Menghidupi Iman

Ayat bacaan: Roma 1:17
==================
“Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

menghidupi iman

Iman adalah sebuah kata yang sangat sederhana dan singkat. Iman juga kata yang sudah sangat tidak asing lagi bagi kita. Meski kata ini sudah sering kita dengar, bahkan mungkin malah sudah terlalu sering, tapi seringkali iman ini diartikan berbeda-beda sesuai dengan pandangan masing-masing. Apa pandangan anda tentang iman? Ada sebagian orang yang menganggap bahwa iman hanya berbicara tentang kehidupan berikutnya. Iman itu perlu, supaya kalau mati nanti masuk surga. Ada pula sebagian orang yang menganggap bahwa iman berarti percaya bahwa Yesus itu Tuhan. That’s all. Dan itu tidak ada hubungannya dengan kehidupan saat ini. Iman saya percaya pada Yesus, tapi soal menjalani hidup itu urusannya lain. Tidak jarang pula yang menjadikan iman sebagai alternatif terakhir ketika semua cara sudah tidak mempan. Ketika semuanya gagal, maka tidak ada salahnya mencoba berharap kepada Tuhan. Katanya harus dengan iman? Ya sudah, saya pakai iman. Habis tidak ada lagi yang bisa dilakukan, sih.. Itu pun bisa menjadi’ gambaran iman bagi sebagian orang.

Kita memang diselamatkan bukan atas hasil usaha, jerih payah atau kebaikan kita, melainkan karena kasih karunia oleh iman dalam Kristus. Akan tetapi iman tidak berbicara secara sempit hanya mengenai destinasi kita selanjutnya setelah selesai berurusan dengan dunia yang fana ini. Seorang pemanjat gunung tidak akan pernah bisa sampai ke puncak gunung hanya dengan mengatakannya saja. Ia harus mempersiapkan stamina baik fisik maupun mental terlebih dahulu melalui serangkaian proses panjang, lalu harus menapak batu satu demi satu hingga sampai ke tujuan. Seringkali hambatan akan membuatnya terjatuh beberapa langkah, namun pada akhirnya keteguhannya akan membawanya sampai ke puncak. Iman pun seperti itu. Kita tidak bisa memisahkan iman dari kehidupan kita, dan tidak akan pernah cukup hanya diucapkan lewat kata saja. Iman menjanjikan keselamatan jiwa, seperti yang dikatakan Petrus dalam 1 Petrus 1:9, itu benar, tetapi diperlukan proses berkesinambungan untuk membangunnya. Dengan kata lain, iman bukan saja berlaku untuk kehidupan selanjutnya, tetapi sudah seharusnya iman itu berada dalam proses kehidupan kita yang dinamis.

Di awal surat Paulus untuk jemaat Roma ia mengatakan hal ini. “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” (Roma 1:17). Ayat ini mengikuti keyakinan Paulus bahwa Injil merupakan kekuatan Allah yang mampu menyelamatkan setiap orang percaya. (ay 16). Kebenaran Allah sungguh nyata di dalamnya, yang akan bisa kita pahami dengan iman, dan kebenaran-kebenaran ini pun akan memimpin kita kepada pertumbuhan iman. Dan Paulus pun menyimpulkan bahwa orang benar akan selalu hidup oleh iman. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan “the man who through faith is just and upright shall live and shall live by faith.” Orang yang benar akan hidup, dan akan hidup oleh iman. Hidup adalah sebuah proses yang terus berlanjut, dan kata hidup di dalam ayat ini pun menggambarkan sebuah proses berkesinambungan yang seharusnya diisi dengan iman. Paulus menekankan bahwa iman seharusnya berada dalam kehidupan kita sehari-hari, kapanpun, bagaimanapun dan dimanapun. Dalam keadaan baik atau buruk, dalam keadaan tenang atau sedang menghadapi badai, dalam keadaan riang atau sedih, tertawa atau marah, iman seharusnya ada di sana. Iman memberikan “hidup” dalam kehidupan kita.

Dengan sangat indah firman Tuhan menggambarkan iman dengan rangkaian kata yang singkat.“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Iman itu merupakan dasar dari segalanya dan bukti dari apa yang tidak atau belum kita lihat. Iman memampukan kita untuk bisa melihat lebih luas dari apa yang mampu ditangkap mata, iman memampukan kita untuk memahami apa yang menjadi rencana Allah dalam hidup kita. Lihatlah sederetan saksi-saksi iman yang tertera dalam Ibrani pasal 11 ini. Musa, Abraham, Sara, Yusuf, Yakub, Rahab, Gideon, Simson, Daud, Yefta dan lain-lain, mereka semua telah menunjukkan bagaimana iman itu bukan lagi hanya sebatas kata-kata saja melainkan telah menyatu dalam segala sendi kehidupan mereka. Para tokoh ini telah membuktikan bagaimana iman itu berada dalam hidup mereka, terus berproses secara kontinu dan tentu saja memberi hidup kepada mereka.

Yakobus mengingatkan bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17). Tidak hanya mati, namun dikatakan pula bahwa “iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong.” (ay 20). Sudah seharusnya iman menyertai kehidupan kita dan memberi sebentuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya abstrak atau samar, tetapi secara nyata bersinggungan dengan sendi-sendi kehidupan kita. Iman akan mampu membuat kita hidup dengan tenang, penuh kedamaian dan sukacita tanpa harus terpengaruh dengan kondisi yang tengah kita hadapi hari ini.

Hidupi dan hiduplah dengan iman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: