Menolak dan Lari dari Panggilan (1)

Ayat bacaan: Yunus 1:2-3======================”Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia …

Ayat bacaan: Yunus 1:2-3
======================
“Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.”

Sadar atau tidak, setiap orang punya panggilannya masing-masing. Sebagian orang belum mengetahui panggilannya dan masih mencari tahu, sebagian lagi sudah tahu. Tapi dari yang sudah tahu, hanya sedikit sekali yang menjalankan panggilannya dengan serius dan sepenuh hati. Sebagian lainnya masih sibuk berhitung untung rugi dan biasanya cendrung merasa rugi ketimbang untung. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi uang, rugi ini dan rugi itu. Karenanya mereka menolak dan lari dari panggilan. Menunda hingga waktu yang tidak jelas kapan.

Untuk menjawab panggilan memang tidak mudah. Seringkali kita harus meninggalkan zona kenyamanan kita bahkan mengorbankan sesuatu dan masuk ke dalam situasi sulit. Tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa sebuah panggilan bisa menjadi sebuah titik balik yang bisa mengubahkan hidup kita untuk menapak ke arah yang lebih baik, dan tentu saja mendatangkan kebaikan dan berkat bagi orang lain yang bersentuhan dengan panggilan kita.

Apa yang kita sering lupa adalah bahwa Tuhan tidak menyuruh tanpa mempersiapkan. Tuhan tidak menetapkan panggilan bagi setiap kita tanpa menyediakan segala yang kita butuhkan untuk itu. Dia sudah menaruh berbagai bekal yang harus kita kembangkan dan mempergunakannya untuk menjalankan panggilan. Kalau ada yang masih kurang, Dia pula yang akan mempersiapkan. Dari pengalaman saya pribadi saja, misalnya untuk menulis renungan setiap hari untuk anda yang sudah berjalan selama 7 tahun, saya sudah bisa memberi kesaksian akan hal itu. Saat Tuhan pertama kali menanamkan panggilan itu, saya merasa itu adalah panggilan yang tidak masuk akal. Saya belum lama bertobat dan belum mengetahui apa-apa secara mendalam mengenai kebenaran yang terdapat dalam Alkitab. Beruntunglah anda yang punya kakak rohani, karena saya yang bertobatnya belakangan lewat berbagai pengalaman supranatural Ilahi yang luar biasa tidak berakar dimana-mana dan tidak kenal siapa-siapa pada waktu itu. Lantas diberi ‘beban’ untuk menulis setiap hari, apa yang mau ditulis jika situasinya seperti itu? Tapi dengan jelas Tuhan menyatakan bahwa yang Dia butuhkan bukanlah kemampuan saya melainkan kemauan. Kerelaan untuk membagi sedikit waktu untuk penyebaran berita gembira dari KerajaanNya buat teman-teman yang surfing di internet.

Saya bisa saja menolak, dan itu rasanya akan lebih masuk akal, tetapi saya memutuskan untuk taat. Saya tidak tahu apakah saya bakal sanggup, ditengah pekerjaan yang menggunung, koneksi yang seringkali tidak bersahabat, dan ketidaktahuan saya secara mendalam tentang firman-firman Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan memang mempersiapkan segalanya. Apa yang terjadi memang demikian. Saat Dia menyuruh, Dia menyediakan dan mempersiapkan. 7 tahun dan masih terus berjalan. Yang luar biasa, selama saya aktif menulis, saya mengalami dan menyaksikan begitu banyak mukjizat yang tidak akan mampu terselami akal manusia. Ada banyak orang yang dipulihkan, mengalami kesembuhan dan yang terpenting, masuk ke dalam janji keselamatan. Kredit untuk saya? Tidak. Saya hanya menjalankan panggilan saya, dan bersukacita saat Tuhan bisa menjamah banyak orang lewat panggilan saya. He, Himself that does the work, through us. All He need is our willingness, obedience and faith. Kerelaan, kepatuhan dan iman kita.

So, what should we do if God calls me to do something? Apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu? Menerima dengan sukacita atau malah lari karena merasa tidak sanggup, pemikiran akan berbagai kerugian dan alasan lainnya? Yang Tuan mau sesungguhnya jelas. Tuhan menginginkan kita untuk taat terhadap panggilanNya. Melarikan diri jelas bukan pilihan, karena biar bagaimanapun Tuhan bisa memakai caraNya untuk menundukkan kekerasan orang-orang yang dipilihNya. Bisa dengan cara lembut maupun dengan didikan yang keras. Bicara soal keras, Yunus mengalami hal itu.

Mari kita lanjutkan renungan kemarin dengan mundur ke awal kisahnya. Yunus pada suatu hari mendapatkan panggilan secara spesifik dari Tuhan. “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” (Yunus 1:2). “Niniwe, kota yang penuh orang jahat dan sangat memusuhi bangsa Israel. Jai untuk apa diselamatkan? “Untuk apa aku harus repot-repot menghadapi resiko untuk menyelamatkan kota yang seperti itu?” seperti itulah kira-kira isi pikiran Yunus. Dan lihat, ia memutuskan untuk lari.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply