Menjadi Legioner, Menjadi Gila Seperti Yesus

Acies adalah bentuk konsolidasi para prajurit Bunda Maria dalam menguatkan iman dan cinta kasih mereka. Andaikan jengkol bisa menggantikan jengkel dan pete bisa menggantikan bete, niscaya dunia akan berbau wangi, nyaman dan indah, tidak ada amarah dan kebencian.

Menjadi Laskar Legio Maria berarti mengikuti Yesus orang Nazareth yang ‘gila’. Karena itu, jika ditampar pipi kiri maka anggota laskar harus barani memberikan pipi kanan. Bila ada yang minta baju, jubah yang akan diberikan. Bukankah itu ‘gila’?

Begitu kata Pendamping rohani Komisium Keuskupan Purwokerto Romo Agutsinus Handoko MSC saat kotbah di depan Kuria dan Presidium Legio Maria Se-Komisium Keuskupan Purwokerto saat perayaan Ekaristi Acies Komisium Keuskupan Purwokerto, di Gereja Santo Agustinus Purbalingga, Jawa Tengah, Sabtu (19/5).

Menurut Romo Handoko yang juga merupakan Pastor Paroki Purbalingga, kegilaan Yesus juga tampak saat murid-muridnya masih tidak percaya akan penampakanNya usai mati disalib dan mengira Dia hantu. Yesus meminta makanan dan untunglah ada sepotong ikan goreng. Terbukti sudah, mana ada hantu yang berkulit dan berdaging serta makan ikan goreng? Akhirnya murid-murid pun percaya. Yesus telah hadir ditengah-tengah para murid untuk menguatkan dan meneguhkan mereka.

Romo Handoko juga menyatakan bahwa orang gila adalah orang yang paling sehat. “Lihatlah, mereka berjalan dengan bertelanjang, sambil tersenyum-senyum dan menemukan makanan sekadarnya di tong-tong sampah, toh mereka tidak pernah sakit,”ujarnya lantang.

Kenapa orang gila sehat? Karena mereka tidak pernah berpikir untuk korupsi, tidak pernah berpikir dimata-matai oleh KPK.

“Mereka penuh syukur, menerima apa yang mereka dapatkan walaupun berupa sisa-sia dari tong sampah. Mereka penuh senyum karena orang yang penuh senyum tidak memiliki beban dalam diri mereka. Pertanyaannya, apakah Anda ingin sehat?” ujar Romo Handoko.

Janji
Dalam misa acies ini, para legioner (anggota Legio Maria) mengucapkan janji dengan memegang Vaksilium sebagai ikrar setia menjalankan tugas-tugas perutusan Legio Maria.

Legioner bukanlah kelompok ekslusif yang ingin tampil dan mendapat pujian melainkan kelompok inklusif yang menarik diri ke dalam dan berbagi dengan sesama, melayani serta membaur bersama kelompok-kelompok lain dalam gereja.

Usai misa para ‘prajurit’ Maria ini melakukan ramah tamah. Ditemani oleh hidangan yang menjadi ciri khas Kabupaten Purbalingga dan sekitarnya yaitu dawet ayu yang sebenarnya lebih terkenal dengan sebutan Dawet Ayu Banjarnegara, serta ubi jalar rebus yang diberi kuah gula aren dengan cita rasa khas yang biasa disebut Gethuk Sokaraja menemani para Legioner mereka berkumpul dalam kegembiraan.

Kredit Foto : Leo Agung Christanto

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply