Menghukum Anak

Ayat bacaan: Amsal 13:24
======================
“Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.”

menghukum anakSetiap orang memiliki sifat atau karakter masing-masing yang dibawa sejak lahir, tidak terkecuali anak-anak. Ada yang memang terlahir kalem, ada pula yang sangat aktif dan bandel. Seorang teman memiliki dua anak yang sudah tumbuh remaja, dan puji Tuhan keduanya tumbuh menjadi anak-anak baik yang takut akan Tuhan. Apakah keduanya punya sifat yang sama? Tidak juga. Tapi sepertinya cara teman saya mendidik merekalah yang mampu membentuk keduanya memiliki sikap baik seperti itu. Ia bercerita bahwa ketika anak-anaknya masih kecil ia sudah mulai membimbing mereka dengan tegas. Tegas dalam artian, ketika harus dihukum ya dihukum. Tergantung dari tingkat kesalahan. Jika masih bisa cukup dengan diingatkan tentu tidak harus dihukum. Tapi ketika kesalahan yang dilakukan si anak cukup berat, maka mau tidak mau hukuman harus diberikan. Yang harus diingat adalah bahwa tujuan memberikan hukuman adalah agar si anak menyadari kesalahannya, untuk tujuan mendidik, dan bukan untuk menyiksa mereka. Karena ada banyak orang yang menjadikan anaknya sebagai sasaran luapan kekesalan atau kemarahan mereka. Ini bukanlah bentuk hukuman yang membangun, karena yang terjadi mungkin sebaliknya. Anak akan semakin bandel dan punya karakter kasar setelah mereka besar nanti.

Apa kata Alkitab mengenai mendidik anak? Amsal Salomo berbicara banyak mengenai hal ini. “Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.” (Amsal 13:24). Lihatlah bahwa ketika kita memanjakan anak secara berlebihan dan tidak memberi hukuman ketika mereka berbuat salah, itu bukan berarti kita menyayangi anak, malah dikatakan sebaliknya, bahwa itu berarti kita membenci mereka. Saya sering menggambarkan anak kecil bagaikan kertas kosong. Seperti apa isinya nanti sangatlah tergantung dari seperti apa kita menulisnya. Jika kita ingin mereka menjadi orang-orang yang takut akan Tuhan dan hidup mencerminkan Kristus kelak, maka kita harus mulai mendidik mereka dengan benar sejak dini. Dan itu termasuk memberi hukuman yang bukan didasari oleh pelampiasan, tetapi oleh kasih. Alkitab tidak mengajarkan kita untuk memberi hukuman yang hanya didasari kekerasan sebagai pelampiasan kemarahan. Lihatlah ayat berikut ini: “Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya.” (Amsal 19:18). Emosi yang ditumpahkan seperti itu hanya akan menimbulkan luka dan kemarahan dalam hidup mereka. Lebih lanjut firman Tuhan pun mengingatkan “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Efesus 6:4). Itulah sebabnya kita harus mendasari didikan, hajaran atau hukuman dengan kasih.

Dengan kasih. Seperti itu pula Tuhan mendidik kita. Ada kalanya kita pun harus melalui hukuman Tuhan yang mungkin menyakitkan, tetapi itu semua Dia lakukan bukan untuk menyiksa kita, tetapi justru karena besar kasihNya pada kita. “..Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6). Sekali lagi, itu karena Dia menganggap kita sebagai anak yang sangat Dia kasihi. Oleh karena itulah kita harus memperhatikan baik-baik ajaranNya, dan jangan berkecil hati jika kita diperingatkan Tuhan. (ay 5). “Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang.” (ay 8). Justru kita harus bersyukur ketika ditegur atau dihukum Tuhan, karena itu artinya kita adalah anak-anak yang dikasihiNya. Tuhan selalu rindu agar kita menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari. Dan untuk membentuk karakter seperti itu, memang ada kalanya kita harus mendapat ganjaran atas kesalahan kita. Tidak enak memang, tapi bayangkan jika Tuhan membiarkan saja kita terus menuju jurang kebinasaan yang kekal. Tidakkah jauh lebih baik dihukum sekarang daripada dibiarkan binasa?

Seperti cara Tuhan mendidik kita, demikian pula seharusnya kita mendidik anak-anak kita. Tuhan menghajar orang bukan karena membenci, tetapi justru karena mengasihi. Itu pula yang harus menjadi dasar dalam mendidik anak-anak. Jangan lupa pula untuk memperlakukan masing-masing dengan mempertimbangkan sifat-sifat dasar mereka. Seringkali yang terbaik untuk dilakukan bukan menyamaratakan semuanya, tetapi berlaku adil dilakukan dengan memikirkan apa yang terbaik bagi masing-masing anak, karena firman Tuhan berbunyi “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6). Apa yang kita ajarkan sekarang akan sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter mereka di masa depan.

Didiklah anak-anak kita sejak masa kecilnya, dan berikan hukuman jika memang harus. Tapi dasarilah itu semua dengan kasih dan bukan kemarahan. Kenalkanlah Kristus dengan segala kebaikanNya sejak dini. Jangan lupa pula bahwa sebagai orang tua, kita pun harus selalu mampu memberi contoh teladan lewat sikap hidup dan perbuatan kita sendiri. Lihatlah dalam kitab Ulangan. Setelah mengajarkan para orang tua untuk “mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:7), ayat selanjutnya menuntut para orang tua untuk menjadi contoh secara langsung seperti apa yang diajarkan kepada mereka. “Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (ay 8-9). Berikan mereka contoh peran yang baik. Seperti apa kita mendidik mereka saat ini akan menghasilkan seperti apa mereka kelak di kemudian hari. Pada saatnya kelak kita akan bersukacita melihat anak-anak kita bertumbuh dalam kekudusan dan tidak mudah terpengaruh arus sesat dunia. Anda rindu untuk menikmati itu? Mulailah mendidik mereka dengan benar sesuai firman Tuhan hari ini juga.

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.” (Mazmur 127:4)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: