Menjadi Sahabat Allah (2)

Ayat bacaan: Kejadian 18:16
======================
“Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”

sahabat Allah, Abraham

Kemarin kita sudah melihat bagaimana kualitas Abraham sehingga ia dianggap sebagai sahabat Allah. Hari ini kita melihat lebih jauh mengenai bagaimana hubungan Abraham dengan Allah sebagai seorang sahabat. Mungkinkah seorang dikatakan sebagai sahabat jika kita jarang berkomunikasi dengannya? Rasanya tidak ada orang yang menjadikan sahabat mereka sebagai orang terakhir yang mereka hubungi jika mereka mengalami sesuatu hal. Sebuah hubungan persahabatan akan berisi serangkaian hubungan erat penuh komunikasi tanpa perlu menutup-nutupi sesuatu. Itu bedanya sahabat dengan teman biasa. Apakah Abraham juga seperti itu? Ya, Abraham jelas seperti itu. Abraham rajin berkomunikasi dengan Tuhan!

Ayat bacaan hari ini menggambarkan sesuatu yang luar biasa. Ketika Tuhan menganggap seseorang sebagai sahabatNya, ternyata Tuhan gelisah untuk berbicara pada kita ketika Dia hendak berbuat sesuatu. Ketika Tuhan hendak menyatakan rencanaNya pada Sodom, Tuhan sampai harus berpikir untuk menyatakan atau merahasiakan rencanaNya dari Abraham. Berpikirlah TUHAN: “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini? Bukankah sesungguhnya Abraham akan menjadi bangsa yang besar serta berkuasa, dan oleh dia segala bangsa di atas bumi akan mendapat berkat? Sebab Aku telah memilih dia, supaya diperintahkannya kepada anak-anaknya dan kepada keturunannya supaya tetap hidup menurut jalan yang ditunjukkan TUHAN, dengan melakukan kebenaran dan keadilan, dan supaya TUHAN memenuhi kepada Abraham apa yang dijanjikan-Nya kepadanya.” (Kejadian 18:19). Wow, ini luar biasa! Bagaimana ini mungkin terjadi? Selain apa yang kita baca kemarin tentang ketaatan, kesetiaan dan iman penuh Abraham, ayat-ayat selanjutnya menunjukkan sebuah jalinan komunikasi antar dua sahabat dalam kekerabatan yang erat. Mari kita lihat bagaimana hubungan erat tersebut dalam Kejadian 18:20-33. Abraham datang mendekat dan berkata: “Apakah Engkau akan melenyapkan orang benar bersama-sama dengan orang fasik? Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu? Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (ay 23-25). Dan Tuhan menjawab: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.”(ay 26). Lalu Abraham menyahut: “Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang lima itu?” (ay 27-28a). Tuhan kembali menjawab: “Aku tidak memusnahkannya, jika Kudapati empat puluh lima di sana.”(ay 28b), dan seterusnya hingga ayat 33. Lihatlah jalinan percakapan yang terjalin antara Abraham dan Tuhan. Ada komunikasi erat diantara mereka sebagai dua sahabat.

Amsal 17:17 berkata: “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Sahabat sejati adalah mereka yang saling setia, saling mengasihi, saling mempercayai satu dengan lainnya baik dalam suka maupun duka. Jika seorang manusia saja bisa menjadi sahabat dalam pengertian sesuai dengan Amsal 17:17 tersebut, bayangkan jika Allah sendiri yang menjadi sahabat kita. Hubungan antara Abraham dan Allah sungguh sebuah hubungan yang luar biasa. Saya percaya Tuhan selalu rindu untuk menjadikan kita sahabat-sahabatNya. Jika tidak, tentu Tuhan tidak harus repot-repot membuat manusia segambar denganNya. Tuhan selalu mengulurkan salam persahabatan kepada kita, anak-anakNya. Semua tergantung kita, apakah kita mampu untuk selalu bersepakat denganNya, tidak mempertanyakan segala keputusanNya, seperti halnya Abraham taat penuh mengenai Ishak, menjalankan perintahNya tanpa banyak tanya. Apakah kita mampu untuk terus menjalin komunikasi dengan Tuhan baik dalam doa-doa maupun saat-saat teduh kita setiap hari? Apakah kita mau melibatkan Tuhan dalam segala aspek kehidupan kita? Apakah dalam doa-doa kita, kita mau memberi kesempatan untuk membiarkan Tuhan berbicara, dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh, tidak mendatangiNya hanya untuk membawa segepok permintaan saja? Saling percaya, saling terbuka, saling berkomunikasi dengan erat. That’s what friends do! Demikian pula yang diperbuat Tuhan ketika Dia menganggap kita sebagai sahabatNya. Lihatlah bagaimana Kristus memandang kita manusia yang lemah ini sebagai sahabat. Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Dan itulah yang dilakukan Kristus. Dia memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. That’s the real friendship we have in Jesus. Siapkah anda menjadi sahabat Allah?

Dalam persahabatan sejati terdapat komunikasi dua arah satu sama lain

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: