Mengingini Milik Orang Lain

Ayat bacaan: Keluaran 20:17
======================
“Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

mengingini milik orang lain, serakah

“Waduh cantiknya… tapi sayang sudah ada yang punya.. coba jadi pacar gue..” kata seorang siswa di kampus tempat saya mengajar sambil cengar-cengir. Komentar itu keluar ketika ia melihat seorang gadis yang sedang duduk di kantin bersama pasangannya. Komentar seperti ini atau yang mirip-mirip mungkin biasa kita dengar, atau mungkin kita ucapkan tanpa sadar. Bisa jadi kita melihat mobil mewah, rumah yang indah, baju, sepatu, atau lainnya. Sebuah keinginan tidak harus selalu salah, karena keinginan bisa memotivasi kita untuk berusaha lebih giat. Namun pada titik tertentu, mengingini milik orang lain bisa menjadi sebuah awal yang mengarahkan kita untuk terjerumus jatuh ke dalam berbagai dosa.

Ketika kita mulai menginginkan milik orang lain, rasa iri hati mudah timbul. Ketika iri hati timbul, cercaan atau hujatan, bahkan kutukan bisa keluar dari kita. Ada banyak orang yang kemudian tergiur untuk korupsi, mencuri bahkan membunuh ketika mereka tidak lagi bisa mengendalikan dirinya dari mengingini milik orang lain. Maka Tuhan pun mengingatkan sejak awal mengenai hal ini. Dalam 10 Perintah Allah, firman ke 10 berbunyi demikian: “Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.” (Keluaran 20:17). Menginginkan milik orang lain tidak berbeda jauh dengan serakah. Serakah adalah sebuah rasa tidak puas yang muncul atas apa yang sudah diperoleh dan selalu ingin memperoleh lebih dari sesuatu yang bukan milik kita. Bentuk mengingini milik orang lain yang mengarah pada keserakahan atau ketamakan, rasa tidak pernah puas ini bisa membawa kita ke dalam banyak bentuk dosa. Mari kita lihat salah satu contoh. Lihatlah kisah antara Daud dan Batsyeba. Daud menginginkan Batsyeba, yang bukan miliknya. Ia berhasil mengambil Batsyeba, ini melanggar perintah Allah ke 8, “jangan mencuri” (ay 15). Ia melakukan skandal dengan Batsyeba yang merupakan istri orang lain, ini melanggar perintah ke 7, “jangan berzinah” (ay 14). Lalu ia mengatur agar suami Batsyeba mati terbunuh, ini melanggar perintah ke 6, “jangan membunuh”. (ay 13). Serangkaian pelanggaran firman Tuhan ini semuanya bermula ketika Daud menginginkan Batsyeba, yang notabene bukan miliknya. Jika kita tidak mengendalikan keinginan kita dengan hati-hati, kita bisa terjerumus ke dalam serentetan dosa.

Dosa mengingini milik orang lain ini termasuk salah satu dosa yang “samar”, karena tidak begitu kelihatan sebagai sebuah dosa seperti membunuh misalnya. Namun kita harus tetap waspada, karena hal tersebut bisa menjadi awal dari kejatuhan kita. Paulus berulang kali mengingatkan kita agar mewaspadai bentuk keserakahan yang timbul akibat mengingini sesuatu yang bukan milik kita. Keserakahan menurut Paulus sama dengan penyembahan berhala yang mendatangkan murka Allah. “Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).” (Kolose 3:5). Akibatnya orang-orang yang dikuasai keinginan berlebihan dan tidak mampu mengendalikannya tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. “Karena ingatlah ini baik-baik: tidak ada orang sundal, orang cemar atau orang serakah, artinya penyembah berhala, yang mendapat bagian di dalam Kerajaan Kristus dan Allah.”(Efesus 5:5). Dalam sebuah firmanNya, Yesus menyinggung soal ini. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28). Semua ini mengingatkan kita harus hati-hati dalam menyikapi sebuah keinginan.

Sebuah keinginan bisa memikat orang untuk menjadi jahat. Yakobus menggambarkan alurnya dengan sangat jelas : “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yakobus 1:14-15). Sebuah keinginan berlebihan untuk memiliki milik orang lain menunjukkan bahwa kita belumlah bisa mensyukuri segala yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Untuk mengendalikan keinginan seperti ini, kita harus bisa belajar untuk bersyukur. Ingatlah bahwa Tuhan telah begitu banyak memberkati dan melengkapi segalanya bagi saya dan anda untuk sukses. Untuk itu, kita haruslah berterima kasih dan memenuhi mulut kita dengan ucapan syukur. “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Kita harus mampu mengolah segala talenta yang telah diberikan Tuhan kepada kita, dan yang paling penting, teruslah mencari Kerajaan Allah beserta kebenarannya, maka semua akan ditambahkan Tuhan pada kita. (Matius 6:33). Dan dalam setiap langkah atau proses, tetaplah bersyukur. Apa yang terbaik bagi orang belum tentu terbaik bagi kita. Kita belum tentu tahu apa yang terbaik, Tapi Tuhan tahu pasti apa yang terbaik untuk kita, dan Dia telah menyediakannya. Hindarilah pikiran-pikiran yang mengingini milik orang lain, dan isilah selalu pikiran dan hati kita dengan ucapan syukur. Tuhan mengajak kita untuk merasa puas dengan segala yang telah Tuhan berikan. Berterimakasih dan bersyukurlah.

Mengingini milik orang lain adalah awal dari serangkaian dosa yang mengarahkan kita ke dalam maut

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply