Menghargai Pengampunan dari Tuhan (2)

(sambungan)Ingatkan diri anda kembali bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita tanpa memandang ukuran. Dia rela disiksa sebegitu sadis, dipaku dan mati di kayu salib demi memberikan penebusan kepada kita. Sebesar apapun dosa kita, ketik…

(sambungan)

Ingatkan diri anda kembali bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita tanpa memandang ukuran. Dia rela disiksa sebegitu sadis, dipaku dan mati di kayu salib demi memberikan penebusan kepada kita. Sebesar apapun dosa kita, ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, hati yang remuk, tersungkur di kakiNya mengakui segala dosa-dosa yang telah kita perbuat, pengampunan pun segera Tuhan berikan. Perkataan yang sama akan Yesus berikan pada kita juga. “Dosamu telah diampuni…Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” 

Semakin besar dosa kita, semakin besar pula penghargaan akan sebuah pengampunan. Tak peduli sebesar apapun dosa yang pernah kita lakukan, Tuhan selalu menyediakan pengampunan secara total dan tidak akan pernah setengah-setengah. Jika demikian, semuanya tergantung kita. Apakah kita sudah menunjukkan sebentuk hidup yang berdasarkan kasih? Sudahkah kita mengaplikasikan kebenaran dalam hidup sehari-hari? Apakah kita sudah menghormati Tuhan sepenuhnya, mau melepas segala atribut, status dan sebagainya, mengalahkan ego kita dan merendahkan diri dihadapanNya? Jangan sampai karena merasa punya status sosial yang terhormat, pangkat dan jabatan yang tinggi lantas merasa sudah terlalu tinggi sehingga tidak lagi pantas untuk bersujud di hadapan Tuhan.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini merasa bahwa Yesus sudah menutup pintu dan tidak berkenan lagi mengampuni, itu adalah pemikiran yang keliru. Dia selalu rindu untuk mengampuni kita tanpa memandang atau mengukur ukuran kesalahan kita sebelumnya. Orang yang menyadari dan mengakui dosa-dosaNya sudah diampuni, dan penghargaan akan pengampunan itu akan berbuah kasih yang besar pula pada sesama. Lihat ayat berikut ini: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” (Efesus 4:32). Makna ayat tersebut bisa memiliki efek yang jauh lebih besar bagi mereka yang sudah ditebus dari dosa-dosa yang mungkin bagi manusia tidak terampuni.

Dari kisah dalam Lukas pasal 7 di atas kita bisa melihat bahwa Yesus tidak memandang berat ringannya dosa di masa lalu. Yang ia pandang adalah sejauh mana kita menghargai, menghormati dan mengasihi Tuhan lewat hidup dan perbuatan-perbuatan kita. Sejauh mana kita menghargai pengampunan yang Dia berikan kepada kita tanpa melihat besar-kecilnya dosa yang pernah kita perbuat di masa lalu, sejauh mana kesungguhan kita untuk datang dan mengakui semua kesalahan kita dengan jujur dengan bersujud merendahkan diri di kakiNya. Yang diperlukan adalah pengakuan kita dan pertobatan kita, disertai sebuah komitmen untuk tidak lagi mengulangi hal yang sama. Hati yang remuk dan hancur jika kita bawa ke hadapan tahta Allah akan menjadi sebuah korban sembelihan bagi Dia. “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (Mazmur 51:19).

Sukacita sejati akan kita rasakan saat kita mengakui betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita lalu membandingkannya dengan sebesar apa pengampunan yang diberikan Tuhan kepada kita. Maka tidak perduli sebesar apa dosa yang membelenggu anda hari ini, percayalah bahwa pengakuan anda akan membawa anda pada sebuah pengampunan total dari Tuhan yang begitu mengasihi anda.

Lepaskan diri anda dari belenggu dosa hari ini juga, ketahuilah bahwa pengakuan anda dihadapanNya akan berbuah sebuah pengampunan penuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply