Menjadi Berkah untuk Orang Lain

hadiah“Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.” (Kis 3, 14) BEGITULAH  kata-kata Petrus dan Yohanes di depan orang banyak. Mereka telah menolak Yesus, seorang Pribadi yang Kudus dan Benar dan telah menyalibkan-Nya. Mereka malahan meminta agar Pilatus melepaskan Barabas, seorang pemberontak, penyamun, perampok dan pembunuh. Mereka menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiah. Pribadi pembunuh tentu tidak hanya terbatas dalam diri Barabas, tetapi juga terwujud dalam pribadi yang lain. Bulan yang lalu telah terjadi peristiwa pembunuhan di Ajibarang dengan tembakan. Sampai sekarang belum diketahui siapa pembunuh orang itu. Pembunuhan tidak hanya terjadi pada zaman dahulu, tetapi juga banyak terjadi pada zaman ini. Peristiwa pembunuhan bisa terjadi di banyak tempat, di mana saja dan kapan saja. Pembunuh juga tidak hanya terbatas dalam diri para penyamun, begal atau pemberontak. Pembunuhan juga bisa dilakukan oleh rakyat biasa, orang terdidik dan terpelajar, orang yang punya profesi atau pekerjaan terhormat. Bahkan pembunuhan juga bisa dilakukan oleh anak-anak, suami atau isteri dalam sebuah keluarga. Umumnya, orang tidak akan bersedia menerima orang lain sebagai hadiah, apalagi kalau orang itu ternyata pembunuh. Seseorang diterima orang lain sebagai hadiah dengan rasa gembira dan sukacita, kalau mereka saling mengenal, cocok dan saling mencintai. Suami isteri bisa menerima pasangannya sebagai hadiah berharga dari Tuhan. Orang tua menerima kehadiran anak sebagai hadiah dari Tuhan yang sudah lama dirindukan. Umat beriman menerima gembala yang setia dan sederhana sebagai hadiah berharga bagi mareka. Mungkinkah orang-orang yang semula diterima sebagai hadiah berharga itu, pada akhirnya berubah menjadi seorang pembunuh. Mereka memang tidak menghilangkan nyawa sesamanya, tetapi membunuh banyak bagian dalam kehidupan seseorang, seperti: membunuh impian dan harapan, kasih dan cinta, semangat dan motivasi, gagasan dan kreativitas, keinginan dan kehendak. Banyak orang sering harus menguburkan beberapa bagian dari hidupnya, karena sudah dibunuh oleh orang lain, yang semula merupakan hadiah berharga dari Tuhan. Siapa diriku bagi orang lain: hadiah berharga atau pembunuh? Teman-teman selamat siang dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem. Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

hadiah

“Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu.” (Kis 3, 14)

BEGITULAH  kata-kata Petrus dan Yohanes di depan orang banyak. Mereka telah menolak Yesus, seorang Pribadi yang Kudus dan Benar dan telah menyalibkan-Nya. Mereka malahan meminta agar Pilatus melepaskan Barabas, seorang pemberontak, penyamun, perampok dan pembunuh. Mereka menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiah.

Pribadi pembunuh tentu tidak hanya terbatas dalam diri Barabas, tetapi juga terwujud dalam pribadi yang lain. Bulan yang lalu telah terjadi peristiwa pembunuhan di Ajibarang dengan tembakan. Sampai sekarang belum diketahui siapa pembunuh orang itu.

Pembunuhan tidak hanya terjadi pada zaman dahulu, tetapi juga banyak terjadi pada zaman ini.

Peristiwa pembunuhan bisa terjadi di banyak tempat, di mana saja dan kapan saja. Pembunuh juga tidak hanya terbatas dalam diri para penyamun, begal atau pemberontak. Pembunuhan juga bisa dilakukan oleh rakyat biasa, orang terdidik dan terpelajar, orang yang punya profesi atau pekerjaan terhormat. Bahkan pembunuhan juga bisa dilakukan oleh anak-anak, suami atau isteri dalam sebuah keluarga. Umumnya, orang tidak akan bersedia menerima orang lain sebagai hadiah, apalagi kalau orang itu ternyata pembunuh.

Seseorang diterima orang lain sebagai hadiah dengan rasa gembira dan sukacita, kalau mereka saling mengenal, cocok dan saling mencintai. Suami isteri bisa menerima pasangannya sebagai hadiah berharga dari Tuhan. Orang tua menerima kehadiran anak sebagai hadiah dari Tuhan yang sudah lama dirindukan. Umat beriman menerima gembala yang setia dan sederhana sebagai hadiah berharga bagi mareka.

Mungkinkah orang-orang yang semula diterima sebagai hadiah berharga itu, pada akhirnya berubah menjadi seorang pembunuh. Mereka memang tidak menghilangkan nyawa sesamanya, tetapi membunuh banyak bagian dalam kehidupan seseorang, seperti: membunuh impian dan harapan, kasih dan cinta, semangat dan motivasi, gagasan dan kreativitas, keinginan dan kehendak.

Banyak orang sering harus menguburkan beberapa bagian dari hidupnya, karena sudah dibunuh oleh orang lain, yang semula merupakan hadiah berharga dari Tuhan. Siapa diriku bagi orang lain: hadiah berharga atau pembunuh?

Teman-teman selamat siang dan selamat berhari Minggu. Berkah Dalem.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply