Menyambut Undangan Tuhan dengan Sukacita

undangan tuhanKamis, 21 Agustus 20PW Pius X, Paus Yehezkiel 36:23-28; Mazmur 51:12-15, 18-19; Matius 22:1-14 “Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan …. semuanya telah tersedia, datanglah…” (Matius 22:4) Kerajaan Sorga laksana perjamuan nikah. Semua dan siapa saja diundang datang ngalap (= menyambut mereguk) berkah. Datanglah! Sayangnya, mereka yang diundang tak menghiraukannya. Denham berbagai dalih dan alasan yang tanpa […]

undangan tuhan

Kamis, 21 Agustus 20PW Pius X, Paus
Yehezkiel 36:23-28; Mazmur 51:12-15, 18-19; Matius 22:1-14

“Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan …. semuanya telah tersedia, datanglah…” (Matius 22:4)

Kerajaan Sorga laksana perjamuan nikah. Semua dan siapa saja diundang datang ngalap (= menyambut mereguk) berkah. Datanglah!

Sayangnya, mereka yang diundang tak menghiraukannya. Denham berbagai dalih dan alasan yang tanpa dasar, mereka menolak undangan itu. Padahal, “Semuanya telah tersedia, datanglah” (Matius 22:4).

Para undangan berdalih dan berkilah! Mereka tidak menyadari betapa indahnya perjamuan yang dipersiapkannya. Tak hanya indah tetapi juga lezat dan nikmat. “Sesungguhnya hidangan, telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini” (Matius 22:4). Sekali lagi, sayang sekali, mereka yang diundang tidak tanggap dan tidak mau mengindahkannya.

Di sini kita bisa bertanya, apakah dan bagaimanakah sikap kita dalam menanggapi undangan keselamatan dan kebahagiaan dari Tuhan? Jangan-jangan kita termasuk orang yang suka berdalih? Ataukah kita tanggap dan merespon positif? Syukurlah!

Bila kita merespon positif  undangan Tuhan, pertanyaan lebih lanjut bisa kita renungkan: Apakah kita berpakaian pantas atau tidak? Pakaian tak sekadar fisik tetapi juga spiritual.

Tak seorang pun datang ke pesta perjamuan nikah tanpa pakaian yang sepantasnya. Menyambut pesta yang ditawarkan kepada kita, kita pun dipanggil untuk merespon sebaik-baiknya sebagai pakaian pantas yang kita kenakan.

Undangan itu ditujukan kepada kita agar kita menjadi sahabat-sahabat Sang Mempelai. Undangan pesta dan perjamuan nikah mengantisipasi perjamuan surgawi  sebagaimana diwartakan dalam Kitab Wahyu. “Roh dan pengantin perempuan itu berkata: Marilah! Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: Marilah! Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma!” (Wahyu 22:17)

Kita diundang secara cuma-cuma untuk datang ke dalam pesta perjamuan. Jawaban terbaik kita berikan sebagaimana dilukiskan pula dalam Kitab Wahyu. Kita harus dan semestinya datang segera tak perlu menunda-nunda (Wahyu 22:20).

Adorasi Ekaristi Abadi merupakan salah satu cara kita menanggapi undangan Tuhan untuk datang ke perjamuan Sang Mempelai. Dia hadir bukan sebagai santapan tapi sebagai sesembahan kita. Mari kita menyambut undangan ini dengan sukacita.

Tuhan Yesus Kristus, semoga kami tidak mengabaikan apalagi menolak undangan untuk hadir dalam perjamuan yang Kau selenggarakan. Semoga kami menjadi orang yang taat setia, bukannya pemberontak yang cari-cari alasan untuk menolak undangan-Mu. Semoga kami setia menyambut-Mu dengan hati penuh sukacita, kini dan selamanya. Amin.

Girli Kebon Dalem

SALAM TIGA JARI: Persatuan Indonesia dalam Keragaman.

Kredit foto: Ilustrasi (Courtesy of A Place for Woman)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply