Menjadi Kaya Sehari di Raja Ampat (1)

raja ampat by indonesia travelRAJA Ampat. Demikian nama tempat destinasi wisata bahari yang kini tengah mendulang nama tenar di kawasan Sorong, Provinsi Papua Barat. Untuk bisa ke Raja Ampat, modal ‘besar’ menjadi tumpuan nomor satu, selain rasa cinta besar akan wahana wisata bahari seperti snorkeling, scuba diving, dan tentu saja deep diving untuk melihat gugusan karang di dasar laut. Tanpa rasa cinta bahari di atas, rasanya keputusan melakukan perjalanan wisata bahari ke Raja Ampat sungguh teramat sayang. Mau apa lagi, kalau ini bukan soal besar biaya transportasi dan akomodasi yang serba ‘wah’ untuk bisa sampai di belahan wisata bahari di Sorong, Papua Barat ini. Mari kita hitung semua komponen biaya perjalanan menuju ke Raja Ampat dari titik keberangkatan di Jakarta. • Ada banyak moda transportasi udara pilihan untuk menempuh rute Jakarta-Makassar-Sorong. Awal Mei 2015 lalu, bersama rombongan tim pelatihan jurnalistik Sesawi.Net kami terbang bersama Garuda menempuh rute penerbangan Jakarta-Makassar-Sorong pp. Untuk terbang saja, sedikitnya uang sejumlah Rp 6,2 juta sudah harus kami relakan untuk membeli tiket penerbangan dengan rute terbang hampir 2 jam (Jakarta-Makassar) dan 2 jam lagi untuk rute Makassar-Sorong. • Ada dua pilihan menuju Raja Ampat dari Sorong. Kalau naik kapal cepat, ongkosnya Rp 130.000,00 sekali jalan dengan durasi perjalanan selama 1,5 jam. Kapal dengan daya muat kurang lebih 200-an orang ini lengkap dengan AC. Kapal lain dengan postur lebih besar menarik ongkos lebih murah –Rp 110.000—dengan rute sama namun dengan durasi perjalanan lebih lama: 4 jam. • Opsi lain dari Sorong menuju Raja Ampat adalah melalui jalur udara. Kini, orang bisa naik pesawat dengan durasi terbang tidak lebih dari 25 menit dari Bandara Udara Sorong menuju Raja Ampat dengan pesawat ultra light. Tiket pesawat untuk terbang 20-25 menit dibandrol dengan harga Rp 235 ribu sekali trip. • Akomodasi di Raja Ampat boleh dibilang ‘mahal’ untuk para pecinta wisata ala backpacker. Untuk bisa menikmati bungalow di tepian laut sekaligus di pinggir hutan lebat, kami harus merogok kocek tak kurang Rp 850.000 ribu/malam, lengkap dengan servis 3 kali makan plus 2 kali snack. Untuk lokasi bungalow lain yang kini banyak tersebar di sepanjang alur pelayaran kapal ke Raja Ampat, biaya lebih besar lagi pasti akan ditarik dari kocek wisatawan. “Mereka pasang harga dalam bentuk dolar atau bahkan euro,” kata seorang pengelola wisata di kawasan Raja Ampat menjawab Sesawi.Net. • Komponen biaya yang jelas mahal adalah ongkos sewa kapal. Persis sepekan sebelum kami datang di Raja Ampat, beberapa ibu dari kumpulan para pemerhati korban bencana juga datang ke Raja Ampat. Mereka bilang, untuk bisa melakukan trip wisata bahari dengan kapal masing-masing ditarik ongkos Rp 7,5 juta. Dengan jumlah sebesar itu pun, spot wisata yang bisa mereka lihat hanya beberapa saja. • Seorang manajer yang bekerja di perusahaan migas di Sorong dengan sigap malah mengatakan, wisata bahari di Raja Ampat sudah pasti ‘menguras’ biaya. Menurut bapak yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Sorong ini, untuk bisa menikmati semua spot bahari di Raja Ampat –termasuk diving, snorkeling, dan naik di ketinggian untuk melihat ikon jajajarn pulau-pulau dengan hamparan laut hijau—maka setidaknya uang sebesar Rp 45 juta harus rela dibayarkan hanya untuk biaya sewa kapal. Sehari bergaya kaya Dari Sorong yang dulu terkenal dengan sebutan Kota Minyak lantaran banyaknya sumur-sumur minyak, perjalanan wisata kami ke Raja Ampat sudah bisa dibilang mirip ‘orang kaya’. Tentu saja ini guyonan nakal, karena untuk menuju ke Sorong saja, kami mendapat sponsor karena bertepatan dengan serangkaian acara pelatihan jurnalistik. Dari Sorong menuju Pelabuhan Waisai, tempat kapal-kapal bersandar di Raja Ampat, rombongan Sesawi.Net sudah dijemput panitia lokal di Raja Ampat. Oleh rombongan penjemput ini, kami diajak naik kapal sewaan yang dengan uang berapa kami tak tahu jumlahnya yang harus dibayarkan untuk sewa moda transportasi mengelilingi gugusan pulau di sepanjang jalur wisata bahari di Raja Ampat ini. Konon, kata teman-teman seperjalanan, kami malah diberi tumpangan dengan biaya sangat murah untuk bisa melakukan trip wisata bahari ini. Di perjalanan dengan kapal ber-AC ini, sejumlah suster biarawati ikut bersama kami. Di dalam kapal, kami diberi snack dan kemudian juga makan-minum pelepas dahaga dan lapar. Di darat, kami disuguhi makanan lokal asli penduduk di situ: air kelapa hijau muda berikut dengan ‘daging’nya. Nah, itulah enaknya wisata bahari di tempat eksotis dengan biaya minim lantaran di belakang layar ada sponsor yang berbaik hati kepada Sesawi.Net dan rombongannya. Photo credit: Raja Ampat by Indonesia Travel

raja ampat by indonesia travel

RAJA Ampat. Demikian nama tempat destinasi wisata bahari yang kini tengah mendulang nama tenar di kawasan Sorong, Provinsi Papua Barat. Untuk bisa ke Raja Ampat, modal ‘besar’ menjadi tumpuan nomor satu, selain rasa cinta besar akan wahana wisata bahari seperti snorkeling, scuba diving, dan tentu saja deep diving untuk melihat gugusan karang di dasar laut.

Tanpa rasa cinta bahari di atas, rasanya keputusan melakukan perjalanan wisata bahari ke Raja Ampat sungguh teramat sayang. Mau apa lagi, kalau ini bukan soal besar biaya transportasi dan akomodasi yang serba ‘wah’ untuk bisa sampai di belahan wisata bahari di Sorong, Papua Barat ini.

Mari kita hitung semua komponen biaya perjalanan menuju ke Raja Ampat dari titik keberangkatan di Jakarta.

• Ada banyak moda transportasi udara pilihan untuk menempuh rute Jakarta-Makassar-Sorong. Awal Mei 2015 lalu, bersama rombongan tim pelatihan jurnalistik Sesawi.Net kami terbang bersama Garuda menempuh rute penerbangan Jakarta-Makassar-Sorong pp. Untuk terbang saja, sedikitnya uang sejumlah Rp 6,2 juta sudah harus kami relakan untuk membeli tiket penerbangan dengan rute terbang hampir 2 jam (Jakarta-Makassar) dan 2 jam lagi untuk rute Makassar-Sorong.

• Ada dua pilihan menuju Raja Ampat dari Sorong. Kalau naik kapal cepat, ongkosnya Rp 130.000,00 sekali jalan dengan durasi perjalanan selama 1,5 jam. Kapal dengan daya muat kurang lebih 200-an orang ini lengkap dengan AC. Kapal lain dengan postur lebih besar menarik ongkos lebih murah –Rp 110.000—dengan rute sama namun dengan durasi perjalanan lebih lama: 4 jam.

• Opsi lain dari Sorong menuju Raja Ampat adalah melalui jalur udara. Kini, orang bisa naik pesawat dengan durasi terbang tidak lebih dari 25 menit dari Bandara Udara Sorong menuju Raja Ampat dengan pesawat ultra light. Tiket pesawat untuk terbang 20-25 menit dibandrol dengan harga Rp 235 ribu sekali trip.

• Akomodasi di Raja Ampat boleh dibilang ‘mahal’ untuk para pecinta wisata ala backpacker. Untuk bisa menikmati bungalow di tepian laut sekaligus di pinggir hutan lebat, kami harus merogok kocek tak kurang Rp 850.000 ribu/malam, lengkap dengan servis 3 kali makan plus 2 kali snack. Untuk lokasi bungalow lain yang kini banyak tersebar di sepanjang alur pelayaran kapal ke Raja Ampat, biaya lebih besar lagi pasti akan ditarik dari kocek wisatawan. “Mereka pasang harga dalam bentuk dolar atau bahkan euro,” kata seorang pengelola wisata di kawasan Raja Ampat menjawab Sesawi.Net.

raja ampat 2 by Mathias
Di tepian Pelabuhan Waisai, Kabupaten Raja Ampat. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

• Komponen biaya yang jelas mahal adalah ongkos sewa kapal. Persis sepekan sebelum kami datang di Raja Ampat, beberapa ibu dari kumpulan para pemerhati korban bencana juga datang ke Raja Ampat. Mereka bilang, untuk bisa melakukan trip wisata bahari dengan kapal masing-masing ditarik ongkos Rp 7,5 juta. Dengan jumlah sebesar itu pun, spot wisata yang bisa mereka lihat hanya beberapa saja.

• Seorang manajer yang bekerja di perusahaan migas di Sorong dengan sigap malah mengatakan, wisata bahari di Raja Ampat sudah pasti ‘menguras’ biaya. Menurut bapak yang sudah lebih dari 10 tahun tinggal di Sorong ini, untuk bisa menikmati semua spot bahari di Raja Ampat –termasuk diving, snorkeling, dan naik di ketinggian untuk melihat ikon jajajarn pulau-pulau dengan hamparan laut hijau—maka setidaknya uang sebesar Rp 45 juta harus rela dibayarkan hanya untuk biaya sewa kapal.

Sehari bergaya kaya
Dari Sorong yang dulu terkenal dengan sebutan Kota Minyak lantaran banyaknya sumur-sumur minyak, perjalanan wisata kami ke Raja Ampat sudah bisa dibilang mirip ‘orang kaya’. Tentu saja ini guyonan nakal, karena untuk menuju ke Sorong saja, kami mendapat sponsor karena bertepatan dengan serangkaian acara pelatihan jurnalistik.

Dari Sorong menuju Pelabuhan Waisai, tempat kapal-kapal bersandar di Raja Ampat, rombongan Sesawi.Net sudah dijemput panitia lokal di Raja Ampat. Oleh rombongan penjemput ini, kami diajak naik kapal sewaan yang dengan uang berapa kami tak tahu jumlahnya yang harus dibayarkan untuk sewa moda transportasi mengelilingi gugusan pulau di sepanjang jalur wisata bahari di Raja Ampat ini.

Konon, kata teman-teman seperjalanan, kami malah diberi tumpangan dengan biaya sangat murah untuk bisa melakukan trip wisata bahari ini.

raja ampat dua pulau by mathias
Gugusan pulau-pulau cadas di perairan kawasan Raja Ampat. (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

Di perjalanan dengan kapal ber-AC ini, sejumlah suster biarawati ikut bersama kami. Di dalam kapal, kami diberi snack dan kemudian juga makan-minum pelepas dahaga dan lapar.
Di darat, kami disuguhi makanan lokal asli penduduk di situ: air kelapa hijau muda berikut dengan ‘daging’nya.

Nah, itulah enaknya wisata bahari di tempat eksotis dengan biaya minim lantaran di belakang layar ada sponsor yang berbaik hati kepada Sesawi.Net dan rombongannya.

Photo credit: Raja Ampat by Indonesia Travel

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply