Menjadi Penyemangat (1)

Ayat bacaan: Roma 1:11-12========================”Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh i…

Ayat bacaan: Roma 1:11-12
========================
“Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.”

Dari pengalaman saya sendiri yang pernah lama mengajar dan setelah memfokuskan diri di dunia musik bersinggungan dengan banyak anak muda dengan panggilan menjadi musisi, saya melihat bahwa seringkali letak permasalahan untuk berhasil bukan dari segi kemampuan, tetapi dari sisi mental. Ada banyak diantara mereka yang tidak percaya diri sehingga sulit maju. Alasannya banyak. Ada yang sejak kecil tidak pernah mendapat pujian dari orang tua dan keluarganya, ada yang mendapat tekanan di sekolah, sering diejek dan sebagainya. Ada yang memang mentalnya lemah sehingga mereka mudah menyerah atau yang kurang/tidak punya semangat juang.

Karena itu saya sangat senang menempatkan diri sebagai penyemangat, bukan kritikus. Saya lebih suka memotivasi ketimbang mengkritik. Meski di awal mereka masih rada kacau, saya percaya suntikan semangat bisa memacu mereka agar lebih baik lagi. Dan itulah yang terjadi. Ada banyak diantara anak-anak muda ini yang tadinya hanya sendirian, sekarang setidaknya mereka punya satu orang yang mau mendorong mereka untuk sukses. Mereka akan menunjukkan perubahan signifikan setelah ada yang menguatkan, menghibur, menyuntikkan semangat dan kemudian berhasil mengembangkan talenta mereka secara maksimal lalu sukses dalam profesinya masing-masing.

Apa yang dibutuhkan orang yang masih berjuang atau dalam tahap-tahap belajar adalah orang yang bersedia mensupport mereka secara moril. Bukan hanya anak-anak muda yang masih belajar tetapi juga mereka yang sedang menghadapi ujian dalam kehidupan, sedang berhadapan dengan situasi-situasi sulit atau masalah. Pada suatu ketika kita harus kembali kepada hakekat seorang manusia yang tidak mampu bertahan hidup sendirian.

Kalau mengacu kepada Firman Tuhan, Tuhan bahkan sudah menyadari hal itu dan menyebutkan jatidiri kita sebagai mahluk sosial sejak awal. “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kejadian 2:18). Ketika Yesus hadir di dunia, Dia pun mengetahui hal yang sama. Lihatlah apa yang diputuskan Yesus saat mengutus kedua belas murid untuk melakukan pekerjaan mereka. “Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua..” (Markus 6:7). Tuhan Yesus meminta para murid melakukan tugasnya tidak sendirian tetapi setidaknya berdua agar bisa saling menguatkan dan membantu.

Kepada kita Dia memberikan Penolong, Roh Kudus untuk menyertai, membimbing, mengingatkan dan membantu kita dalam setiap langkah yang kita jalani. “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya” (Yohanes 14:16). Kalau kita sadar bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendirian dan selalu butuh orang lain yang mau menyemangati dan menolong, bukankah kita pun sebenarnya harus bersedia untuk menjadi penghibur atau penyemangat sesama kita juga? Jangan-jangan kita masih terlalu sibuk mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain? Sudahkah kita meluangkan waktu sejenak untuk membantu mereka? Atau maukah kita untuk itu? Tidak tahu harus bilang apa, tidak mampu memberikan apa-apa bukan masalah, karena seringkali sekedar menjadi pendengar yang baik pun sudah berarti besar buat mereka.

Selanjutnya mari kita lihat apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Roma. “Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku.” (Roma 1:11-12). Ia berkata, “saya datang agar kita sama-sama bisa mempergunakan karunia rohani kita untuk saling menguatkan. Iman saya menguatkan kalian, iman kalian menguatkan saya.” Di ayat sebelumnya kita melihat bahwa Paulus terus berdoa agar ia diijinkan untuk bisa mengunjungi mereka. Kita tahu betapa berharganya hal itu bagi mereka. Jemaat di Roma tentu sangat senang ketika melihat bahwa ternyata ada orang yang peduli dengan mereka.

bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply