Mental Pengemis

Ayat bacaan: 2 Tesalonika 3:12
========================
“Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri.”

mental pengemis

Hari ini saya teringat kepada seorang teman lama yang bercerita bahwa ia sudah dibiasakan bekerja di toko ayahnya sejak masih duduk di sekolah dasar. Pada usia seperti itu ia sudah terbiasa melayani pembeli dan sudah tau mengembalikan uang. Ketika masuk SMP ia sudah bisa menghafal harga-harga dari barang di toko, dan setelah ia tamat kuliah, ia pun melanjutkan usaha ayahnya hingga ke level yang lebih besar dengan beberapa cabang di tempat lain. Mungkin agak ekstrim bagi kita ketika melihat anak sekecil itu sudah diajar bekerja, itu kembali kepada masing-masing orang. Namun satu hal yang saya ingat selalu dikatakan oleh teman saya itu adalah pesan ayahnya berulang-ulang agar ia menjadi pekerja keras dan tidak bermental pengemis. Saya tidak menutup kemungkinan bahwa ada sebagian orang yang tidak bisa melakukan apa-apa lagi padahal ia butuh makan setiap hari. Mau tidak mau mereka terpaksa mengemis. Di tengah kondisi dunia yang sulit seperti ini hal seperti itu mungkin saja terjadi. Tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa ada banyak pula orang yang seharusnya mampu melakukan sesuatu tetapi mereka malas untuk itu. Mereka lebih suka pergi ke saudara atau teman-temannya untuk meminta. Mereka tidak mau repot dan lebih memilih cara yang gampang atau instan. Inilah yang disebut dengan mental pengemis. Dan mental seperti ini seharusnya tidak menjadi bagian dari gaya hidup kita.

Setelah Saulus bertobat dan menjadi Paulus, ia kita kenal sebagai rasul yang radikal. Ia melakukan segalanya demi mewartakan Kerajaan Allah kemanapun ia pergi tanpa mempedulikan lagi kenyamanannya, bahkan nyawanya. Kita tahu bagaimana sibuknya kegiatan Paulus hingga ke Asia Kecil. Tidak jarang pula ia menderita akibat dianiaya, ditangkap dan sebagainya. Kita tentu akan sangat maklum apabila ia memilih untuk tidak bekerja, bukankah ia sudah meluangkan seluruh waktunya sebagai rasul? Tapi ternyata Paulus memiliki pandangan yang berbeda. Ia tidak mau meminta-minta melainkan tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhannya maupun rekan sepelayanannya. “Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku.” (Kisah Para Rasul 20:34-35). Bisakah kita membayangkan bahwa Paulus disamping pergi kemana-mana menghadapi bahaya untuk mewartakan kabar keselamatan masih juga harus membanting tulang bekerja? Itulah yang ia putuskan untuk dilakukan. Ia tidak meminta kepada Tuhan untuk nafkah hidupnya, ia pun tidak meminta kepada orang lain. Ia bekerja dengan tenaga atau tangannya sendiri, dan nyatalah bahwa mental pengemis bukan menjadi bagian dari sikap Paulus.

Karena itulah Paulus pun bisa berkata keras kepada jemaat yang hidup malas. “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. (2 Tesalonika 3:10). Bekerja merupakan hal yang mutlak untuk dilakukan oleh manusia. Lihatlah serangkaian janji berkat dari Tuhan dalam Ulangan 28:1-14 pun diarahkan kepada berkat-berkatNya yang turun atas pekerjaan kita, dan bukan memberikan sesuatu secara instan. Salah satu alasannya jelas, Tuhan tidak menginginkan kita tumbuh dengan mental pengemis. Peringatan Paulus di atas mengacu kepada sikap sebagian jemaat yang lebih memilih untuk tidak bekerja tapi malah sibuk melakukan hal-hal yang tidak berguna. (2 Tesalonika 3:11). Dan selanjutnya Paulus pun mengingatkan kita agar terus bertekun dalam bekerja agar kita bisa mencari nafkah untuk mencukupi diri sendiri. “Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. (ay 12).

Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, ia pun kembali mengingatkan akan hal ini. “Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi baiklah ia bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri, supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. (Efesus 4:28). Kali ini Paulus memberikan sebuah alasan lagi bagi kita untuk bekerja, yaitu agar kita mampu memberi kepada mereka yang membutuhkan. Ketika berkat-berkat Tuhan turun atas pekerjaan kita, semua itu bukanlah untuk disimpan dan dipergunakan sendiri saja. Ada kewajiban kita juga untuk memberi kepada orang lain, dan ini juga jangan dilupakan.

Bekerja keras melakukan pekerjaan yang baik dengan tangan sendiri, seperti itulah yang seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Bukan hanya menunggu diberi, apalagi meminta ke kiri dan ke kanan. Tuhan menuntut keseriusan dalam bekerja, bukan hanya untuk kita sendiri atau pimpinan, tetapi secara spesifik Tuhan pun menuntut kita untuk memberi yang terbaik seperti kita melakukannya untuk Tuhan. (Kolose 3:23). Pengkotbah juga mengingatkan akan hal ini. “Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.” (Pengkotbah 9:10). Selagi masih bisa, selagi masih ada waktu dan kesempatan, selagi masih diberikan kemampuan, tenaga dan otak, marilah kita menjadi pekerja-pekerja yang tangguh. Tuhan akan dengan senang hati memberkati apapun yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh untuk Dia.

Jadilah pekerja keras dan hindari mental pengemis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: