Menghargai Pengampunan dari Tuhan (1)

Ayat bacaan: Lukas 7:47
===================
“Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.”

Seberapa besar batas maksimal pengampunan dari Tuhan? Sampai titik mana Tuhan tidak lagi bersedia mengampuni? Ini bisa jadi pertanyaan banyak orang terutama yang di masa lalunya pernah melakukan kesalahan atau kejahatan yang tergolong berat dalam hidupnya. Dalam ukuran manusia bentuk kesabaran dan batas pemberian kemaafan ada batasnya. Kalaupun sudah diampuni, belum tentu pengampunan itu benar-benar total. Ambil contoh sederhana saja, para pelaku tindak kejahatan yang masuk ke dalam lembaga pemasyarakatan mungkin sudah menjalani masa hukumannya dan bertobat, tapi mereka biasanya tetap sulit untuk bisa kembali mendapat tempat di tengah masyarakat dengan baik. Cap mantan napi saja sudah menunjukkan bahwa meski hukuman sesuai undang-undang sudah mereka lalui, tetapi hukuman di kalangan masyarakat tetap harus mereka sandang seumur hidupnya. Maka kita pun cenderung berpikir bahwa Tuhan akan berlaku sama bagi manusia. Di sisi lain, adalah merupakan sebuah ‘kebiasaan’ bagi banyak orang untuk ingin diampuni tetapi sulit mengampuni, hanya ingin menerima tapi enggan memberi. Kalau begitu, sejauh mana sebenarnya pengampunan Tuhan atas kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lalu dan adakah kaitan antara diampuni dan berbuat kebajikan berdasarkan kasih dalam hidup? Untuk itu, mari kita lihat sebuah perikop dalam Lukas 7.

Lukas 7:36-50 berbicara tentang Yesus yang diurapi oleh seorang perempuan berdosa. Begini ceritanya. Pada suatu hari, Simon seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus pun datang memenuhi undangan. Pada saat itu disana ada seorang perempuan yang hidupnya bergelimang dosa. Ketika ia mendengar kedatangan Yesus ke rumah Simon, dia bergegas datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Apa yang ia lakukan sangatlah mengharukan. Dia mendekati Yesus dari belakang, lalu menangis hingga membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Sadar bahwa air matanya membasahi kaki Yesus, ia segera menyeka kaki Yesus, bukan dengan sapu tangan atau kain melainkan dengan rambutnya sendiri. Lalu ia mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi yang sudah ia persiapkan.

Melihat kejadian itu, Simon orang Farisi pun bergumam dalam hatinya. Kata Simon: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.” (ay 39). Dalam bahasa Inggrisnya ayat ini mengatakan bahwa perempuan itu adalah “a notorious sinner,a social outcast, devoted to sin.” Seorang wanita yang terkenal penuh dosa, orang yang terpinggirkan dalam strata sosial kemasyarakatan dan seorang yang mengabdikan diri pada dosa. Itu sudah masuk pelaku dosa kategori kronis.

Yesus kemudian memanggil Simon dan memberikan sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang. Yang satu berhutang 500 dinar, sedangkan satunya “hanya” 50 dinar. Karena tidak sanggup membayar, orang yang dipiutangi memberi pengampunan, menghapuskan hutang keduanya. Yesus bertanya: “Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?” (ay 42). Simon menjawab: “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” (ay 43). Benar. Orang yang lebih banyak hutangnya tentu akan jauh lebih bersyukur dan berterimakasih kepada orang yang menghapuskan hutang dan akan lebih menghargai ketimbang orang yang hutangnya hanya sedikit saja.

Sekarang mari kita lihat lebih jauh. Apa maksud dari perumpamaan ini? Mari kita baca penjelasan dari Yesus. ” Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.” (Ay 44-46). Simon merasa dirinya tidaklah seburuk si wanita pendosa. Ia menerima Yesus hanya sebagai tamu biasa, sedang si wanita pendosa tahu benar bahwa dosa yang ia perbuat sudah terlalu banyak, sehingga ia sangat membutuhkan pengampunan. Bertemu Yesus secara langsung merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar sehingga ia merendahkan dirinya sedemikian rupa, menangis, menyeka kaki, mencium dan meminyaki kaki Yesus. Perbandingan antara Simon dan si perempuan yang bergelimang dosa sangat kontras. Yesus kemudian menyampaikan kesimpulan: “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” (ay 47). Dan wanita yang dianggap pendosa kronis dan kambuhan itu ternyata menerima pengampunan.  “Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: “Dosamu telah diampuni…Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!” (ay 48,50).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: