Menjadi Saksi Kristus (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 1:8
========================
“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Seperti apa kuatnya sebuah kesaksian, dan seberapa pentingkah peran kita dalam bersaksi di mata Tuhan? Ada banyak orang yang mengira bahwa itu tidak penting. Ada yang berdalih mereka tidak tahu bagaimana caranya dan mengira bahwa itu hanyalah tugas mereka yang terpanggil menjadi hamba Tuhan seperti pendeta dan pengerja saja. Padahal tepat sebelum Yesus naik kembali ke Surga, Dia sudah memberikan Amanat Agung yang berlaku buat semua yang percaya kepadaNya dan sudah menerima anugerah keselamatan sebagai hasil dari penebusanNya. Banyak diantara orang percaya yang hanya beribadah seminggu sekali, itupun cuma datang, duduk, diam, doa, bernyanyi lalu pulang, dan sampai ketemu minggu depan. Kekristenan menurut mereka cukup dengan hanya sebagai “pengunjung” saja di gereja. Tidaklah heran jika sejak jaman dahulu sampai sekarang masalah yang ada tetap sama. “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.” (Matius 9:37). Ada banyak orang percaya yang hanya berminat untuk mendapat berkat tetapi tidak mau berusaha untuk memberkati orang lain. Secara sempit mereka berpikir bahwa untuk memberkati orang lain sama dengan harus menjadi pendeta terlebih dahulu. Padahal Firman Tuhan sama sekali tidak mengatakan demikian.

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat sendiri bagaimana Tuhan memandang pentingnya sebuah kesaksian. Kisah orang dari Gerasa yang kerasukan selegiun roh jahat (Markus 5:1-20) menunjukkan hal itu dengan jelas. Setelah ia disembuhkan dari kuasa roh jahat yang telah sekian lama menyiksanya, orang ini menyatakan keinginannya untuk mengikuti Yesus. Tetapi Yesus memintanya untuk bersaksi tentang apa yang ia alami ke wilayah dimana ia tinggal. “Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: “Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!” (Markus 5:19).

Sebuah kesaksian bisa membawa dampak luar biasa bagi yang mendengar. Itu bisa lebih efektif untuk menyentuh orang lain yang belum mengenal Kristus ketimbang kita mengkotbahi mereka dengan serangkaian ayat. Orang akan sulit menolak sebuah kenyataan yang sudah dialami sendiri secara langsung, dan itu bisa membuka pemikiran mereka tentang apa yang mungkin selama ini mereka bantah kebenarannya.

Apakah untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Yesus kita semua dituntut untuk menjadi pendeta? Tentu saja tidak. Kita semua tidak dipanggil untuk menjadi pendeta, tetapi dipanggil untuk menjadi saksi. Mari kita simak baik-baik apa yang dikatakan Yesus berikut: “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8). Inilah sebuah panggilan yang sangat penting untuk kita camkan.

1. Kita diminta untuk menjadi saksi Kristus.
Apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh saksi? Saksi jelas tugasnya bersaksi. Sederhana saja. Sebagai saksi artinya kita diminta untuk menceritakan kisah hidup kita, bagaimana kasih dan kuasa Tuhan mampu memberi perbedaan dalam hidup kita selama ini. Kita tidak perlu mengajarkan sebuah pelajaran Alkitab secara mendetail atau lengkap, atau bahkan memahami teologi terlebih dahulu untuk menceritakan pengalaman kita bersama Tuhan, kecuali anda memang terpanggil untuk itu. Tetapi intinya, sebagai saksi kita hanya perlu mengetahui apa yang telah dilakukan Tuhan kepada kita, lalu menceritakan atau membagikan kebaikanNya kepada orang lain. Itulah tugas saksi, dan itulah panggilan yang diberikan kepada kita.

2. Kuasa diberikan lewat Roh Kudus.

Mari kita lihat penggalan ayat Kisah Para Rasul 1:8 sekali lagi. “kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu.” Artinya Tuhan bukan menggantungkan semuanya kepada kemampuan kita, seperti kemampuan berbicara, kemampuan menjaring masa, kemampuan mengajar, kemampuan menguasai Alkitab dan lain-lain. Tuhan mengatakan bahwa semua itu merupakan pekerjaan Roh Kudus. Kita hanya perlu bersaksi lalu kita serahkan kepada Roh Kudus untuk menjamah mereka. Bahkan seringkali yang diminta hanyalah kesediaan kita, dan Roh Kudus lah yang akan membimbing setiap perkataan yang keluar dari dalam diri kita. “Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.” (Matius 10:19-20). Sekali lagi, bukanlah pekerjaan kita untuk meyakinkan orang, tetapi itu adalah pekerjaan Roh Kudus, dan kita harus menyerahkan sepenuhnya kedalam tanganNya, bukan dengan memaksakan kehendak atau melakukan tekanan-tekanan yang malah akan menjadikan kita sebagai batu sandungan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi menjadi saksi kristus
  2. Renungan lukas 24:50-53 Tema Pangilan kesaksian
  3. Renungan: Saya jadi saksi Tuhan
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: