Menikmati Kesunyian di Biara Cù Lao Giêng, Vietnam Selatan (2)

Cu Lao Gieng 2

JAUH  dari keramaian, biara ini memang cocok untuk menikmati kesunyian. Para suster tua sudah makan malam pada pukul 17.00. Setelah berdoa bersama, mereka bersiap-siap untuk beristirahat malam pada sekitar pukul 20.00. Jadi, setelah pukul 20.00 praktis sudah tidak ada “kehidupan” lagi. Kalaupun mau keluar menikmati keramaian, lokasi yang ramai pun jauh, yakni di ibukota propinsi di Long Xuyên, yang harus ditempuh dengan menyeberangi dua sungai.

Keheningan total

Saya mendapat kamar di bagian depan biara. Tidak ada televisi, tetapi listrik menyala 24 jam. Suasana begitu sunyi. Hanya sayup-sayup terdengar binatang malam yang sudah mulai keluar sarang. Suasana seperti ini sudah sangat jarang saya peroleh di Jakarta. Keadaan seperti ini mungkin juga akan saya peroleh jika berada di Biara Trappist Rawaseneng,Susteran Trappistin Gedono, atau tempat-tempat pertapaan lain di Indonesia.

Spiritualitas Konggregasi suster ini sebenarnya spiritualitas missionaris. Jadi, hidupnya tidaklah sangat ketat seperti para biarawan/biarawati yang hidup di biara atau pertapaan. Namun suasana yang saya rasakan lebih mirip suasana pertapaan dengan berbagai aturan tentang “silentium” / keheningan yang relatif ketat.

Cu Lao Gieng 3Acara para suster dimulai di pagi buta. Pukul 04.00 mereka bangun, dilanjutkan dengan acara doa komunitas. Pukul 05.00 misa pagi sampai pukul 06.00, dilanjutkan dengan meditasi dan doa pribadi. Makan pagi dimulai pukul 07.00.

Setelah itu sampai sore sebenarnya acara bebas. Namun saya melihat para suster memanfaatkan waktunya untuk masuk keluar kapel, berdoa, bermeditasi ataupun bercakap-cakap antar mereka. Sebuah kebiasaan yang sama sekali lain dengan yang saya lakukan selama di Jakarta.

Sewaktu sarapan bersama dengan suster Lina, beliau bertanya pada saya,”Masih tahan dengan suasana sunyi di sini?”

Saya hanya senyum-senyum.

CemeteryKendati singkat, perjalanan ke biara tua tersebut sangat mengesan. Tidak hanya kesunyian suasana yang sudah jarang saya peroleh di Jakarta, namun juga bagaimana saya menemukan biara terpencil tersebut.

Selain suster Lina yang sudah wafat, ada dua suster lain lagi yang saya kenal di biara tersebut. Selain itu ada dua suster dari konggregasi sama yang, kendati sudah berusia lebih dari 60 tahun, masih aktif berkarya di Kamboja. Mereka juga kukenal baik saat saya berada di Kamboja 16 tahun lalu. Jadi, kesempatan untuk berkunjung kembali ke biara tua ini masih terbuka.

Photo credit: Mispan Indarjo
Tautan:

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: