Meninggalkan Hidup Nyaman

< ![endif]-->

APA yang harus dilakukan apabila tiba-tiba kita mengalami situasi baru yang tak terduga? Tetap tenang? Kaget? Marah? Diam mematung karena bingung atau sebaliknya, menerima dengan hati terbuka?

Pada waktu saya berkunjung ke Shanghai, kota satelit dia China yang begitu modern itu saya dibuat terkejut dengan pemandangan yang ada di depan saya. Di tengah penampilan warga kota Shanghai yang wangi, rapi dan modis di dalam subway, mata saya tertumbuk pada celana yang dipakai anak-anak usia balita. Celana itu bolong, persis di bagian tengahnya.

Awalnya saya pikir, celana itu bolong karena robek. Akan tetapi ternyata bukan hanya satu anak saja yang memakai celana bolong melainkan setiap anak yang saya lihat semua memakai celana berlubang. Sambil curi-curi lihat, saya perhatikan ternyata celana bolong itu memang didesain seperti itu.

Celana bolong

Saya teringat buku Shocking China (2012) tulisan Sophie Mou, celana macam itu dikenal dengan nama kaidangku. China sepuluh tahun lalu adalah negara miskin dimana para orangtua tidak mampu membelikan pampers untuk anak-anaknya. Oleh karena itu mereka menjahit kaidangku agar kapan pun anak-anak ingin pee atau poep, mereka langsung buang hajat dan tidak perlu mengotori celana.

Ohw! Risih juga melihat anak-anak bercelana bolong berjalan kesana-kemari dan bebas buang urine di mana saja. Dalam hati saya bertanya, kok, ya tidak membeli celana “utuh” saja, toh sekarang penduduk China sudah maju dan tidak miskin lagi? Tentu saja tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan saya, sebab pertanyaan itu sudah hanyut dalam labirin pikiran saya yang mendadak awut-awutan.

Akan tetapi perjalanan ke Kota Satelit di China tetap mengesankan. Kabarnya inilah tempat penduduk terpadat di dunia di mana setiap jengkal tanahnya diperebutkan dengan harga amat mahal. Dan saya terdampar di sana sebagai salah satu jenis ras yang berbeda, yang masih terlongong-longong dengan apa saja yang saya lihat.

Tidak mudah menerima kenyataan bahwa ada jenis spesies lain yang berbeda warna kulit, berbeda cara pikir, berbeda cara berbicara dan berbeda cara hidup. Sebenarnya mereka sendiri tampak biasa saja bertemu saya, pendatang asing di negaranya. Bahkan mereka seperti tak peduli, mengamati saya pun tidak. Saya malah yang kepo sambil tak hentinya berpikir: Kok bisa, ya, orang makan nasi hanya pakai sumpit? Kok bisa, ya, orang cuek tidak basa-basi di dalam subway? Kok bisa, ya para pria berjalan-jalan di public place dengan perut terbuka tanpa pakaian? Seribu pertanyaan tanpa jawab menyerbu benak.

Night Train to Lisbon

Pengalaman saya tentu berbeda dengan kisah Raymund, profesor berumur 57 tahun yang tiba-tiba harus pergi ke Lisbon meninggalkan tugas mengajarnya di sebuah Universitas di Bern, Swiss (film Night Train to Lisbon, 2013).  Dikisahkan, suatu sore profesor tersebut melihat seorang wanita yang hendak bunuh diri di jembatan. Ia lantas menolong perempuan tersebut yang kemudian menghilang setelah diselamatkan.

Hanya mantel merah, sebuah buku karya Amadeu de Prado dan sebuah tiket kereta malam ke Lisbon yang ia tinggalkan. Berbekal tiket dan buku itu, Prof. Raymund akhirnya berada di Portugal, untuk mencari keberadaan perempuan yang namanyapun ia tidak tahu. Di sana, ia malah membiarkan dirinya hanyut dalam penggalan sejarah hidup yang rumit dari Amadeu de Prado, sang penulis buku. Selama beberapa waktu, ia seperti terhilang dari kampusnya dan masuk dalam sebuah kehidupan lain di Lisbon.

Prof. Raymund punya intensi khusus ke Lisbon dan ia siap dengan segala kemungkinan bahkan yang tersulit sekalipun. Meninggalkan mahasiswanya di Bern tanpa pamit dan terbelit dalam kisah hidup seseorang yang tak ia kenal sebelumnya pastilah beresiko buruk bagi reputasinya sebagai dosen. Tetapi ia sadar inilah saat ia keluar dari comfort zone. Ia ingin menemukan makna hidup.

Saya berandai-andai, kalau saja saya tidak mengiyakan rekan saya yang ngeyel ngajak saya backpacker-an ke Shanghai dan mengalami pelbagai hal baru, mungkin saya tetap jadi seseorang yang hidup nyaman senyaman-nyamannya dalam hidup harian saya. Hidup seadanya, tepatnya sekenanya. Pasrah dengan putaran roda yang diciptakan manusia lain atas saya.

Gedung bertingkat di People's Square Shanghai email

Dunia ini bergerak, tidak statis. Dalam buku Filosofi Kopi (2013), Dewi Lestari, menulis semesta itu mencair dan realitas hidup akan terus berubah. Hidup akan mengikis apa saja yang memilih untuk diam. Prof. Raymund dapat memilih diam saat ia menemukan buku lusuh dan tiket kereta api milik wanita misterius itu. Akan tetapi, ketika ia berada dalam dilema, ia memilih keluar dari zona nyaman. Meninggalkan rutinitas hariannya dan masuk dalam situasi baru yang tak terduga. Di sana ia memahami makna hidup yang selama ini ia cari-cari.

Luar biasa! Spirit seperti itu yang saya sering tumpulkan. Kalau bukan karena dipaksa atau kepepet, saya cenderung memilih hidup nyaman di zona teraman saya. Buat apa neko-neko. Begini saja sudah enak. Tidak usah cari masalah. Sejuta dalih mudah saya lontarkan karena gelombang otak saya menolak penderitaan dan kesusahan. Bukankah keluar dari zona nyaman berarti kemungkinan besar bertemu dengan kegagalan? Dalam hal ini siapa yang sudi gagal, apalagi sengaja gagal. Pada akhirnya idealisme lah yang mengalah demi kenyamanan.

Paul Sloane, dalam karyanya The Innovative Leader (2007), berpendapat lain.

Ia menulis begini : “Sering-seringlah gagal agar kesuksesan menghampiri Anda dengan cepat”. Dengan kata-kata itu, ia memotivasi orang-orang yang ingin maju tetapi takut gagal. Berani keluar dari diri sendiri dan berani melompati pembatas yang mengecilkan jati diri bukan perkara mudah sebab yang  menjadi lawan bukan orang lain tetapi diri sendiri.

Beranikah?

Photo credit:

  • Bocah lelaki dibiarkan pipis sembarangan di People’s Square, Shanghai, China (Mathias Hariyadi)
  • Gedung-gedung bertingkat di depan Museum Shanghai, China (Mathias Hariyadi)

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. nyaman hidup seadanya
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: