Menghindari Cara Kekerasan

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24=======================”sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang..”Ada sebuah sikap yang dikenal dengan istilah trouble maker alias pembuat onar/keributan. Mereka baru pua…

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24
=======================
“sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang..”

Ada sebuah sikap yang dikenal dengan istilah trouble maker alias pembuat onar/keributan. Mereka baru puas setelah bisa memancing emosi orang lain, membuat perdebatan dan pertengkaran. Kalau tidak, mereka akan terus berusaha melakukan atau mengatakan sesuatu yang bisa membuat orang lain kesal. Ada pula yang tidak mau mendengar orang lain dan cenderung memaksakan kehendaknya dengan segala cara. Kalau dengan cara baik-baik tidak bisa, mereka tidak segan-segan untuk melakukannya lewat jalan-jalan kekerasan atau pemaksaan. Lihatlah organisasi-organisasi kemasyarakatan yang katanya mengatasnamakan agama tetapi mempertontonkan kekerasan dengan membawa nama Tuhan. Tindak kekerasan, penganiayaan dan bentuk-bentuk kriminalitas lainnya seolah legal kalau sudah memakai atribut tertentu dan dilakukan sambil meneriakkan nama Sang Pencipta. Apakah itu bisa mendatangkan simpati? Akankah itu baik, bermanfaat bagi masyarakat? Dan apakah itu benar merupakan jalan yang diinginkan Tuhan dalam menyebarkan firmanNya kepada orang lain? Apakah Tuhan mengatakan halal untuk menggunakan cara-cara kasar dan keras dalam menekan orang untuk menganut apa yang mereka percayai? Apakah menjadi wakil Tuhan membuat kita langsung berhak untuk menindas orang lain, melakukan paksaan dengan tindakan-tindakan yang merugikan atau menghancurkan orang yang berbeda dengan kita? Saya percaya tidak satupun agama yang menganjurkan kekerasan. Bahkan iman kekristenan mengingatkan dengan tegas bahwa kita tidak boleh melakukan itu.

Paulus dalam suratnya kepada Timotius mengingatkan bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, kita tidak boleh mudah terpancing emosi, tetapi haruslah ramah kepada semua orang. Lebih dari itu, orang percaya juga dituntut untuk cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang dalam pelayanannya. “sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang..” (2 Timotius 2:24). Kenapa harus ramah? Kata Paulus, “sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya.” (masih pada ayat 24). Kalau Tuhan saja membuka kesempatan bagi orang untuk kembali sadar akan kebenaran, siapakah kita yang merasa berhak menghakimi orang lain dengan cara-cara kasar? Saat dunia mempertontonkan sikap pemaksaan yang justru cenderung mengarah kepada kekerasan, sebagai orang percaya kita justru diingatkan untuk bersikap sebaliknya. Bahkan saat menghadapi orang yang keras melawan dan menentang kebenaran, kita haruslah memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut, karena Tuhan selalu bersikap adil dalam memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu.

Tidak ada pilih kasih bagi Tuhan, karena siapapun manusia itu adalah hasil ciptaanNya yang Dia kasihi, dan Dia mau semuanya selamat. “Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!” (Roma 3:29). Perhatikan bahwa Tuhan tidak menganak-emaskan suatu bangsa tertentu, Dia akan memberi berkat melimpah dan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (Roma 10:12-13).

Petanyaannya sekarang, bagaimana orang bisa percaya Tuhan jika mereka belum mengenal? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan tanpa ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Oleh sebab itulah Kristus sendiri mengutus kita lewat Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira bagi semua orang. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20). Persoalannya adalah bagaimana kita bisa memberitakan tentang kebenaran dan keselamatan dalam Kristus kalau itu kita lakukan dengan bersikap keras, menunjukkan sikap bermusuhan, apalagi jika mengandalkan emosi, pemaksaan dan kekerasan? Adakah gunanya, adakah manfaatnya, adakah kebaikan disana? Tidak ada, malah itu akan sangat merugikan. Tidak ada kekerasan yang mampu mendatangkan kebaikan, sebaliknya kelemah-lembutan, kesabaran dan keramahan yang berpusat pada kasih seperti yang diajarkan Allah sendirilah yang akan mampu menghasilkan buah-buah manis.

Kita tidak akan mampu mewartakan kabar gembira apapun jika kita memakai pola pemaksaan, kasar dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya. Jangankan berlaku kasar dan kejam seperti beberapa kelompok di luar sana, bersikap kasar saja kita sudah tidak boleh. Selain hal tersebut tidak akan membawa manfaat apa-apa dan hanya semakin menjauhkan orang dari kebenaran, cara-cara begitu sangatlah bertentangan dengan firman Tuhan. Kita justru diajak untuk bersabar dan tetap bersikap ramah. Dengan cara demikianlah kita bisa melepaskan mereka dan mengenalkan mereka kepada kebenaran. Orang-orang yang melawan dan menolak kebenaran bukanlah musuh sesungguhnya yang harus kita perangi karena mereka pun sebenarnya merupakan korban. Jika anda rindu pada mereka agar bisa diselamatkan, wartakanlah kabar gembira dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Kenalkan Kristus dengan kasih, karena kebenaran tanpa kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menyentuh hati. Ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan itu bisa terjadi jika kita mampu menjadi anak-anakNya yang rindu untuk mengenalkan Kristus dengan sikap-sikap yang sesuai dengan standar kasih dalam kekristenan.

Kebenaran dinyatakan dengan sikap mengasihi akan menyentuh hati dan mendatangkan keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply