Menjauhkan Hukuman atas Bangsa

Ayat bacaan: Yoel 2:13==================”Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.”Layaknya sebuah perjalana…

Ayat bacaan: Yoel 2:13
==================
“Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.”

Layaknya sebuah perjalanan hidup kita, perjalanan hidup bangsa dan negara pun penuh liku-liku dengan suka dan dukanya sendiri. Ada puluhan bahkan ratusan juta orang yang tinggal disana dengan tingkahnya masing-masing, tipe pemimpin pun berganti-ganti. Jika yang memimpin dan dipimpin mau bahu-membahu menyelesaikan berbagai permasalahan bangsa dan memiliki roh yang takut akan Tuhan, apapun masalah yang dihadapi bisa segera terselesaikan. Disanapun Tuhan akan menjauhkan penghukuman dan akan menurunkan kasih setiaNya dengan berlimpah. Terkadang bisa jadi kita salah mengambil keputusan. Apa yang penting untuk diingat apabila kita sudah terlanjur salah dalam melangkah adalah tidak mempertahankan kesalahan dan malah melanjutkannya kepada sekuens kesalahan berikutnya tetapi segera menyadari dan bergegas untuk berbalik arah dan kembali kepada jalan yang benar.

Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana Daniel mendoakan bangsanya dengan mengambil posisi bukan sebagai orang luar tetapi sebagai bagian dari bangsanya sendiri dengan menggunakan kata ‘kami’ dalam doanya dan bukan ‘mereka’ yang tertulis dalam Daniel 19:1-9. Meski Daniel tidak ikut-ikutan berbuat kejahatan, tapi ia menyadari bahwa ia adalah satu dari sekian banyak orang yang hidup disana dan oleh karenanya sebagai orang benar ia mengambil bagian untuk mendoakan bangsanya, agar kiranya murka Allah menjauh dari bangsanya. Doa orang benar yang didoakan dengan yakin itu besar kuasanya (Yakobus 5:16), maka peran aktif orang percaya untuk mendoakan bangsanya akan sangat penting, selain tentunya turut berperan serta secara aktif dengan bentuk-bentuk perbuatan nyata yang sesuai dengan ketetapan Tuhan.

Contoh lainnya ada dalam kitab Yoel. Disana kita bisa melihat bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang jatuh atas bangsa Yehuda. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak, sehingga mereka tidak bisa lagi mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Menyikapi hal ini, Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah meninggalkanNya dan seperti Daniel, Yoel pun berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk melakukan tiga hal: meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13) dan  puasa (ay 14). Yoel menyerukan agar bangsa Yehuda yang sudah terlanjur tersesat untuk segera berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak, seperti yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.” (Yoel 2:13). Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak punya kekuatan untuk mendorong Tuhan menghentikan hukuman kemudian mengembalikan belas kasihNya secara berlimpah untuk turun atas umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Kita bisa saja berdalih bahwa sebagai kaum minoritas yang kerap mengalami tekanan dan ketidak-adilan, maka apapun yang diusahakan tidak akan bisa berdampak besar dalam mengatasi kondisi bangsa yang carut marut. Ini adalah pemikiran yang keliru, karena dari kisah Abraham dan kota Sodom saja kita bisa melihat bahwa jumlah orang percaya yang benar meski hanya 10 orang saja akan mampu membuat Tuhan mengurungkan niat untuk menghabisi kota tersebut beserta orang-orangnya. Itu bisa kita baca dalam Kejadian 18:16-33. Bayangkan sebuah kota yang sudah begitu parah kerusakan moralnya seperti Sodom saja bisa beroleh pengampunan jika ada orang yang benar-benar hidup menurut ketetapanNya disana. Artinya kita pun bisa melakukan sesuatu bagi bangsa ini, seandainya umat Allah yang hidup di dalamnya mau benar-benar hidup dengan benar, tidak menyimpang dari ketetapanNya melainkan melakukan semuanya dengan taat, bukan malah ikut-ikutan berbuat hal-hal buruk atau malah lebih parah dari perilaku jahat orang-orang yang tidak mengenal atau tidak takut akan Tuhan.

Ketika kita mendapati bangsa kita ada ditengah situasi sulit, terbelit masalah ekonomi, kesulitan hidup, kecelakaan bahkan bencana, lewat kitab Yoel ini kita bisa belajar sesuatu. Periksalah cara hidup, tingkah laku dan perbuatan. Apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan, mentaati dan memprioritaskanNya dalam perjalanan hidup kita? Sudahkah kita mendengarkan Tuhan dengan serius karena kita sungguh mengasihiNya, atau kita tanpa sadar sudah begitu jauh menyimpang dari jalanNya? Seringkali kita terlalu mudah menyalahkan orang lain, tidak mau turut serta tapi hanya menimpakan kepada pemimpin, atau malah dengan berani menyalahkan Tuhan. Rentang jarak pemisah untuk datangnya pertolongan Tuhan bisa timbul sebagai akibat dari jarak antara perbuatan kita yang penuh dosa dengan tahtaNya. Alangkah baiknya sebelum menyalahkan siapa-siapa, kita terlebih dahulu melihat kembali dimana kita ada saat ini. Tidak pernah ada kata terlambat untuk bertobat. Bahkan dalam keadaan sangat hancur seperti bangsa Yehuda diatas sekalipun, belumlah terlambat untuk bertobat karena Tuhan akan segera mengampuni dan melimpahkan berkatNya segera begitu kita berbalik kembali kepadaNya. Kita harus datang menghampiriNy dengan hati terkoyak, hati yang hancur, yang berarti dengan segala kesungguhan meninggalkan segala perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Ingatlah bahwa “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19). Tuhan penuh kasih setia yang berlimpah dan tidak terbatas. Kesungguhan kita akan menjauhkan murkaNya dan mendatangkan berkatNya kepada bangsa.

Peran orang percaya yang benar sangat diperlukan untuk membenahi bangsa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply