Menjadi Single Mother (2)

< ![endif]-->

YANG pasti, butuh kekuatan hati dan daya juang yang amat tinggi untuk menjalani hidup sebagai SM.

Ada sekian banyak masalah konkret yang harus dipikulnya.

Dari bagaimana mengurus akte lahir bagi anaknya, bagaimana seyogianya menjaga relasi dengan keluarga besar suami meski sudah berpisah, bagaimana caranya memperoleh penghasilan yang layak agar dapat menghidupi dan menyekolahkan anak-anak, bagaimana menghindari atau menghadapi pelecehan seksual yang kerap ditujukan padanya sebagai SM, bagaimana mendampingi anak saat mendapat perlakuan diskriminatif dari teman-temannya, sampai bagaimana mengobati luka batin dalam dirinya sendiri maupun anak-anaknya.

Disamping membuktikan kepada lingkungan sekitar bahwa meski statusnya janda, dirinya bukanlah perempuan kesepian, apalagi murahan, yang patut dicurigai bakal merusak rumah tangga atau merebut suami orang lain.

Dampak psikis pada anak

Seperti diakui DR E. Kristi Purwandari MHum, narasumber yang sejak awal selalu setia mendampingi SMC, anak-anak SM akan mengalami banyak masalah. Dari rasa malu, bingung tak tahu harus berpihak ke mana, marah luar biasa kepada ayah yang meninggalkan keluarga, sekaligus kecewa pada ibu yang dinilainya tidak berusaha maksimal untuk mempertahankan ayahnya.

Menurut Kristi yang menjadi pengasuh rubrik Psikologi di Harian Kompas, tumpukan masalah mau tidak mau harus dihadapi oleh anak-anak yang dibesarkan SM. Dari status hukum sampai stigma buruk masyarakat, terutama terhadap anak SM tidak menikah. Tekanan yang dihadapi anak SM, baik di sekolah maupun di sekitar rumah, tidaklah ringan.

single mother 2

Setidaknya pertanyaan seputar keberadaan sosok ayah akan sering mampir di telinga anak dan tak jarang menorehkan luka batin yang mendalam.

Contohnya, “Kamu enggak punya bapak ya? Memangnya kamu anak haram? Kalau kamu memang punya bapak, terus bapakmu sekarang di mana? Kenapa kamu dan bapakmu enggak tinggal serumah?” Masih ada banyak pertanyaan serupa yang membuat anak SM harus menelan kepahitan hidup.

Setali tiga uang dengan kondisi di sekolah. Salah satu contohnya adalah ketika ketika guru marah besar kepada si anak SM yang masih duduk di bangku TK/SD gara-gara ia tak menampilkan sosok ayah saat diminta menggambarkan pohon keluarga. “Kamu ini gimana sih? Namanya keluarga ya harus ada bapak-ibu dan anak!” Hmm… haruskah anak diajar untuk belajar berbohong kalau dalam kesehariannya anak memang hanya didampingi oleh ibu, tanpa kehadiran ayah?

Tekanan psikis yang kurang lebih sama beratnya juga dialami anak-anak dari SM ketika mereka berangkat dewasa. Sangat mungkin teman lawan jenisnya akan menjauh begitu tahu status perkawinan orangtuanya. Padahal kandasnya perkawinan orangtua sama sekali bukan kesalahan anak SM.

Idih, ogah banget gue jadi pacarlu! Bokaplu enggak bener tukang selingkuh gitu, jangan-jangan lu juga tukang selingkuh! Namanya anak, lu kan pasti nurun sifat bokap lu!”

Itulah mengapa, harap dimaklumi kalau anak-anak SM kerap enggan mengungkap jati dirinya.

Tanpa pendampingan dari ahli yang memahami psikologi perkembangan, anak-anak SM pasti akan merasa sangat malu untuk mengakui bahwa dirinya adalah anak SM. Sementara terlukanya perasaan anak-anak, akan terasa lebih menyakitkan bagi para SM ketimbang gosip tetangga dan rekan kerja tentang dirinya yang sendirian.  (Bersambung)

Photo credit: Anak-anak miskin di permukiman tradisional etnis Vietnam di Sapa — tapal batas Vietnam Utara – China (Mathias Hariyadi)

Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: