Menghindar

Ayat bacaan: Amsal 4:15
==================
“Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.”

menghindari jalan yang sesat

Semakin lama tampaknya tikus semakin pintar. Jika dulu tikus mudah diperangkap dengan perangkap biasa, tikus sekarang lebih hati-hati. Mereka tetap curiga dan tidak mudah terjebak meski ikan yang seharusnya menggiurkan bagi mereka sudah menanti sebagai umpan. Lem tikus tidak lagi mampu menangkapnya. Terhadap racun tikus pun sama. Meski di kemasannya ditulis mengandung bau-bauan yang bisa menggoda tikus, tapi mereka tidak lagi mudah ditipu. Dengan segala cara saya berusaha menangkap atau setidaknya mengusir tikus di rumah, tetapi tidak satupun cara yang berhasil karena kepintaran mereka.

Jika tikus saja sudah pintar seperti itu, seharusnya manusia yang memiliki kemampuan berpikir dan nalar yang lebih tinggi bisa lebih pintar. Tetapi kenyataannya kita justru lebih lemah dan lebih mudah terjebak terhadap berbagai perangkap dosa. Sedikit saja terlihat nikmat, kita akan dengan “sukarela” masuk ke dalam perangkap. Hanya karena kesenangan sesaat kita rela mengorbankan keselamatan kekal yang sudah dianugerahkan kepada kita. Betapa lemahnya pertahanan kita, begitu rentannya kita terhadap berbagai godaan. Keinginan daging begitu mudah menguasai diri kita. Berbagai peringatan lewat hati nurani, lewat roh dan sebagainya kita abaikan demi kenikmatan yang sesaat saja.

Firman Tuhan mengingatkan agar kita awas melihat jalan-jalan yang penuh perangkap, menghindarinya dan terus berjalan di jalur yang benar. “Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.” (Amsal 4:15). Ini adalah sebuah peringatan penting menyusul seruan agar kita “Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat.” (ay 14). Ada banyak jalan terbentang di depan kita, semua memiliki jalurnya sendiri-sendiri dengan konsekuensi masing-masing, dan semua tergantung kita untuk memilih jalan mana yang ingin kita lalui. Kenikmatan-kenikmatan yang terlihat menggiurkan seringkali tersebar di jalan-jalan yang sesat. Oleh karena itu jika kita tidak hati-hati dan membiarkan diri kita lemah maka dengan segera kita bisa terseret masuk dalam perangkap. Seperti tikus di atas, seharusnya kita pun bisa cukup cerdik untuk mengetahui berbagai bahaya yang ada di balik jebakan-jebakan yang menggiurkan itu. Pemahaman yang kurang mengenai firman Tuhan, toleransi-toleransi yang kita berikan terhadap hal-hal yang sepele dan membiarkan diri kita lemah akan membuat kita rentan terhadap jebakan yang dibentangkan di jalan-jalan yang jahat ini.

Memperhatikan jalan yang kita pilih dengan seksama sudah berulang-ulang diingatkan Tuhan. Mengapa harus dengan seksama? Karena seringkali kemasannya terlihat indah. Kita menyangkanya lurus, kalaupun ada sedikit pelanggaran di dalamnya kita anggap sepele dan wajar-wajar saja, padahal ujungnya sebenarnya menuju maut. Dalam Amsal kita bisa melihat firman Tuhan yang berbunyi “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Amsal 16:25, 14:12). Untuk itu kita harus mampu menjaga diri kita agar tidak mudah tergoda untuk jatuh, terutama ketika kita memiliki kebiasaan-kebiasaan buruk di waktu lalu yang sudah kita tinggalkan. Kebiasaan-kebiasaan buruk akan selalu berusaha kembali masuk ke dalam diri kita. Dan potensi itu harus kita perhatikan baik-baik.

Menjaga pergaulan pun menjadi sesuatu yang harus kita perhatikan. Paulus mengingatkan “Janganlah kamu sesat. Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33) Ini bukan berarti bahwa kita harus memusuhi orang lain, tetapi kita harus berhati-hati agar tidak terpengaruh untuk mengikuti jalan-jalan mereka yang sesat dan jahat. Kita tidak boleh pongah dan merasa diri kita pasti aman, karena firman Tuhan juga mengingatkan “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12). Adalah baik apabila kita bisa memberi pengaruh yang baik kepada mereka yang sesat sehingga bisa bertobat, tapi jangan sampai malah kita yang terpengaruh untuk mengikuti jalan-jalan mereka.

Kita memerlukan hikmat dari Tuhan untuk bisa peka terhadap mana jalan yang benar dan mana yang sesat. Lihatlah apa kata Tuhan berikut: “Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya…Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak. Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus. Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.” (Amsal 4:6,10-12). Berdoalah dan teruslah minta hikmat Tuhan, tetaplah peka untuk mendengar peringatan Roh Kudus dalam diri anda, dan teruslah berjaga-jaga dengan cermat. Jika ada jalan yang jahat terbentang di depan anda, lengkap dengan segala jebakan yang dikemas dengan indah penuh kenikmatan, larilah dari sana dan teruslah berjalan di jalur yang benar hingga mahkota keselamatan tidak luput dari genggaman anda kelak.

Jauhi jalan yang salah dan jangan tergoda dengan jebakannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: