacaan Injil yang dibacakan saat Ritus Pembuka menjelang Prosesi menyambut Yesus yang masuk Yerusalem dengan daun-daun palma. Berdasarkan Injil ini, kita diundang untuk menyambut Yesus Kristus, Raja Mulia dan Damai dalam hidup dan hati kita. Itulah Yerusalem baru, yang kini menjadi tujuan Yesus Kristus datang. Sebagaimana semua penduduk Yerusalem kala itu siap mengelu-elukan Yesus Sang Mesias, demikian pula kita saat ini. Namun Yesus pergi ke Yerusalem kala itu dengan penuh kesadaran akan segala yang menanti-Nya. Dia akan dikhianati, ditolak dan disalibkan, terutama oleh kalangan para pemimpin Yahudi. Sementara rakyat tak banyak tahu rencana persekongkolan itu, dan konsekuensi yang harus ditanggung Yesus untuk mengiringi Kerajaan-Nya. Mereka tetap bersukacita menyambut Dia sebagai Sang Raja dengan sorak-sorai: Hosana! Yesus masuk ke Yerusalem dengan mengendarai seekor keledai. Ini merupakan penggenapan atas nubuat Mesianik yang disampaikan oleh Nabi Zakharia, “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda” (Za 9:9). Mengapa Yesus mengendarai seekor keledai? Keledai adalah lambang perdamaian dan kerendahan hati. Apa maknanya bagi kita kini? Yesus masuk Yerusalem dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati sebagai Sang Mesias yang menawarkan kemenangan dan perdamaian kepada kita semua, umat-Nya. Namun, damai itu dinyatakan melalui peristiwa salib dan kebangkitan-Nya yang segera kita rayakan dalam peristiwa Paskah. Menurut St. Agustinus, Yesus Kristus adalah Guru Kerendahan Hati yang merendahkan diri-Nya dan menjadi taat sampai wafat, bahkan wafat di kayu salib. Namun demikian, ia tidak kehilangan kuasa Ilahi-Nya ketika Ia mengajarkan kepada kita kerendahan hati itu. Ia adalah raja segala raja segala abad, yang merajai kemanusiaan kita. Ia membimbing kita ke dalam Kerajaan Surga yang disediakan bagi setiap orang yang percaya, berharap pada-Nya dan mengasihi-Nya. Kerajaan itu ditetapkan untuk Anak Allah, yang serupa Bapa, Sabda yang melalui-Nya segala makhluk diciptakan, Sang Raja Semesta Alam. Kita masuk dalam kategori sebagai anak-anak-Nya dalam Dia. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita menyembah dengan penuh iman Yesus Kristus yang telah datang untuk membawa Kerajaan Allah bagi kita. Kapel Adorasi Ekaristi Abadi merupakan ruang yang memantulkan pujian dan kemuliaan bagi-Nya. Di sana kita menemukan Dia, Raja Sejati yang menawarkan damai, sukacita, dan hidup abadi bagi kita yang menerima dan mengimani-Nya. Akankah Dia, Sang Raja Mulia menemukan sambutan yang baik saat masuk ke dalam hati kita? Tuhan Yesus Kristus, datanglah ke dalam hati dan hidup kami dengan damai-Mu. Berkenanlah menjadi Raja bagi hati, budi, hidup, dan rumah kami. Semoga hidup kami memantulkan kerendahan hati dan kelemahlembutan sehingga Dikau dimuliakan sebagai Raja Mulia, selama-lamanya. Amin.

jerus2

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply