Menghindari Pertengkaran (2) : Cepat Mendengar

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=====================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

menghindari pertengkaran, cepat mendengar

Gesekan-gesekan kecil merupakan hal yang lumrah dalam rumah tangga ataupun dalam pertemanan. Kita semua memiliki kepribadian yang berbeda, pola pikir untuk menyelesaikan masalah berbeda, cara menghadapi persoalan pun bisa berbeda. Beda pendapat tentang banyak hal, itupun bisa membuat kita sekali waktu merasa kesal atau berselisih dengan orang yang dekat dengan kita. Sayangnya seringkali gesekan kecil itu dibiarkan hingga berkembang menjadi besar. Di jaman dahulu kala ketika belum ada korek api, orang menggesek-gesekkan kayu atau membenturkan batu untuk memperoleh api. Api yang muncul bermula kecil saja, bahkan jika batu yang diadu hanya menimbulkan percik kecil. Tetapi api ini bisa menjadi sebuah nyala yang besar pada suatu ketika. Demikian pula dalam hubungan keluarga dan pertemanan. Sebuah pertengkaran sering dimulai dari hal yang kecil dan sepele, namun ketika emosi meningkat, emosi mulai tidak terkendali dan bagaikan api terus membesar dan menyambar kemana-mana. Padahal jika dikembalikan pada pokok masalah, mungkin tidaklah sulit untuk diselesaikan. Tapi ketika kemarahan sudah memuncak, perselesihan sudah menyambar kesana kemari dan tiba-tiba sudah jauh dari pokok masalah. Seperti api besar bisa membakar habis rumah, sebuah area luas bahkan satu kota, begitu pula hubungan antara satu dengan yang lain.

Seperti kemarin kita lihat, kita harus menghindari pertengkaran sedini mungkin sebelum itu menjadi tidak lagi bisa kita kendalikan. Yakobus mengingatkan sebuah ayat yang baik dijadikan dasar untuk menghindari hal tersebut. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Ini tiga prinsip penting yang bisa menjaga situasi agar tidak berkembang lebih parah. Hari ini kita mulai dari prinsip pertama dulu, yaitu cepat untuk mendengar.

Berbeda pendapat itu normal, tidak sepakat itu biasa, namun diatas semua itu kita harus membiasakan diri kita untuk mau mendengar terlebih dahulu. Dengarkan dulu baik-baik alasan dan pendapat mereka lalu cobalah komunikasikan dengan cara-cara yang baik, sopan dan beradab. Perselisihan kerap diakibatkan oleh karena ego kita sendiri, menganggap bahwa hanya kita yang benar. Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pun menjadi marah. Temperaturnya bisa memuncak ketika kita membiarkan semua itu terus berkembang menjadi semakin parah. Lewat Yakobus kita diingatkan untuk mau memberi sebuah ruang tertentu dengan menjadi pendengar yang baik. Ini akan membuat kita mampu memandang sebuah permasalahan dengan lebih jelas sebelum buru-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan pandangan kita sendiri.

Kita bisa melihat satu contoh dari tanggapan Yesus ketika Dia berkunjung ke rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42). Pada saat itu Marta memilih untuk sibuk melayani, tetapi Maria memilih untuk diam di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Yesus menganggap bahwa apa yang dilakukan Maria adalah “memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay 42). Begitu pentingnya untuk mau mendengar dengan hati yang lembut. Bukanlah kebetulan Tuhan memberikan kita sepasang telinga sebagai indra untuk mendengar. Dua telinga dan satu mulut, itu menunjukkan bahwa mendengar itu lebih penting ketimbang berbicara. “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar..” (Lukas 8:18).

Dari Marta dan Maria di atas kita bisa melihat bahwa soal mendengar ini pun termasuk kesediaan kita untuk mendengar apa kata Tuhan. seringkali kita tidak mendengar apa kata Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan wishlist kita di setiap doa. Bisa jadi juga kita tidak mau melembutkan hati untuk menerima nasihat, teguran dan kebenaran. Jangan keraskan hati ketika Tuhan berbicara. Jangan cepat membantah, tapi dengarkanlah dahulu baik-baik apa kata Tuhan. Miliki hati yang peka sehingga kita bisa mendengar bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!” (Ibrani 4:7)

Ada saat dimana kita harus berbicara dan bersikap, namun ada juga saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik akan mampu mendengar dengan cepat dan cermat sebelum menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa atau terburu-buru menuduh apalagi menyerang. Hati yang cepat mendengar akan akan membuat kita mampu melihat dengan lebih jelas permasalahan dari sudut pandang orang lain. sehingga bisa menghindarkan kita dari amarah berlebihan yang tidak akan menguntungkan siapapun tapi malah merugikan banyak orang.

Cepatlah mendengar bukan cepat menentang atau menyerang

Follow us on twitter: http://twitter.com/daiyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

2 Comments

  • saya sangat senang dengan jenis khotbah yang diawali dengan ilustrasi kecil sehingga khotbah tersebut dapat dimengerti oleh orang yang membaca atau yang mendengar.

  • Saya rasa setiap orang punya kemampuan untuk menyampaikan khotbah secara terbuka, tetapi khotbahnya harus yang membuat orang yang membaca atau yang mendengar terinspirasi dengan baik.Paling tidak dengan khotbah itu dapat menubah pola fikir orang lain agar bertindak lebih baik dari sebelumnya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: