Menteri Yohana Prioritaskan Tingkatkan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak

Menteri Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Yohana Susana Yembise

MENTERI Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Yohana Susana Yembise mengaku tengah memprioritaskan peningkatam kualitas hidup perempuan dan anak, selain kerja sama lintas sektoral.

“Hal ini sejalan dengan program ke-5 visi misi presiden yang terangkum dalam Nawacita yang sekaligus terintegrasikan dengan misi kementrian, yakni program peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia,” katanya, di Kota Jayapura, Papua, Kamis lalu.

Menurut dia, beberapa kemajuan telah dicapai dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan yaitu, dalam bidang pendidikan, pencapaian kualitas pendidikan formal bagi perempuan meningkat setiap tahunnya, selain itu, kualitas pendidikan, baik laki-laki dan perempuan terus meningkat pada tingkat dasar dan menengah.

Berkaitan dengan peran perempuan dalam mewujudkan demokrasi yang partisipatif, khususnya pada 2014 ini telah terlihat pada meningkatnya jumlah keterwakilan perempuan yang duduk dalam Kabiner Kerja yaitu ada delapan menteri perempuan.

Sementara, peran perempuan dalam pembangunan ekonomi juga mengalami kemajuan yang ditunjukkan dengan peningkatan partisipasi angkatan kerja perempuan yang terus meningkat setiap tahunnya.

Namun tantangan dan berbagi persoalan masih terus kita hadapi. Diantaranya adalah angka kematian ibu (AKI), HIV/AIDS dan masih tingginya angka kekerasan terhadap perempuan (KtP) dan anak.

Berdasarkan sistem pencatatan pelaporan data kekerasan terhadap perempuan dan anak KPP-PA 2013 dari 20.430 kasus hampir sebagian besar terjadi di ranah domestik dan menurut catatan tahunan Komisi Nasional Perempuan, pada 2014, jumlah kekerasan terhadap Perempuan mencapai 293.220.

“Dari jumlah tersebut, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) merupakan yang paling tinggi,” katanya.

Semua tantangan dan persoalan tersebut dilatar belakangi oleh adanya ketimbang relasi gender yang disebabkan oleh masih tingginya nilai-nilai patriarki dalam masyarakat.

Ketimpangan gender ini memerlukan sebuah pendekatan yang transformatif, yang dapat mengubah atau mentransformasi berbagai unsur yang mendorong terjadinya ketidakadilan, dan budaya yang mempengaruhi perilaku dan kerentanan perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat.

“Kunci penting dari pendekatan transformasi gender ini adalah dengan memastikan adanya pelibatan laki-laki dan anak laki-laki sebagai mitra dan agen perubahan dalam mewujudkan kesetaraan gender,” katanya.

Riset menunjukkan bahwa keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan dakan meningkatkan kualitas hubungan pasangan, menjadikan mereka ayah yang lebih baik dan dapat meningkatkan kualitas hidup keluarga.

Ketika laki-laki lebih terlibat dalam pengasuhan, kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga akan menurun, pemenuhan hak-hak perempuan dan anak akan lebih meningkat.

Keterlibatan seorang laki-laki secara positif dalam keluarga akan mendorong pencapaian keadilan dan kesetaraan gender, bermanfaat bago perempuan dan anak dan juga bagi laki-laki itu sendiri.

Peneilitan juga menunjukkan bahwa pelibatan laki-laki akan berkontribusi positif terhadap kesehatan, baik kesehatan ibu dan anak, dan tentu saja dapat mengefektifkan dampak pembangunan.

“Saya harap inisiatif program laki-laku peduli di Papua ini, dapat memberikan kontibusi positif dalam mendorong terciptanya masyarakat yang adil dan setara di Papua dalam rangka untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan,” katanya.

“Karena kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam pelaksanaan pembangunan, atau laki-laki dan perempuan mengusahakan mitra dalam pembangunan ini, adalah strategi kunci untuk pencapaian tujuan-tujuan pembangunan yang berkeadilan, untuk Indonesia yang lebih baik,” tutupnya.

Sebelumnya, pada Rabu (8/7), Menteri Yohana secar resmi menghadiri ‘Peluncuran Program Laki-laki Peduli’ di Hotel Aston, Kota Jayapura, Provinsi Papua.

Program itu merupakan sebuah upaya untuk mengintegrasikan pelibatan laki-laki ke dalam program kesehatan reproduksi dan program penghapusan kekerasan berbagis gender yang diselenggarakan oleh UNFPA bekerjasama dengan Rutgers WPF. (Antara)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: