Menindas Yang Lemah

Ayat bacaan: Imamat 25:14
=========================
“Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.”

menindas, merugikan

Si kaya menindas si miskin, itu sudah menjadi cerita lama yang masih saja berlaku hingga hari ini. Bahkan mungkin jika boleh saya katakan semakin menjadi-jadi sejalan dengan perjalanan hidup manusia. Siapa yang berkuasa akan menindas yang lebih lemah sepertinya sudah menjadi hukum alam. Yang kaya menekan sesamanya yang lebih lemah dalam perdagangan, para majikan mempekerjakan pembantunya melebihi batasan normal tapi dengan upah yang ditekan serendah mungkin. Mereka terus dimanipulasi, dimanfaatkan dan diperalat karena tahu mereka butuh uang untuk tetap hidup. Tidak perlu memperhatikan kesejahteraan dan nasib mereka, diberi uang saja sudah bagus. Perilaku seperti ini terlihat wajar di dunia. Perhatikan kita bisa memberi tips besar ketika sedang senang-senang di restaurant, cafe dan sebagainya, tapi kesal ketika memberi sedikit sedekah atau sumbangan kepada pengemis, anak jalanan atau pengamen. Kepada tukang parkir kita bisa ribut karena perbedaan beberapa ratus rupiah, kepada tukang sayur kita tega menawar hingga puluhan rupiah sekalipun. Padahal bagi kita yang mampu jumlah itu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi bagi mereka itu sudah sangat besar artinya.

Tuhan kita adalah Allah yang penuh kasih. Dia sangat memperhatikan umatNya di muka bumi ini. Dia adalah Allah yang selalu memiliki belas kasihan. He is full with compassion. Sejak dahulu kala di jaman Musa, Tuhan sebenarnya sudah mengingatkan mengenai perintahNya agar kita semua bisa hidup rukun dan tidak merugikan satu sama lain. Tapi memang dasarnya sifat manusia sulit untuk diubah. Perilaku memperdaya yang lebih lemah terus saja berlanjut dari masa ke masa. Betapa sulitnya untuk taat kepada perintah Tuhan yang satu ini. Tidak membunuh orang, itu mungkin mudah. Tapi tidak memperdaya? Mungkin tidak secara sadar, tapi dosa ini begitu sering kita lakukan tanpa kita sadari. Anda pintar tapi tidak punya uang? Jangan harap bisa masuk ke perguruan tinggi yang baik. Anda berprestasi di kampus tapi tidak mampu memberi pelicin? Jangan harap menjadi pegawai negeri. Uang memegang peran paling penting di dunia ini. Orang terus berusaha mencari untung sebesar-besarnya dengan pengeluaran sekecil-kecilnya, tidak peduli apakah itu merugikan orang lain sekalipun.

Firman Tuhan turun melalui Musa di gunung Sinai yang melarang kita mencari untung dengan merugikan orang lain. “Apabila kamu menjual sesuatu kepada sesamamu atau membeli dari padanya, janganlah kamu merugikan satu sama lain.” (Imamat 25:14). Ini pesan penting yang seringkali kita abaikan dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai bentuk penipuan dihalalkan asal bisa menguntungkan diri sendiri. Menjual barang rusak dikatakan bagus, menipu pembeli dengan berbagai cara dihalalkan. Padahal itu jelas-jelas melanggar perintah Tuhan. Bentuk-bentuk yang merugikan itu sama sekali tidak sejalan dengan kasih yang menjadi inti dasar kekristenan. Firman Tuhan selanjutnya berkata Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” (ay 17). Orang yang takut akan Tuhan dengan sendirinya tidak akan tega merugikan orang lain. Tapi melihat kenyataan banyaknya orang yang terus dirugikan, ditindas, dijajah dan ditekan menunjukkan bahwa semakin lama semakin sedikit saja orang yang hidup dengan sebentuk rasa takut akan Tuhan.

Jangankan kepada yang lemah, kepada musuh sekalipun kita diingatkan untuk tidak boleh membenci, tapi harus membantu bahkan berdoa bagi mereka. “Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” (Lukas 6:27-28). Kita juga diminta untuk bisa bersikap seperti ini: “Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada orang yang mengambil kepunyaanmu.” (ay 30). Karena apalah perbedaan kita dari orang dunia jika kita pamrih dalam membantu orang lain. “Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak.” (ay 34). Karena itulah Tuhan Yesus secara khusus menekankan “Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.” (ay 35). Begitu murah hatinya Tuhan, yang juga mengasihi orang-orang yang tidak tahu berterimakasih dan jahat sekalipun. Bagi mereka kesempatan bertobat dan mendapat pengampunan serta keselamatan tetap disediakan Tuhan tanpa terkecuali. Karena itulah kita sebagai anak-anak Tuhan, sebagai umatNya di dunia ini diminta untuk “murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” (ay 36).

Kembali kepada firman Tuhan melalui Musa di gunung Sinai, Tuhan mengingatkan keharusan kita untuk taat kepada perintahNya agar kita bisa tetap berada dalam lindunganNya. “Demikianlah kamu harus melakukan ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-Ku serta melakukannya, maka kamu akan diam di tanahmu dengan aman tenteram.” (Imamat 25:18). Kasih tidak mengenal kecurangan dan hal-hal yang merugikan sesama kita, siapapun mereka itu. Yang lebih lemah justru seharusnya dikasihi dan dibantu, bukan malah semakin dirugikan. Jika apa yang kita lakukan sebaliknya, itu artinya kita tidaklah mengenal siapa Allah yang penuh belas kasih itu sebenarnya. “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8).

Orang percaya yang hidup dengan takut akan Tuhan tidak akan mau menekan yang lemah. Kita seharusnya punya perasan belas kasihan terhadap mereka, dan selalu rindu berupaya untuk membantu meringankan beban mereka. Tidak akan ada gunanya kekristenan yang kita miliki jika kita masih saja tega melakukan berbagai hal yang menguntungkan diri sendiri dengan mengorbankan mereka yang lebih lemah dari kita. Jika orang berdosa saja bisa mengasihi orang lain, mengapa kita yang mengaku percaya pada Kristus malah berlaku sebaliknya? Oleh karena itu ingatlah pesan Tuhan hari ini baik-baik. Tidak ada gunanya memperoleh keuntungan dengan merugikan orang lain, tapi sebaliknya, bantulah mereka dengan apa yang kita miliki. Segala berkat itu berasal dari Tuhan dan bukan dari dunia. Tuhan sanggup menurunkan berkatNya secara berkelimpahan kepada kita semua tanpa kita harus merugikan orang lain.

Sia-sialah iman kekristenan kita tanpa belas kasih

Follow RHO Twitter: https://twitter.com/DailyRHO

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: