Menjaring Gadis Millenial Masuk Biara, 10 Remaja Diajak Gathering dan Live in di Postulat-Novisiat SFIC (1)

10 gadis millenial berpartisipasi dalam program internal SFIC gathering-live in di Postulat-Novisiat SFIC di Pontianak. (Sr. Maria Seba SFIC)

GENCARNYA gerakan aksi promosi panggilan yang dilakukan oleh berbagai ordo atau tarekat, khususnya di  Keuskupan Agung Pontianak-Kalimantan Barat, akhir-akhir ini  telah menjadi trending topic yang ramai diberbincangkan.


Gaung  jejak aksi kaum berjubah ini semakin berhembus kuat, ketika baru-baru ini sebanyak 23 ordo/tarekat menggelar  kegiatan aksi panggilan akbar dalam rangka merayakan Hari Minggu Panggilan Sedunia ke-55 di Paroki Keluarga Kudus Kota Baru, 20-22 April 2018 yang lalu.


Tentu,  hal ini pertama-tama bertujuan untuk  menyikapi menurunnya jumlah panggilan disertai harapan bahwa di zaman millenial ini tetap ada muda-mudi yang tertarik menjadi imam, bruder dan suster.


SFIC “jemput bola”


Geliat aksi penjaringan calon ini juga dilakukan oleh Tim Animator Panggilan Kongregasi Suster Fransiskus dari Perkandungan Tak Bernoda Bunda Suci Allah (SFIC) Provinsi Indonesia, tepatnya di Pontianak.


Gerak dan menyanyi sebagai pengantar kebekuan bergaul terjadi di awal pertemuan gathering-live in bersama 10 gadis millenial dari berbagai daerah berbeda-beda di Rumah Retret Wisma Immaculata di Kota Pontianak.

Setiap tahun, tim inti berjumlah 4 suster medior ini mengelar program internal  yaitu ajang pengenalan Kongregasi bagi para simpatisan yang berniat untuk mengenal kehidupan membiara melalui Kongregasi Suster SFIC.


Kali ini,  tim sukses  berhasil ‘menjaring’ 10 remaja potensial dan simpatisan yang berasal dari berbagai macam latar-belakang suku, budaya, adat-istiadat, dan bahasa yang berbeda.


Berikut ini adalah nama-nama ke-10 gadis millenial yang berani memenuhi undangan Kongregasi SFIC untuk mengikuti program pengenalan internal melalui gathering dan live in di Postulat-Novisiat SFIC di Jl. AR Hakim, Kota Pontianak.

Pausta Mita asal Paroki Gembala Baik Kuala Dua, Keuskupan Sanggau.Fransiska Melisa asal Paroki Pakumbang, Keuskupan Agung Pontianak.Paula Velianty asal Paroki Pusat Damai, Keuskupan Sanggau.Tarlia Marsedes asal Paroki Salib Suci Ngabang, Keuskupan Agung Pontianak.Utap asal Paroki Entikong, Keuskupan Sanggau.Jubilia Inge Agustin asal Paroki Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak.Ayu Andira asal Paroki Pahauman, Keuskupan Agung Pontianak.Agnes Indrisari Yuliana asal Paroki Saluampak Palopo, Keuskupan Agung MakasVera Lusiana asal Paroki St. Maria Nyarumkop, Keuskupan Agung Pontianak.Vebriani Lidia Kusmayani asal Paroki St. Maria Nyarumkop,Keuskupan Agung Pontianak

Selain 4 suster medior yang menjadi tim inti promosi panggilan Kongregasi SFIC (Sr. Rufina SFIC, Sr. Laura SFIC, Sr. Serlina SFIC dan Sr. Maria Seba SFIC), ikut  hadir dalam program gathering-live in ini adalah  Provinsial SFIC, Sr. Irene.


Biarawati asal desa Perontas Paroki Pusat Damai Keuskupan Sanggau ini dipercayakan untuk menyampaikan materi pertemuan para simpatisan yang dilaksanakan di Rumah Retret Wisma Immaculata Pontianak 28 April 2018.


Tema materi yang dibawakan adalah tentang pilihan hidup dan lebih khususnya pilihan menjadi suster biarawati SFIC.


Sr. Irene SFIC, Provinsial Kongregasi SFIC Provinsi Indonesia, tengah memberi paparan.

Dalam paparannya,  Suster Provinsial mengatakan beberapa pokok ini.  Apa pun bentuknya, bagaimana pun caranya hingga 10 gadis pemberani ini mau  datang ke Postulat-Novisiat SFIC, itu adalah bukti nyata keinginan mereka ingin mengenal SFIC lebih dekat. Itu juga merupakan satu bukti,  mereka ini  memang sungguh dipanggil.


“Tuhan memanggil kalian melalui berbagai cara, bisa melalui perjumpaan dengan suster tertentu dan sebagainya. Jangan ragu untuk menjawab panggilan-Nya,” ungkap Sr. Irene di hadapan 10 partisipan.


Dalam kesempatan ini juga, Tim Animator Panggilan SFIC yang diwakili oleh Sr. Laura SFIC menyampaikan presentasi singkat tentang apa dan bagaimana itu Kongregasi SFIC. 


Kesan gadis millenial


Dalam pertemuan ini ada sesi tanya jawab.  Bagian ini merupakan sesi  seru, karena mereka boleh bertanya apa saja terkait hidup panggilan membiara khususnya sebagai suster biarawati SFIC.


Vera: Paroki Nyarumkop, Keuskupan Agung Pontianak


Ia mengatakan, keinginannya untuk mau mengenal SFIC karena atas dorongan dari seorang pastor Kapusin di parokinya.


“Saya penasaran. Rasa ingin tahu saya mengebu-gebu, ketika Pastor Felix OFMCap menantang saya untuk datang ke SFIC,” ungkapnya.


Agnes: Paroki Saluampak Palopo, Keuskupan Agung Makassar, Sulsel


Gadis ini rela sejenak meninggalkan kampung halamannya yang jauh, setelah hatinya ‘tergelitik’ oleh seruan panggilan Tuhan yang dia sendiri tidak mampu menghindar.


“Saya yakin ini adalah sungguh panggilan Tuhan, sehingga saya kok jauh-jauh mau dan telah bisa datang ke Pontianak, padahal di paroki saya banyak juga kongregasi suster-suster, tetapi mengapa saya jatuh cinta dengan SFIC,” ungkapnya mantap.


Mengenal Kongregasi Suster SFIC dari dekat dengan datang dan melihat cara hidup mereka di Postulat-Novisiat SFIC di Kota Pontianak.

Utap: Paroki Entikong, Keuskupan Sanggau


Ia mengatakan dirinya  tertarik ingin menjadi suster,  karena setiap hari Minggu melihat para suster membantu para pastor membagikan komuni kudus.


”Entah mengapa, kok saya tertarik ketika melihat para suster dengan jubahnya yang anggun maju ke altar mengelilingi altar membantu para pastor membagikan komuni kepada umat,” demikian kisahnya.


Berani ambil keputusan 


Menjawab Sesawi.Net, Sr. Irene SFIC berharap bahwa semoga dengan pertemuan ini, mereka diharapkan mulai mampu memutuskan pilihan hidupnya, melepaskan kelekatan diri-sekalipun di tahap awal ini upaya pelepasan ini sama sekali tidak mudah.


Setelah mengenal lebih dekat Kongregasi Suster SFIC, diharapkan 10 gadis millenial ini mulai berani memutuskan untuk perjalanan hidup selanjutnya.

Kemudian, kata Sr. Provinsial SFIC, mereka juga mulai bisa mengarahkan hati kepada Allah yang memanggil mereka secara pribadi.


Kemampuan melakukan apa yang disebut ‘pelepasan’ diri dari aneka bentuk kelekatan dan cinta diri di masa lalu dan kemudian  mulai mengenakan Cinta Kristus bersemangat Fransiskan. Semoga harapan tersebut akhirnya menjadi niat yang harus mereka wujudkan, kini dan di sini, melalu tahapan formasi awal.


“Jikalau itu berhasil dilakukan, maka mereka sendiri akan mengalami sebuah kelimpahan hidup, mengalami kekayaan hidup yang tak terkirakan, sekalipun masih dalam tahap awal,” ungkap Sr. Irene SFIC mengakhiri pertemuan. (Berlanjut)

Suster biarawati SFIC (Sororum Franciscalium ab Immaculata Conceptione a Beata Matre Dei) kelahiran Lubuk Sabuk, Sanggau; sekarang ditugaskan belajar di Politeknik Tonggak Equator Jurusan Business English and Management di Pontianak, Kalbar.

Sumber: Sesawi

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: