Menjadi Wakil Tuhan Dalam Kaitan Kita Sebagai Mahluk Sosial

Ayat bacaan: Markus 6:7-8===================”Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat…

Ayat bacaan: Markus 6:7-8
===================
“Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan”

Suatu kali ketika saya meliput, saya bertemu dengan seorang yang saya kenal yang kini sudah menjadi wartawan di sebuah media besar. Ketika ngobrol, ia menjelaskan bahwa batas tugasnya yang seharusnya hanya sampai jam delapan malam harus molor karena meliput event musik besar ini. Oleh sebab itu ia pun meminta uang lembur. Itupun hanya sampai jam setengah dua belas saja, dan harus tepat karena ia tidak mau rugi. “Bahkan seharusnya saya mempergunakan taksi untuk pulang, supaya perusahaan mengeluarkan lagi uang ongkos untuk saya.” katanya sambil tertawa. Lucunya, disana ia hampir-hampir tidak mengerjakan tugasnya meliput. Setiap saya kembali ke ruang pers, ia masih tetap disana duduk santai dan melihat semua hasil liputan saya untuk disadur. Saya menyayangkan sikapnya karena seharusnya ia bangga dipilih untuk meliput momen besar dan memberi hasil terbaik, apalagi kalau mengingat ia sudah dibayar ekstra untuk menunaikan tugas ini. Bahkan ketika saya ingatkan, sambil bercanda ia mengira saya pelit berbagi liputan dengannya.

Menjalankan tugas mewakili sebuah instansi, lembaga atau negara seharusnya merupakan sebuah kebanggaan. Tapi ternyata banyak orang yang lupa akan hal ini. Bukannya bangga, tapi malah lebih tertarik untuk berhitung untung rugi atau memanfaatkan itu untuk memperoleh sesuatu yang lebih. Bagi perusahaan, lembaga atau negara, mengongkosi wakil yang dikirim tentu wajar. Dan sah-sah saja memang bagi yang mewakili untuk menuntut hak atas itu, selama ia melakukan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Tapi ada satu hal yang unik yang terjadi pada saat Yesus mengutus kedua belas muridNya untuk melakukan tugas seperti yang ia sudah jalani, seperti yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini.

Demikian bunyi ayatnya: “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan” (Markus 6:7-8). Apa yang dilakukan Yesus cukup unik. Dia mengutus murid-muridNya berdua-dua alias berpasangan, dan melarang mereka membawa apapun, termasuk bekal dan uang. Coba anda bayangkan seandainya anda mendapat tugas mewakili sebuah perusahaan besar atau negara. Anda tentu akan dibekali lebih dari cukup, kalau tidak mewah. Tugas dari Yesus kepada murid-muridNya ini merupakan bentuk utusan Tuhan, untuk sebuah tugas Kerjaan Allah. Kalau dipikir-pikir, untuk tugas biasa dari atasan yang orang biasa juga kita bisa jadi protes kalau ditugasi tanpa dibekali apa-apa. Katakanlah orang yang diutus pemimpin sebuah negara, dia pastilah harus tampil rapi, kalau bisa dengan stelan jas mewah dan berpenampilan ekstra keren. Bagaimana dengan sebuah tugas dari Tuhan? Lupakan soal penampilan yang keren. Tuhan Yesus malah melarang utusan-Nya membawa bekal.

Sepintas ayat ini terkesan aneh kalau dipikir dengan menggunakan logika. Tapi kalau kita cermati baik-baik, sesungguhnya ada tiga hal penting yang ingin diajarkan Yesus lewat hal ini.
Pertama, Yesus mendidik para muridNya untuk percaya sepenuhnya pada Dia. Tidak bergantung pada harta, materi dan atribut-atribut duniawi lainnya, tapi berharap penuh pada apa yang disediakan Allah buat mereka.
Kedua, segala kemewahan mudah untuk membuat orang berubah menjadi sombong, tapi sebagai murid Yesus, kita harus selalu berpegang pada kasih setia Allah dan itu akan menjaga kita terhindar dari kesombongan.
Ketiga, Yesus tahu bahwa sebagai manusia, para murid-muridNya, termasuk kita, bisa setiap saat menjadi lemah, terkadang bisa hilang motivasi, lelah dan sebagainya, maka Dia mengutus berpasang-pasangan, bukan sendirian, agar bisa saling membantu dan menguatkan.

Untuk poin ketiga ini, kita bisa melihat bahwa Yesus menunjukkan hakekat manusia seperti yang ada di benak Allah saat menciptakan. Manusia sejatinya tidak diciptakan untuk menjadi mahluk individual yang hidup sendiri melainkan sebagai mahluk sosial. Kita tidak akan bisa berbuat banyak kalau hanya melakukan apa-apa sendirian. Talenta yang berbeda-beda diberikan Tuhan kepada masing-masing pribadi, yang kalau disatukan akan mampu menghasilkan karya-karya atau pekerjaan-pekerjaan besar. Lebih dari kebutuhan lainnya, Tuhan Yesus menunjukkan bahwa dengan berdua itu jauh lebih baik dari sendirian. Itu sejalan dengan ayat berikut: “Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!” (Pengkotbah 4:9-10). Selain itu Yesus sendiri sudah berkata: “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”(Matius 18:20). Oleh karena itu menjalani hidup sesuai hakekat sebagai mahluk sosial sangatlah penting untuk diperhatikan.

Tugas mewartakan kasih Tuhan Yesus, mewartakan siapa pribadi Yesus kepada saudara-saudara kita bukanlah tugas ringan. Tapi bukan pula tugas yang tidak mungkin dilakukan. Jika kita mengalami kasih Yesus dan bersungguh-sungguh dalam komitmen mengabarkan Injil, kitapun akan mendapat kekuatan dari Allah. Dan ingatlah agar maksimal, akan sangat baik apabila dilakukan dalam kapasitas sebagai mahluk sosial dengan membangun hubungan bersama anak-anak Tuhan lainnya. Menjalankan Amanat Agung sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi ini sesungguhnya merupakan sebuah kehormatan, karenanya lakukan yang terbaik agar kita berfungsi dengan benar.

Bukan karena kekuatan kita, bukan karena materi dan kepemilikan benda, tapi karena kuasa Tuhan bekerja atas kebersatuan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply