Menghindari Gesekan dalam Pelayanan (1)

0
18

Ayat bacaan: Yohanes 12:26
=======================
“Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

menghindari gesekan

Gesekan bisa dan mungkin biasa terjadi dimanapun kita berada. Bertemu dengan orang yang sama setiap harinya, bisa saja ada saat-saat dimana sesuatu yang tidak disengaja baik perbuatan maupun perkataan dari rekan menyinggung perasaan kita. Dari kita sendiri pun hal itu mungkin terjadi. Bukan saja di kantor/tempat kerja, di tempat kita tengah menimba ilmu, atau di lingkungan tetangga saja, tetapi dalam pelayanan pun hal ini mungkin terjadi. Hamba-hamba Tuhan pun adalah manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan. Gesekan jika tidak diselesaikan dengan cepat bisa menimbulkan perselisihan atau sakit hati yang berkepanjangan, dan kalau dibiarkan bisa membuat benih dendam mulai tumbuh dalam hati. Ada seorang teman yang melayani sebagai anggota tim musik berselisih dengan salah seorang rekannya yang lebih senior. Begitu besar rasa tersinggungnya sehingga ia memutuskan untuk keluar dari pelayanan, bahkan kemudian pindah Gereja. Lihatlah bahwa emosi duniawi pun masih bisa terjadi dalam lingkungan pelayanan, dikalangan hamba-hamba Tuhan sendiri. Ini adalah sesuatu yang sangat mungkin terjadi, namanya juga sama-sama manusia yang punya banyak kekurangan. Tapi bukan berarti hal itu boleh dianggap lumrah dan dibiarkan saja. Seorang pelayan tentu seharusnya mematuhi tuannya, dan hal yang sama pun seharusnya menjadi pertimbangan dari para pelayan Tuhan.

Beda orang beda tujuan. Orang boleh sama-sama melayani, namun tujuan melayani bisa berbeda-beda pada masing-masing individu. Ada yang murni untuk Tuhan, tapi ada pula yang karena ingin menonjol, paksaan keluarga/pacar dan berbagai alasan lain. Apa yang menjadi motivasi bisa jelas terlihat ketika pelayanan kita mendapat gesekan baik dari sesama teman pelayanan bahkan ketika mendapat penolakan dari orang yang kita layani. Jika belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional, seperti mengundurkan diri dari pelayanan, menghujat atau yang lebih ekstrim langsung pindah Gereja, itu artinya kita belum sampai pada visi yang benar dalam melayani Tuhan, dan itu juga berarti bahwa kita belumlah menjadi pelayan yang taat terhadap tuannya.

Sebelum kita melihat ayat bacaan hari ini lebih mendalam, mari kita lihat ketika Yesus memberi Petrus tiga pertanyaan yang sama berulang-ulang. “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” (Yohanes 21:15-17). Jika Yesus menganggap perlu untuk menanyakan hal ini sampai tiga kali, maka saya yakin pertanyaan yang diajukan pastilah sangat penting. Apa yang harusnya menjadi dasar utama untuk melayani, menggembalakan domba-domba Kristus tidak lain dan tidak bukan adalah atas dasar mengasihi Yesus lebih dari segala sesuatu. Bukan atas mengasihi diri sendiri, demi popularitas dan berbagai motivasi-motivasi yang salah, tapi semata-mata karena kita mengasihi Kristus. Lantas bagaimana jika ada seseorang yang menjengkelkan dalam pelayanan atau mungkin dalam Gereja? Saya mengerti bahwa mungkin sulit untuk fokus melakukan sesuatu ketika ada hal yang mengganggu di dekat kita. Namun hendaklah kita bisa menundukkan perasaan-perasaan negatif seperti itu, karena mengasihi Yesus seharusnya berada di atas segala hal lainnya.

Dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat pesan Kristus yang sangat penting yang seharusnya bisa menjadi dasar pemikiran para hamba Tuhan. “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.” (Yohanes 12:26). Kita yang berada dalam pelayanan haruslah mengikuti Yesus kapanpun dan dimanapun.

(bersambung)

Loading...

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here