Menjauh dari Keramaian

Ayat bacaan: Matius 6:6
==================
“Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

menjauh dari keramaian

Dunia semakin lama semakin padat. Tahun depan diperkirakan jumlah penduduk dunia bisa mencapai tujuh milyar jiwa. Lebih dari empat milyar diantaranya tinggal di Asia, dan Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar ke-4 dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 240 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, bisa dibayangkan hampir-hampir tidak ada lagi tempat yang sepi terutama di kota-kota besar. Kemanapun kita pergi kita hampir selalu berpapasan dengan orang lain. Suasana hiruk pikuk, antrian di pusat-pusat perbelanjaan, lokasi perparkiran yang penuh, semua menunjukkan betapa padatnya dunia saat ini. Lalu televisi, radio, berbagai rapat, tugas menumpuk, pekerjaan dan sebagainya, itupun menjadi sebuah rutinitas tersendiri yang membuat kita sulit menemukan waktu-waktu dimana kita bisa bersekutu dengan Tuhan secara khusus. Pentingkah untuk mengambil waktu khusus sejenak di tempat yang jauh dari keramaian, dan memakainya berdiam bersama Tuhan, merasakan hadiratNya, berbicara denganNya terlebih untuk mendengarNya? Sangat penting. Dan Yesus sendiri dalam banyak kesempatan menunjukkan langsung pentingnya hal itu.

Ketika kita membaca keempat kitab Injil, maka kita akan menemukan bagaimana sibuknya Yesus ditengah kerumunan banyak orang kemanapun Dia pergi. Orang akan berbondong-bondong mendatangiNya, bahkan hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya. Betapa dunia pada saat itu benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi kesembuhan atau kelepasan seperti halnya dunia yang kita tempati hari ini. Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan misalnya. Berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. “Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka.” (Matius 14:13). Yesus tidak mengabaikan saja mereka. Dikatakan, “maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit.” (ay 14). Dan mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang (yang terhitung baru pria, belum wanita dan anak-anak) pun merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia. Pada kesempatan lain kita mendapati contoh lain: “Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka.” (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa henti. Rakyat biasa, para rasul, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan dijauhi seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah dan lain-lain, bahkan keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya. Menghadapi semua ini Yesus dengan sabar melayani satu persatu dan menjawab tangisan mereka. Tetapi lihatlah bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa, mendengar suara Bapa. Kalau perlu malah Yesus rela repot-repot untuk naik ke atas bukit untuk bisa mendapatkan suasana hening dan tenang, jauh dari kerumunan dan keramaian.

Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus yang terkenal itu. “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ.” (Matius 14:23). Atau lihat pula ketika Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop “Pencobaan di padang gurun.” (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk berdoa sendirian di taman Getsemani. (Markus 14:32-42). Disana dikatakan “Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa.” (ay 14a(BIS)). Semua ini menggambarkan pentingnya untuk mengambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk berdoa, merenung dan mendengar Tuhan, sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.

Jika Yesus Kristus saja menunjukkan pentingnya mencari kesunyian dan ketenangan untuk berhubungan dengan Tuhan, bukankah ini artinya merupakan hal yang sangat penting pula bagi kita? Bukan saja lewat contoh, tetapi Yesus pun sudah mengingatkan langsung sebelum Dia mengajarkan doa Bapa Kami. “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Matius 6:6). Mengapa harus menutup pintu dan berdoa di tempat tersembunyi? Itu semua agar kita bisa benar-benar fokus, just you and God alone, untuk merenungkan kebaikanNya, mendengar apa kataNya kepada kita, dan berbicara dari hati ke hati tanpa harus terganggu atau terpecah konsentrasi dari kesibukan di sekitar kita. Menghadapi perjalanan kehidupan yang berat ini kita benar-benar butuh pegangan, dan Tuhan menyediakan itu. Kita harus benar-benar menyadari pentingnya sebuah kekuatan dan perlindungan dari Tuhan agar mampu melewati setiap masa sulit hingga garis akhir fase kehidupan kita di dunia ini.

Sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai rapat, tugas, atau berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih saja mengenyahkan saat-saat teduh dan waktu-waktu kita untuk berdoa serta bersekutu intim dengan Tuhan? Kita tidak perlu melakukan perjalanan hingga empat puluh hari masuk ke padang gurun demi meluangkan saat teduh bersama Tuhan. Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk itu. Sebenarnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus, dan rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk mendengar suaraNya.

Jangan abaikan mengambil waktu khusus untuk mendengar suaraNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply