Menjadi Sahabat Allah (1)

Ayat bacaan: Yakobus 2:23
=====================
“Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: “Sahabat Allah.”

sahabat Allah, Abraham

Coba pikirkan sejenak, bagaimana rasanya menjadi sahabat Tuhan? Tentu luar biasa rasanya. Orang pasti mengenal dengan baik sahabatnya. Kenalan boleh banyak, teman bisa banyak, tapi yang bisa menjadi seorang sahabat biasanya sedikit. Kepada seorang sahabat biasanya kita tidak menyembunyikan sesuatu, dan bisa menjadi diri kita sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi pribadi yang lain. Seorang sahabat akan menjadi orang-orang pertama yang mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya. Apakah ada berita gembira, ada masalah, suka dan duka, sahabat akan menjadi orang nomor satu yang dikabari. Itu sebuah kualitas yang tumbuh antara dua sahabat. Jika antara dua manusia saja arti persahabatan sudah terasa begitu istimewa, apalagi jika manusia bisa bersahabat dengan Tuhan.

Sebuah ayat sungguh menggugah saya malam ini. Yakobus 2:23 mengatakan bahwa “Abraham disebut sebagai “Sahabat Allah”. Pengakuan Abraham sebagai sahabat Allah juga tertulis dalam 2 Tawarikh 20:7. Wow, ini luar biasa! Bagaimana seorang Abraham mampu mencapai tingkatan istimewa sebagai sahabat Allah?

Ada banyak diantara kita yang mengaku percaya, mengaku beriman, namun banyak pula diantaranya yang hanya berupa iman kosong belaka. Yakobus menggambarkan ini sebagai iman tanpa perbuatan. “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?” (Yakobus 2:20). Dan pada hakekatnya iman seperti ini adalah iman yang mati. (ay 17). Kita mengaku punya iman, tapi seberapa jauh kita bisa taat menuruti perintah Allah? Itu sebuah pertanyaan yang kedengarannya gampang, namun pelaksanaannya seringkali sulit. Ketika kita sedang ditimpa masalah, seberapa besar keyakinan kita bahwa Tuhan mampu melepaskan kita? Ketika kita sakit, seberapa besar keyakinan kita bahwa Tuhan sanggup menyembuhkan? Ketika kita sudah berulangkali berdoa, namun kelihatannya Tuhan belum juga berkenan menjawab, seberapa tinggi kesabaran kita untuk mempercayaiNya? Ada banyak orang yang segera mencari alternatif-alternatif duniawi, bahkan menjerumuskan diri mereka sendiri ke dalam kesesatan lewat kuasa-kuasa kegelapan karena ingin hasil instan tanpa memperhitungkan konsekuensi sebagai akibat dari keputusan mereka. Sekarang kita lihat Abraham. Ujian yang ia hadapi sungguh luar biasa besar. Tidak main-main, ia diminta untuk mempersembahkan Ishak, anaknya sendiri sebagai korban persembahan. Bayangkan jika permintaan ini menimpa kita, seberapa tinggi ketaatan kita? Tapi lihatlah Abraham taat sepenuhnya. Dia siap mempersembahkan Ishak sesuai permintaan Tuhan! Dan kita tahu kelanjutan ceritanya. Dan inilah bukti dari sebuah iman yang tidak kosong dan tidak mati, iman yang disertai perbuatan. Abraham berhasil membuktikannya.

Dengan demikian, tidaklah mengherankan jika Tuhan menganggap Abraham sebagai sahabat. Dalam Kejadian 26, Allah berbicara pada Ishak dan kembali meneguhkan janji yang Dia berikan pada Abraham. Demikian firman Tuhan: “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat.” (Kejadian 26:3-4). Apa dasar Tuhan untuk meneguhkan janji ini? Ayat berikutnya adalah alasannya. “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” (ay 5). Yesus pun mengajarkan hal yang sama mengenai bagaimana agar kita bisa menjadi sahabatNya. “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14).   Inilah salah satu dari kualitas Abraham. Begitu istimewanya Abraham di mata Allah, sehingga kemudian kita menemukan firman Tuhan dalam Yesaya sebagai berikut: “Tetapi engkau, hai Israel, hamba-Ku, hai Yakub, yang telah Kupilih, keturunan Abraham, yang Kukasihi; engkau yang telah Kuambil dari ujung-ujung bumi dan yang telah Kupanggil dari penjuru-penjurunya, Aku berkata kepadamu: “Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau”; janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:8-10). Luar biasa bukan? kita merupakan keturunan Abraham yang tidak lain adalah sahabat Allah. Abraham adalah manusia seperti kita secara jasmani, namun keteguhan iman dan ketaatannya mengakibatkan terjalinnya sebuah hubungan persahabatan yang hangat dan istimewa dengan Tuhan. It’s amazing.

Tuhan selalu mengulurkan tangan untuk bersahabat dengan kita semua. Apakah kita mau menyambut uluran tangan Tuhan itu? Jika ya, belajarlah dari ketaatan dan kesetiaan penuh dan tanpa syarat dari Abraham. Percayakan segala sesuatu pada Tuhan dan jadilah sahabat Allah.

Memiliki iman disertai bukti perbuatan dan ketaatan agar kita bisa menjadi sahabat Allah

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply