Menyambut Pendatang Baru

Ayat bacaan: Keluaran 23:9
====================
“Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.”

Semua kampus mengadakan masa orientasi untuk para calon mahasiswa baru. Secara teori masa orientasi ini diperlukan agar mereka mengenal lingkungan dimana mereka akan menempa diri untuk menjadi sarjana dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus mengenal senior-senior yang sudah terlebih dahulu mengecap pendidikan disana. Entah kenapa dan siapa yang memulai, sebuah sarana yang baik ini diselewengkan menjadi saat menggojlok anak-anak baru dengan cara yang seringkali diluar kepantasan orang beradab. Sejak jaman dahulu bentuk perploncoan ini lebih menekankan penyiksaan secara fisik dan mental dengan alasan agar mental para mahasiswa baru ini bisa cukup kuat untuk menjalani pendidikan hingga sarjana. Bukan hanya di tingkat universitas, tapi anak-anak SD pun sekarang sudah tahu bagaimana mem-bully anak-anak baru di sekolah. Bukannya menyambut dengan ramah dan siap membantu mereka agar lebih cepat beradaptasi, anak-anak baru cendrung dibuat trauma terhadap lingkungan yang seharusnya nyaman untuk menimba ilmu. Kesalah-kaprahan ini sering berlanjut di kantor, instansi atau lembaga bahkan bentuk-bentuk organisasi kemasyarakatan. Apakah itu karena pergaulan yang salah, kurangnya pendidikan etika, sopan santun di rumah atau sebagai ‘output’ dari kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga, sikap seperti ini terus menjadi trend dimana-mana. Sebagai orang percaya, bagaimana kita seharusnya bersikap kepada pendatang?

Kemarin kita sudah melihat bahwa dimanapun kita berada kita tidak perlu khawatir, karena selain Tuhan sendiri yang akan menjaga kita, Tuhan sudah mengatakan pula bahwa selalu ada umatNya dimanapun kita berada. Itu tertulis dalam Kisah Para Rasul 18:10. Masalahnya, apakah umat Tuhan yang berada di sebuah tempat akan dengan senang hati mengulurkan salam persahabatan kepada pendatang baru? Atau memilih untuk bersikap tidak acuh atau tidak peduli, atau yang lebih parah lagi bersikap negatif, memasang tampang curiga, tidak bersahabat atau malah bersikap kasar? Jika diantara orang percaya masih ada yang mengadopsi sikap seperti ini, mau berapapun jumlah umat Tuhan yang ada disebuah tempat tidak akan membawa manfaat apa-apa. Jangankan menjadi terang dan garam yang memberkati kota, umat yang seperti ini justru akan menjadi batu sandungan bagi orang lain, dan akan menjadi bahan celaan oleh orang-orang yang belum mengenal Yesus.

Ketika ada orang baru yang masih merasa asing pada sebuah lingkungan, kita seharusnya mengulurkan tangan menyambut dan membuat mereka merasa nyaman. Seperti itulah sikap yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan di muka bumi ini. Musa beberapa kali mengingatkan kita akan hal tersebut yang berbunyi: “Orang asing janganlah kamu tekan, karena kamu sendiri telah mengenal keadaan jiwa orang asing, sebab kamupun dahulu adalah orang asing di tanah Mesir.” (Keluaran 23:9). Ayat ini adalah satu dari serangkaian peraturan hak manusia. Perintah yang sama bisa kita baca dalam Keluaran 22:21 mengenai peraturan menghadapi orang yang tidak mampu, juga dalam Imamat 19:33-34. Musa mengingatkan umat Israel pada waktu itu untuk tidak menindas, justru harus mengasihi orang asing. Mengapa? Karena mereka pun pernah merasakan bagaimana rasanya tertindas sebagai orang asing di Mesir. Itu bisa kita baca dalam Imamat yang ayatnya berbunyi: “Apabila seorang asing tinggal padamu di negerimu, janganlah kamu menindas dia.Orang asing yang tinggal padamu harus sama bagimu seperti orang Israel asli dari antaramu, kasihilah dia seperti dirimu sendiri, karena kamu juga orang asing dahulu di tanah Mesir; Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 19:33-34). Ini sebuah peraturan yang mengharuskan kita untuk mengasihi dan memperlakukan orang asing sama seperti yang kita buat terhadap diri sendiri. Jika kita tidak suka diperlakukan tidak adil, tidak nyaman dan kasar, mengapa kita harus berbuat hal seperti itu kepada orang lain?

Kekristenan berbicara soal kasih sebagai inti dari segalanya. Dalam kasih tidak ada hal-hal seperti diskriminasi atau tindakan-tindakan buruk seperti itu. Sebagaimana dua hukum terutama yang diajarkan Yesus, kita harus mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri, termasuk pada orang asing. Hindari pemikiran kaum mayoritas vs kaum minoritas, hindari bentuk-bentuk diskriminasi, hindari pemikiran bahwa kita berkuasa lebih atas mereka hanya karena mereka masih asing atau baru dalam lingkungan kita. Sebagaimana Yesus mengasihi kita, seperti itu pula kita harus mengasihi orang lain. “Dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2). Tuhan ingin anak-anakNya tampil tidak serupa dengan dunia ini, juga hidup dengan kemampuan mengetahui apa yang baik dan berkenan di hadapan Allah. (Roma 12:2).

Ketika ada orang asing atau pendatang baru yang masuk ke dalam kehidupan kita, jangan ikut-ikutan bersikap buruk terhadap mereka seperti kebiasaan orang dunia. Siapapun mereka dan apapun latar belakangnya, sapalah mereka terlebih dahulu. Jika dunia menimbang-nimbang, melihat terlebih dahulu apakah menguntungkan atau tidak, atau malah melarang untuk mengucapkan salam bagi orang yang berbeda dengan mereka, Alkitab justru mengajarkan kita untuk terlebih dahulu menyapa dan memberi salam kepada mereka. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.” (Roma 12:10). Ucapan yang diberikan pun bukan hanya sekedar sapaan biasa tapi kita diminta untuk mengucap berkat atas mereka. “Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: “Semoga kesejahteraan ada di dalammu!” Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.” (Mazmur 122:8-9).  Bagaimana jika orang yang kita sapa dan atasnya kita ucapkan berkat tidak membalas? Tidak masalah, karena kasih dalam kekristenan bukanlah kasih yang pamrih. Perhatikan disekitar anda. Adakah orang baru yang masih merasa canggung atau asing? Siapapun mereka, apapun latar belakangnya, ucapkan selamat datang dan bantu mereka untuk bisa beradaptasi dan nyaman berada dalam lingkungan baru mereka.

Ulurkan salam persahabatan, ucapkan berkat atas mereka dan sambutlah orang baru dengan kasih Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: