Menghindari Pertengkaran (1)

Ayat bacaan: Amsal 17:14
====================
“Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.”

mengindari pertengkaran

Pertengkaran merupakan bunga dalam kehidupan. Itu kata bijak yang hingga batas-batas tertentu ada benarnya. Bertengkar itu tanda dekat, kata yang lain lagi, dan juga dianggap bagaikan bumbu yang melezatkan kehidupan keluarga. Tapi apabila frekuensinya dan intensitasnya tinggi, itu bukan lagi menjadi bunga dalam kehidupan melainkan benalu yang bisa mematikan. Ibarat memasak dengan bumbu yang terlalu banyak, rasanya bisa tidak karuan. Sebuah keluarga bisa sejuk, damai dan tentram penuh kasih bagai surga, tapi sebaliknya bisa panas membara dan menyiksa seperti neraka. Demikian pula dalam pertemanan. Ada seorang teman yang pernah menangis mengeluarkan isi hatinya karena ia bertengkar hebat dengan sahabat dekatnya. Untungnya ia memilih untuk tidak meneruskan perselisihan dan menjauh dulu untuk sementara waktu. Puji Tuhan, kemarin ia dengan gembira bercerita bahwa sahabatnya baru saja menelepon dan mengatakan rindu untuk bertemu dan kembali bersama seperti sedia kala.

Alkitab mengingatkan dalam begitu banyak kesempatan akan bahaya memupuk pertengkaran. Perhatikan sebuah ayat dalam Amsal yang tegas mengatakan hal itu. “Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” (Amsal 17:14). Saya pernah lupa menutup keran karena pada saat itu air sedang macet. Ketika pulang saya pun terperanjat melihat ruang tamu, dapur dan kamar tidur semuanya tergenang air bagai banjir yang masuk ke rumah. Betapa repotnya membersihkan semua itu, tapi syukurlah air tidak sampai terlalu tinggi dan merusak berbagai peralatan elektronik yang ada di rumah. Itu baru lupa menutup keran. Bayangkan seandainya tanggul jebol. Itu bisa sangat berbahaya dan menghilangkan nyawa penduduk di sekitarnya. Seringkali jebolnya tangul bukan disebabkan oleh pecahan besar, tapi justru bermula dari retakan kecil di salah satu bagian dindingnya. Seperti itu pula seharusnya kita menyikapi sebuah pertengkaran. Berhentilah secepatnya sebelum pertengkaran itu menjadi tidak terkendali.

Pertengkaran bisa berawal dari berbagai sebab yang biasanya dimulai dengan perselisihan akan hal kecil. Kita terbiasa memandang pertengkaran sebagai sebuah hubungan sebab akibat karena kita tidak mau disalahkan, tetapi Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari nafsu duniawi yang ada dalam diri kita. “Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi.” (Yakobus 1:4-5a). Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. “Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul.” (Amsal 30:33).

Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan sejenisnya pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Masalah yang timbul bisa diselesaikan baik-baik pada saat yang tepat, tidak terburu-buru. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. “Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran.” (Amsal 17:19).

Jika kita terbiasa untuk lekas emosi, mudah naik pitam untuk hal-hal yang kecil sekalipun, sekarang saatnya untuk mulai belajar mengendalikannya. Kita harus bersikap tegas terhadap pertengkaran, bukan membiarkannya merusak hidup kita sendiri dan orang lain. Kita harus cermat menjaga agar tanggul pertahanan emosi kita tetap kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh kemarahan yang pada suatu saat tidak lagi bisa kita kendalikan. Alkitab juga mengatakan bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. “Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (Yakobus 1:20). Firman Tuhan juga mengingatkan “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Dengan menghindari pertengkaran sedini mungkin, anda akan melihat bahwa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa pertengkaran yang disertai emosi yang tidak terkontrol.

Menghindari pertengkaran harus dilakukan secepatnya sebelum menjadi bola api yang menghanguskan banyak orang termasuk kita sendiri. Bagaimana tips yang baik untuk mencegahnya? Alkitab memberi beberapa tips untuk itu dan sebagian sudah kita lihat dalam renungan hari ini. Tapi ada sebuah ayat yang sangat baik untuk kita ingat untuk mencegah pertengkaran, yaitu lewat kitab Yakobus. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:19). Tiga hal ini: cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah merupakan tips manjur untuk mencegah kita untuk terjebak dalam pertengkaran. Tiga hari ke depan kita akan melihatnya satu persatu.

Bersikap tegaslah terhadap pertengkaran dan jangan tergoda untuk memulai apalagi membiarkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. kata bijak untuk orang yg berteng
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: