Mengurai Benang Kusut

Ayat bacaan: Yunus 1:3
==================
“Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.”

mengurai benang kusut, jangan lari dari masalah, menghadapi masalah

Setiap kali saya hendak membersihkan CPU komputer, saya selalu saja harus berhadapan dengan kabel-kabel yang kusut, saling berbelit-belit di belakang. Saya selalu harus merapikan kabel-kabel itu, mengurainya satu per-satu agar kembali rapi. Hari ini rapi, besok-besok ketika saya harus membuka CPU lagi, saya akan kembali berhadapan dengan kabel berseliweran dan saling mengikat satu sama lain. Saya membayangkan, jika merapikan kabel komputer yang berbelit-belit saja sudah repot, apalagi jika harus mengurai benang kusut. Wah, repotnya bukan main. Bisakah kabel atau benang itu terurai rapi dengan sendirinya? Tentu tidak bukan? Jika dibiarkan, bukan saja tetap kusut, malah bisa bertambah kusut dan semakin lama akan semakin merepotkan jika hendak diurai. Dibutuhkan tangan-tangan untuk mulai mengurai benang-benang kusut itu satu persatu, karena kabel atau benang tadi tidak akan pernah bisa terurai dengan sendirinya.

Masalah dalam hidup kita pun seringkali demikian. Begitu banyak dan saling berkait, sehingga kita bingung harus mulai dari mana untuk menyelesaikannya. Semakin lama anda biarkan, maka masalah akan semakin berbelit-belit, semakin “complicated” dan akan semakin menyulitkan untuk diselesaikan. Dulu saya termasuk orang yang punya sifat selalu lari dari masalah dan tidak mau menyelesaikannya. Saya selalu berpikir, “mudah-mudahan”, masalah itu akan berlalu dengan sendirinya. Padahal itu tidak mungkin. Tidak ada masalah yang bisa selesai dengan sendirinya. Akibatnya masalah-masalah itu tidak pernah selesai dan selalu saja semakin mempersulit saya di kemudian hari. Masalah memang memusingkan, dan seringkali membuat kita menderita, apalagi kalau sudah berbelit seperti benang kusut. Tapi seperti benang kusut membutuhkan tangan-tangan untuk mengurai, hidup kita pun membutuhkan sebuah langkah dengan tindakan untuk mulai menguraikan kemudian menyelesaikan masalah-masalah itu satu persatu.

Yunus mendapat amanat untuk pergi ke Niniwe guna menyampaikan pesan Tuhan. “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku.” (Yunus 1:2). Itu jelas bukanlah perkara gampang dan menyenangkan. Dan Yunus pun merasa demikian. It was a big problem to him, and then, he decided to run from it. Yunus memilih untuk kabur, seperti yang kita baca pada ayat bacaan hari ini. “Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.” (ay 3). Kita tahu apa akibatnya kemudian. Yunus dilempar ke luar dari kapal, dicampakkan ke laut dan ditelan oleh ikan besar. Salah satu hal yang bisa kita pelajari dari kisah Yunus adalah, bahwa lari dari masalah bukanlah solusi yang benar. Lari dari masalah tidak akan menyelesaikan masalah, malah akan menambah masalah lebih banyak lagi.

Para tokoh Alkitab tanpa terkecuali punya problema sendiri-sendiri. Tidak ada satupun tokoh Alkitab yang digambarkan hidup tanpa masalah. Dan memang, kekristenan tidak pernah mengajarkan sebuah jaminan untuk 100% tanpa masalah. Dari Perjanjian Lama: Abraham, Daud, Musa, Ayub dan lain-lain, hingga Perjanjian Baru seperti Petrus, Paulus dan lain-lain, semua punya pergumulan mereka sendiri. Tapi kita belajar satu hal, bahwa lewat masalah mereka-lah kemudian Tuhan menyatakan diriNya, dan ketaatan mereka membuat mereka mampu menyelesaikan masalah. Mereka sukses melewati uji kemurnian iman. Mereka semua adalah tokoh-tokoh nyata dimana kita bisa belajar dari pengalaman hidup mereka.

Tadi siang saya mengajarkan pada murid-murid saya untuk jangan pernah lari dari masalah. Stand up and face your problem like a real man should! Saya mengalami sendiri sebuah transformasi diri, dari orang yang selalu lari dari masalah menjadi orang yang selalu menjadikan masalah sebagai sebuah kesempatan untuk belajar dan bertumbuh. Di saat saya ada dalam zona nyaman saya, saya tidak akan belajar, dan tidak akan bertumbuh.  Lagipula berbagai masalah yang mungkin bagi kita sudah tidak mungkin bisa selesai itu hanyalah merupakan lahan subur bagi Tuhan untuk membuat keajaiban. Masalah bisa membuat kita salah langkah, namun bisa pula membuat iman kita bertumbuh, melatih diri kita untuk mengandalkan Tuhan dan membuat kita justru semakin dekat padaNya.

Yang penting adalah keberanian kita untuk menghadapi masalah. Hadapi masalah itu bersama Tuhan,  dan jangan pernah berjalan sendirian. Dalam Amsal tertulis demikian: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5-6). Dia akan selalu ada bersama kita yang percaya dan selalu siap membantu. Lalu dalam Yosua kita membaca: “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung. (Yosua 1:6). Inilah yang kita perlukan. Selalu taat pada Tuhan, mau menyerahkan hidup kita sepenuhnya pada Dia, melakukan apapun dalam hidup kita dalam nama Yesus, maka anda tidak lagi perlu lari dari masalah. Hadapi masalah itu, karena Tuhan kita jauh lebih besar dari semua masalah anda.

Beranikan diri untuk menghadapi masalah karena kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari itu semua

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply