Menjadi Prajurit Kristus

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:3
======================
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.”

Hari ini saya masih ingin melanjutkan mengenai sikap prajurit yang baik yang harus kita jadikan teladan. Dalam dunia ketentaraan kita ada sebuah sumpah yang disebut dengan Sumpah Prajurit,  berisi 5 butir janji. 5 butir itu adalah: (1) Setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berdasarkan Pancasila dan UUD 45, (2) tunduk pada hukum dan memegang teguh disiplin, (3) taat penuh kepada atasan dan tidak membantah perintah atau putusan, (4) menjalankan segala kewajiban dengan penuh tanggung jawab dan (5) memegang rahasia ketentaraan sekeras-kerasnya. Dalam pelaksanaannya tentu saja ada oknum-oknum yang perilakunya menyimpang dari sumpah yang telah mereka ucapkan, namun itu semua adalah perbuatan orang perorang dan bukan mewakili kelembagaan. Dari sudut kelembagaan, prajurit yang baik haruslah memegang teguh Sumpah Prajurit ini, termasuk juga Sapta Marga dan Delapan Wajib TNI.

Jika kita kemarin telah menyoroti sebuah bentuk ketaatan dari seorang perwira yang menjumpai Yesus dengan tujuan agar hambanya disembuhkan (Matius 8:5-13), hari ini saya ingin menyampaikan mengenai sosok kehidupan kita sebagai orang Kristen yang digambarkan Paulus seperti seorang prajurit. Ada 3 contoh yang disampaikan Paulus kepada Timotius untuk menggambarkan bentuk kehidupan pengikut Kristus, yaitu melalui contoh prajurit (2 Timotius 2:3-4), olahragawan (ay 5) dan petani (ay 6).

Dalam suratnya Paulus mengatakan: “Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.” (2 Timotius 2:3-4). Seorang prajurit yang terlatih dan berdisplin baik tentu wajib tunduk sepenuhnya kepada komandannya, meski membahayakan nyawanya sekalipun. Mereka harus siap dan rela mengabaikan kepentingan diri sendiri demi kepentingan yang lebih besar. Ini bukanlah hal yang mudah. Agar bisa melakukannya dibutuhkan ketaatan penuh dan kesetiaan total kepada komandannya disertai kerelaan untuk berkorban. Sebuah keteladanan bisa kita peroleh lewat Yesus sendiri yang melakukan ketaatan penuh seperti itu. “…melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:7-8). Ini gambaran ketaatan penuh yang langsung dipraktekkan secara nyata oleh Yesus.

Hidup prajurit tergantung penuh kepada komandannya. Mereka harus taat, dan mengenai kebutuhan mereka, sang komandanlah yang akan bertanggungjawab atas itu. Dalam kehidupan Kekristenan hal yang sama berlaku, dan Paulus sudah mengatakan bahwa kita harus siap setiap waktu untuk menjadi prajurit Kristus yang baik. Artinya, Kristus menjadi sosok “Komandan” yang akan selalu mencukupi kebutuhan kita, sangat memperhatikan kita pribadi demi pribadi bahkan telah menjanjikan kita sebuah keselamatan yang sifatnya kekal. Kita bisa belajar dari bentuk ketaatan perwira Roma yang menemui Yesus yang sudah kita bahas kemarin, dimana ia menyadari sepenuhnya otoritas Kristus sebagai atasannya. Katanya: “Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” (Matius 8:9). Kalau Yesus mengatakan sepatah kata saja untuk kesembuhan bawahannya maka orang itu pun akan sembuh, tanpa Yesus perlu repot-repot untuk pergi langsung ke rumahnya. Sang prajurit Roma ini menunjukkan ketaatan penuh kepada Kristus yang berada di atasnya. Dari kisah ini kita mendapatkan gambaran yang baik mengenai hubungan yang baik antar tingkat kepemimpinan. Yang di atas memperhatikan bawahan, sedang yang dibawah patuh kepada atasannya.

Sekarang mari kita lihat alasan mengapa kita harus dibentuk menjadi prajurit Kristus. Apakah kita diharuskan untuk memusuhi atau memerangi saudara-saudari kita yang tidak seiman? Sama sekali tidak. Kita tidak diminta untuk menyerang siapa-siapa. Bahkan memusuhi saja pun kita tidak diperbolehkan. Kita justru harus bisa mengasihi sesama kita, siapapun mereka dan apapun latar belakang mereka. Apa yang harus kita perangi bukanlah manusia, melainkan kuasa-kuasa atau roh-roh jahat di udara. “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.” (Efesus 6:12). Bentuk prajurit yang digambarkan Paulus sangat tepat jika kita menyadari bahwa hidup di dunia ini seperti berada di medan perang. Kita harus menghadapi terus peperangan menghadapi iblis dan siasat-siasat gelapnya. Kita senantiasa harus berjuang mempertahankan iman kita, melawan kedagingan kita. Karena itulah kita harus selalu siap untuk menderita dan tetap patuh kepada Komandan kita yaitu Yesus Kristus sendiri. Dan untuk itulah kita diminta agar terus mengenakan “seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” (ay 11). Perlengkapan senjata Allah itu adalah “Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah.” (ay 14-17).

Kehidupan Kekristenan bukanlah bentuk kehidupan yang berleha-leha, santai dan tanpa masalah. Jika itu yang ada dalam benak kita mengenai menjadi pengikut Kristus, itu keliru. Hidup tetap membutuhkan perjuangan, pengorbanan dan kerja keras tanpa henti dari kita, hanya saja kita tidak melakukannya sendirian melainkan bersama dengan penyertaan Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Untuk bisa menjadi prajurit yang baik kita bahkan diminta untuk siap menyangkal diri dan memikul salib (Matius 16:24). Tentu dibutuhkan ketekunan dan keseriusan untuk terus melatih diri kita. Seperti apa yang diingatkan Paulus pula, “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:7-8). Seperti halnya prajurit di tiap negara terus dilatih dan dipersiapkan agar bisa menjadi prajurit yang baik, secara keimanan kita pun kita harus terus melatih diri kita dari hari ke hari agar bisa menjadi lebih baik lagi sebagai prajurit Kristus yang kuat dan loyal. Ijinkan Roh Kudus untuk terus membimbing setiap langkah anda agar siap dibentuk menjadi prajurit Kristus yang baik.

Jadilah prajurit Kristus yang memegang teguh iman menghadapi peperangan dengan kuasa kegelapan dan segala tipu muslihatnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah 2 Timotius 2:8-15
  2. 2 timotius 2:8-15
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: