Menjadi Tontotan Orang

tatapan“Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.” (Ibr10, 32-33) SAAT  evakuasi kurban tanah longsor di Desa Jemblung, seorang relawan bercerita bahwa dirinya nekat menyemprotkan air kepada kerumunan banyak orang, karena mereka hanya menonton dan mengganggu proses evakuasi para kurban. Tanah longsor dan para kurban dijadikan tontonan banyak orang. Sebetulnya media TV sudah menyuguhkan banyak acara yang bisa dijadikan tontonan bagi banyak orang. Kelompok seni dan budaya juga menampilkan pementasan yang bisa dijadikan tontonan. Banyak pengusaha sering menggelar pameran berbagai macam produk dan banyak orang menjadikannya tontonan. Banyak orang juga sering pergi ke mall atau pusat-pusat perbelanjaan sekedar ‘cuci mata’ atau membeli produk yang ditawarkan. Banyak hal bisa dijadikan tontonan, entah berupa barang atau peristiwa tertentu. Bahkan sesame manusia pun sering dijadikan tontonan oleh banyak orang. Orang-orang yang tergolong dalam kelompok ‘bintang, selebritis, tokoh, pemuka’ sering menjadi ‘sorotan mata’ banyak orang. Banyak orang menonton sikap, perilaku dan kiprahnya. Yang sering memprihatinkan adalah sesama yang sedang menderita atau menjadi kurban pun sering dijadikan tontonan. Banyak orang datang, berkerumun sekedar untuk menonton situsi yang ada sambil bertanya bagaimana, mengapa, kapan, siapa atau apa yang menyebabkan, dsb. Setelah puas mendapat informasi terus pergi tanpa berbuat sesuatu untuk para kurban. Sejauh mana, saya sering menonton dan menjadikan orang lain sebagai tontonan? Pernahkah saya pun dijadikan tontonan oleh banyak orang? Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

tatapan

“Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat, baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.” (Ibr10, 32-33)

SAAT  evakuasi kurban tanah longsor di Desa Jemblung, seorang relawan bercerita bahwa dirinya nekat
menyemprotkan air kepada kerumunan banyak orang, karena mereka hanya menonton dan mengganggu proses evakuasi para kurban. Tanah longsor dan para kurban dijadikan tontonan banyak orang.

Sebetulnya media TV sudah menyuguhkan banyak acara yang bisa dijadikan tontonan bagi banyak orang. Kelompok seni dan budaya juga menampilkan pementasan yang bisa dijadikan tontonan.
Banyak pengusaha sering menggelar pameran berbagai macam produk dan banyak orang menjadikannya tontonan. Banyak orang juga sering pergi ke mall atau pusat-pusat perbelanjaan sekedar ‘cuci mata’ atau membeli produk yang ditawarkan. Banyak hal bisa dijadikan tontonan, entah berupa barang atau peristiwa tertentu. Bahkan sesame manusia pun sering dijadikan tontonan oleh banyak orang.

Orang-orang yang tergolong dalam kelompok ‘bintang, selebritis, tokoh, pemuka’ sering menjadi ‘sorotan mata’ banyak orang. Banyak orang menonton sikap, perilaku dan kiprahnya. Yang sering memprihatinkan adalah sesama yang sedang menderita atau menjadi kurban pun sering dijadikan tontonan.

Banyak orang datang, berkerumun sekedar untuk menonton situsi yang ada sambil bertanya bagaimana, mengapa, kapan, siapa atau apa yang menyebabkan, dsb. Setelah puas mendapat informasi terus pergi tanpa berbuat sesuatu untuk para kurban.

Sejauh mana, saya sering menonton dan menjadikan orang lain sebagai tontonan? Pernahkah saya pun dijadikan tontonan oleh banyak orang?

Teman-teman selamat pagi dan selamat berkarya. Berkah Dalem.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply