Mengorbankan Penampilan

Ayat bacaan: Filipi 2:6,7
=======================
“yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

mengorbankan penampilan

Ada beberapa aktor dan aktris serius yang rela mengorbankan ketampanan dan kecantikannya demi sebuah peran yang mereka mainkan. Ambil contoh bagaimana Robert deNiro menggemukkan dirinya dalam film untuk memerankan tokoh petinju dalam film “Raging Bull” tahun 1980. Sylvester Stallone pernah melakukan hal yang sama untuk film “F.I.S.T.” Christian Bale menguruskan dirinya secara drastis hingga membahayakan kesehatannya demi peran dalam film “The Machinist”. Akrtis Charlize Theron rela membuat dirinya terlihat jelek untuk memerankan tokoh dalam film “Monster.” Ini adalah beberapa contoh dari keseriusan aktor dan aktris dalam memerankan karakter mereka. Ketika sebagian besar artis ingin terlihat cantik dan tampil glamor, mereka rela mengorbankan itu semua demi peran. Bisa jadi mereka akan ditertawakan orang yang berpapasan dengan mereka, tapi itu tidak mereka pedulikan. Bagi para pemeran film ini, pencapaian atau hasil yang bisa mereka raih jauh lebih penting ketimbang hanya sekedar terlihat indah secara fisik saja.

Yesus pun melakukannya demi sebuah tujuan yang jauh lebih penting dari tujuan apapun yang mendasari ke-empat contoh pemain film di atas. Dia turun ke dunia untuk menggenapi tugas yang diberikan Bapa kepadaNya, yaitu untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan yang kekal. Kasih yang begitu besar ternyata mampu menggerakkan hati Allah untuk menyelamatkan manusia, sebuah anugerah yang diberikan justru ketika kita masih berdosa. “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih  berdosa.” (Roma 5:8). Yesus pun turun ke dunia dalam misi penyelamatan itu. Untuk melakukannya jelas tidak mudah. Yesus harus melewati beragam penyiksaan hingga harus mati di atas kayu salib menggantikan kita semua dan kemudian dengan gemilang mengalahkan maut. Dia cukup melakukannya satu kali, dan keselamatan atas diri kita pun berlaku untuk selama-lamaNya, dari satu generasi ke generasi selanjutnya. “Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.” (6:10). Tapi sebelum sampai kepada penggenapan atau penyelesaian misi itu, sejak semula Yesus sudah rela mengorbankan segalanya atas dasar kasih yang begitu besar bagi manusia. Dia rela mengorbankan diriNya, hakNya, statusNya, tahtaNya untuk kita semua.

Yesus hadir di dunia bukan dalam status sebenarnya sebagai Raja di atas segala raja. Dia “datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Matius 20:28). Untuk melakukan itu Yesus tidak memerlukan kondisi fisik yang super ganteng, gagah, tegap, memakai jubah raja termewah. Yesus tidak meminta fasilitas termegah yang bisa disediakan di bumi ini. Dia tidak butuh red carpet, hotel bintang 5, kereta kuda lux dan sebagainya. Lihatlah bagaimana bentuk jiwa Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (Filipi 2:6-7). Meski Yesus seharusnya berada dalam rupa dan kesetaraan dengan Allah, namun Dia memilih untuk meninggalkan itu semua demi kita. Yesus memilih untuk mengosongkan diriNya, mengambil rupa bukan orang tergagah atau terganteng yang pernah ada. Yesus justru mengambil rupa seorang hamba, menjadikan diriNya sama dengan manusia biasa. Ketika dunia mementingkan penampilan, Yesus menunjukkan jiwa sebaliknya. Selanjutnya dikatakan “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ay 8). Bayangkan Raja di atas segala raja mau berkorban sampai sedemikian rupa demi kita.

Jauh sebelum kedatangan Kristus, nabi Yesaya secara rinci sudah menubuatkan bagaimana Yesus akan datang dan apa yang harus dialamiNya demi menyelamatkan kita. Bacalah dengan lengkap Yesaya 52:13-53:12 yang dengan jelas menggambarkan semuanya. “Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknyapun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupapun tidak, sehingga kita menginginkannya. Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.” (Yesaya 53:2-4).

Seorang manusia biasa saja yang mau mengorbankan penampilannya demi sebuah kepentingan sudah bisa membuat kita kagum, sekarang bayangkan seorang Raja di atas raja manapun mau meninggalkan tahtaNya, mengambil rupa seorang hamba yang sama sekali tidak memiliki rupa menarik, menjadikan dirinya sama seperti kita, datang untuk melayani dan melakukan segalanya demi keselamatan kita. Bukankah itu suatu perbuatan yang teramat sangat besar? Tuhan tidak berhutang pada kita. Kita terus berbuat dosa menyakiti hatiNya, tetapi kasih yang Dia miliki sungguh besar hingga mampu menggerakkanNya untuk melakukan sesuatu yang begitu hebat, menanggung semua penderitaan, mengorbankan diriNya sendiri habis-habisan  demi kita. Sulit dipercaya ketika Tuhan rela mengorbankan anakNya sendiri untuk menebus kita, mengeluarkan kita dari dosa dan meletakkan kita dalam keselamatan. Ketika ada godaan dosa yang membuat kita mulai goyah, ingatlah akan hal ini. Hargailah semua yang telah dilakukan Yesus bagi kita, jangan sia-siakan pengorbananNya yang begitu besar. Kepada kita semua sudah diberikan keselamatan sebagai hasil dari kasih karunia, jangan biarkan keselamatan itu menguap dari diri kita. Saatnya bagi kita untuk merenungkan betapa luar biasa kasih Kristus kepada kita.

“Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: