Menjadi Single Mother (1)

< ![endif]-->

BANYAK hal menarik yang bisa dipetik dari diskusi bersama SMC (Single Mothers Community) yang mengusung topik “Bela Rasa dalam Keluarga”.

Seperti apa kondisi faktual yang harus dihadapi single mother (SM) dan bagaimana  solusinya, terungkap dalam sesi tanya jawab bersama para narasumber dalam diskusi yang berlangsung di aula Susteran Gembala Baik, Jatinegara, beberapa waktu lalu.

Lalu siapa yang disebut single mother?  Tak lain adalah para ibu yang karena berbagai sebab harus memikul tanggung jawab sebagai orangtua tunggal bagi anak-anaknya.

Penyebabnya, bisa karena ditinggal mati oleh suami tercinta, perpisahan/perceraian yang mengharuskan mereka menjadi kepala keluarga, atau para gadis yang sampai pada keputusan untuk meneruskan kehamilannya meski terpaksa melahirkan dan membesarkan anak tanpa suami.

Mengingat para ibu yang terpaksa menjanda karena kematian sudah memiliki komunitas sendiri, SMC yang antara lain diprakarsai oleh Suster Caecilia RGS, hanya memfokuskan pelayanan dan pendampingan pada dua kelompok terakhir, yakni SM yang terpaksa berpisah/bercerai atau ditinggal begitu saja oleh suami, serta SM yang memang memutuskan tidak menikah.

La Vang menangis

Tidak enak

Jujur, siapa pun pasti berangan-angan hidup perkawinannya akan dipenuhi dengan kebahagiaan sebagai keluarga utuh, ayah-ibu-anak. Perempuan mana sih yang mengharapkan relasinya dengan pria pujaan hati bakal bermasalah hingga rencana perkawinannya kandas atau keluarganya akan berantakan di tengah jalan? Tak ada bukan?

Namun fakta bicara lain kala suami (atau calon suami) tercinta meninggalkannya begitu saja dengan sejuta alasan yang terkesan dicari-cari atau malah menghilang tanpa kabar berita.  Padahal ada anak-anak (atau janin) yang harus dilahirkan, dididik dan dibesarkannya dengan penuh kasih layaknya anak-anak dengan orangtua lengkap.

Siap mental 

Di tengah masyarakat yang gemar memberi stigma dan melemparkan pandangan sinis, menjalani peran sebagai SM pastilah dirasa amat berat. Bagi sebagian besar perempuan, menjalani peran sebagai SM lebih merupakan pilihan nasib mengingat pengambilan keputusan menjadi SM lebih didasari oleh munculnya situasi dan kondisi tak menyenangkan di luar kendali dan harapan mereka.

Keputusan menjadi SM  “terpaksa” diambil karena itulah pilihan terbaik saat itu bagi dirinya maupun anak(-anak)nya. Menjadi SM adalah pilihan hidup yang tidak mudah. Di balik pengambilan keputusan tersebut terkandung permasalahan yang kompleks dan perjuangan yang amat berat bagi si SM.

Dalam kehidupan sosial, menyandang status sebagai janda (dengan atau tanpa surat cerai dari Pengadilan Negeri) identik dengan siap menanggung cibiran dan menuai malu.

Apa pun penyebabnya, entah salah langkah dalam pergaulan, mengalami nasib apes sebagai korban perkosaan, atau nekad melanjutkan hubungan meski sudah sejak awal diingatkan oleh keluarga besar bahwa calon suaminya “diprediksi” bukan orang baik-baik (seperti hobi selingkuh, berperangai kasar dan potensial menjadi pelaku KDRT, memiliki kepribadian tidak matang dan sebagainya).

Pihak perempuan harus siap mental dijadikan bemper selalu disalahkan.  (Bersambung)

Photo credit: Seorang ibu muda yang telah ditinggal pergi suaminya terlihat menangis tersedu-sedu di hadapan Bunda Maria. Ibu muda ini terisak-isak dan sedikit histeris, menangisi  anaknya baru saja meninggal karena tipus. Ia mengaku ‘ tidak terima’ atas kematian anaknya itu. Ibu ini lalu ‘protes’ dan mengadukan nasibnya kepada Bunda Maria di Lady Virgin Mary of La Vang, Central Vietnam (Mathias Hariyadi)

Tautan:

 

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: