Menjadi ‘Misionaris Domestik’ di Pedalaman Bupul Kampung, 200 km dari Kabupaten Merauke Papua

Romo Budiyanto bersama Maruf polisi perbatasan PNG RIJUDUL refleksi pribadi ini adalah diutus melayani Keuskupan Agung Merauke. Saya sendiri putra asli Wedi, Klaten, Jawa Tengah, kelahiran tahun 1969. Sengaja memilih menjadi pastor diosesan (praja) untuk Keuskupan Pangkalpinang yang membawahi Pulau Bangka dan sekitarnya. Saya termasuk orang baru di wilayah Keuskupan Agung Merauke. Saya mulai bertugas di pedalaman Papua Selatan, sejak mendapat tugas […]

Romo Budiyanto bersama Maruf polisi perbatasan PNG RI

JUDUL refleksi pribadi ini adalah diutus melayani Keuskupan Agung Merauke.

Saya sendiri putra asli Wedi, Klaten, Jawa Tengah, kelahiran tahun 1969. Sengaja memilih menjadi pastor diosesan (praja) untuk Keuskupan Pangkalpinang yang membawahi Pulau Bangka dan sekitarnya.

Saya termasuk orang baru di wilayah Keuskupan Agung Merauke. Saya mulai bertugas di pedalaman Papua Selatan, sejak mendapat tugas pelayanan dari Mgr. Nicolaus Adiseputra –Uskup Agung Merauke—per tanggal 1 Maret 2014 lalu. Bagi saya, ini adalah penugasan istimewa, karena saya datang dari Keuskupan Pangkalpinang di Sumatra.

Juga membahagiakan, karena akhirnya bisa melayani umat Paroki St. Petrus Bupul Kampung yang selama ini hanya bisa merayakan ekaristi sebulan sekali saja saking tidak adanya pastor ‘lewat’ dan menginap di kawasan perbatasan RI-PNG ini.

10 tahun di Komsos Keuskupan Pangkalpinang

Usai tahbisan, saya mendapat tugas pastoral di Paroki St. Maria Pengantara Rahmat di Sungai Liat, Bangka dan selama kurun waktu tahun 2002-2012 menjadi pengurus Komisi Komsos Keuskupan Pangkalpinang.

Saya bertugas di Merauke selama empat tahun ke depan, sesuai mandat dan kontrak antar bapak uskup.

Selama bulan Maria sepanjang Oktober 2014  ini, saya terlibat langsung dengan acara tradisi yang ada di pedalaman Papua Selatan ini. Saya ikut mengarak keliling patung Bunda Maria yang ada di Gereja untuk kemudian dibawa berkeliling dari lingkungan ke lingkungan.

Konsep pikirnya sederhana: Yesus turun menjadi manusia berkat perantaraan Bunda Maria. Dengan demikian, Bunda Maria pun selalu dimengerti oleh umat setempat sebagai Bunda Allah yang tidak hanya tinggal diam di dalam gereja, melainkan berjalan keliling mengunjungi umat.

Saya rasa jalan pikir seperti itu benar adanya. Karena menjadi imam, sebaiknya jangan hanya tinggal di pastoran saja, melainkan ‘turun ke lapangan’ guna mengenal domba-dombanya di padang belantara.

Kredit foto: Bersama Pak Ma’ruf, polisi perbatasan RI-PNG (Dok. Romo Titus Budiyanto/Paroki St. Petrus Buluk Kampung di pedalaman Kabupaten Merauke, Papua Selatan)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply