Menghargai Jasa

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:14=====================”Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.”Ada banyak orang yang cepat meminta t…

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:14
=====================
“Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.”

jasa

Ada banyak orang yang cepat meminta tolong namun kemudian melupakan orang yang sudah berjasa bagi mereka. Pelajaran sejarah bukanlah merupakan pelajaran yang populer di sekolah. Itu menunjukkan ketidakinginan para siswa untuk mengenal pahlawan-pahlawan yang sudah berkorban jiwa sehingga mereka bisa menikmati apa yang ada hari ini. Dalam dunia musik pun sama. Berapa banyak orang yang masih mengenal nama-nama seperti Ismail Marzuki, Mochtar Embut, Ibu Sud dan sebagainya? Padahal mereka inipun merupakan pahlawan di dunia musik yang seharusnya kita kenang, hormati dan hargai. Jika itu masih terlalu tinggi, bagaimana dengan orang tua kita sendiri? Kita masih suka melawan orang tua padahal kita lahir, dibesarkan, disekolahkan oleh mereka, dan tidak jarang mereka harus bekerja mati-matian demi membesarkan kita. Bayangkan betapa hancur perasaan orang tua apabila anaknya bersikap demikian. Di salah sebuah channel tv kabel yang saya tonton, ada seorang anak yang bahkan melempar ayahnya dengan benda-benda berat termasuk benda tajam seperti pisau hanya karena ditegur pulang larut malam. Bukankah ini keterlaluan? Realita seperti ini sudah menjadi hal yang terlihat biasa di tengah masyarakat. Orang tidak lagi menganggap penting untuk mengingat jasa para pahlawan baik bagi bangsa dan negara maupun bagi mereka secara pribadi. Hal seperti ini bukanlah merupakan ciri orang-orang percaya, karena Tuhan sudah mengingatkan kita untuk menghargai mereka yang berjasa.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa akan selalu ada banyak orang yang berjasa dalam hidup kita. Apakah itu dalam hal membantu, menasihati, membimbing atau bahkan berkorban untuk kita, memberikan sesuatu bagi kita sehingga kita bisa menjadi siapa diri kita hari ini. Sama halnya dalam kehidupan rohani. Ada orang-orang yang mengingatkan kita bahkan meluangkan waktunya untuk membimbing kita dalam prosesnya sehingga kita bisa menjadi pengikut Kristus yang setia hari ini. Bagi saya pribadi pun demikian. Diawal pertobatan saya masih bingung dengan segala sesuatu. Untunglah ada teman-teman yang begitu berjasa menemani saya ke gereja dan membimbing saya dengan sabar, bahkan menemani saya ketika dibaptis dan membantu saya mengenal Kristus lebih jauh. Pertanyaannya, setelah kita mencapai sukses masih maukah kita ingat kepada mereka? Apakah kita masih menghargai jasa mereka dan mendoakan mereka atau kita malah melupakan bahkan tidak lagi peduli atas diri mereka?

Tuhan tidak pernah ingin anak-anaknya untuk menjadi orang-orang yang tidak tahu berterima kasih, bagai kacang lupa kulit. Tuhan tidak mau anak-anakNya melupakan jasa orang lain. Kita bisa melihat isi surat Paulus kepada Timotius yang menyinggung hal ini. Saat itu dalam tulisannya Paulus tengah menubuatkan datangnya sebuah masa yang sukar. “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah.” (2 Timotius 3:2-4). Seperti apa masa  yang sukar itu? Apakah sukar secara finansial, sulit mencari kerja, bencana alam, bencana kelaparan atau kondisi keamanan yang tidak stabil? Ternyata bukanbukanitu yang disebut Paulus sebagai masa sukar, melainkan sifat manusia yang akan terus semakin jahat, semakin jauh dari kehendak Tuhan. Perhatikanlah rangkaian ayat di atas, bukankah itu yang sedang terjadi hari ini? Dan lihatlah bahwa “tidak tahu berterima kasih” termasuk didalamnya. Manusia cenderung untuk menjadi kacang yang lupa kulit, tidak mengingat apalagi menghargai jasa orang-orang yang telah memberi kontribusi hingga kita menjadi siapa diri kita saat ini. Maka Paulus pun mengingatkan Timotius agar tidak berlaku demikian. “Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu.” (2 Timotius 3:14). Tetaplah setia berpegang pada kebenaran yang telah diterima, dan jangan lupa untuk mengingat orang yang telah berjasa kepadanya. Itu pesan Paulus kepada Timotius yang masih muda, dan pesan ini pun sangatlah baik untuk kita pegang baik-baik.

Dalam kesempatan lain penulis Ibrani juga menyampaikan pesan yang sama. “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka.” (Ibrani 13:7). Jangan lupakan orang-orang yang sudah mengorbankan jiwa mereka demi menyampaikan firman Tuhan. Hargai mereka, berterima kasihlah dan contohlah iman mereka yang taat sampai mati. Jangan sia-siakan semua itu. Ingatlah akan jasa mereka, berterima kasihlah dan bertekadlah untuk hidup dengan benar. Itulah yang seharusnya kita lakukan sebagai tanda bahwa kita tidak melupakan mereka.

Terhadap manusia saja kita tidak boleh melupakan jasa atau budi baik mereka, apalagi terhadap Tuhan. Bukankah Tuhan telah begitu baik kepada kita sejak dahulu hingga sekarang? Sudahkah kita bersyukur untuk itu atau kita masih terus menyakiti hatiNya dan melupakan segala kebaikanNya kepada kita? Daud sudah menggugah kita agar jangan pernah melupakan segala kebaikan Tuhan. “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2). Musa juga menyampaikan pesan yang sama. “Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu..” (Ulangan 8:11-14). Bacalah selengkapnya kitab Ulangan 8 yang mengingatkan kita sepenuhnya untuk tidak melupakan kebaikan Tuhan.

Kita tidak akan bisa menjadi orang yang berhasil hari ini tanpa bantuan atau jasa orang lain yang dahulu memberikan sumbangsihnya kepada kita. Orang tua, guru, teman yang peduli, pembimbing rohani dan sebagainya, mereka tentu punya kontribusi atas kesuksesan kita hari ini. Untuk itu kita harus berterimakasih dan tetap mengingat segala yang telah mereka berikan di waktu lalu hingga kita bisa menjadi diri kita hari ini. Selanjutnya jangan pernah lupakan pula kebaikan Tuhan. Jangan lupakan pengorbanan Kristus menanggung bantahan, siksaan hingga disalibkan untuk keselamatan kita. (Ibrani 12:3). Jadilah orang-orang yang selalu menghargai jasa orang lain maupun segala kebaikan Tuhan. Coba ingat-ingat lagi, siapa saja orang yang telah berjasa atas diri anda? Tunjukkanlah kepada mereka bahwa anda sangat bersyukur atas jasa mereka dengan ucapan atau penghargaan tulus secara pribadi. Dan di atas segalanya, tetaplah bersyukur kepada Tuhan yang telah mengasihi kita dengan setia secara luar biasa. Jadilah orang-orang yang tahu berterima kasih dan tidak melupakan segala kebaikan dari orang lain maupun Tuhan.

Jadilah orang yang tahu berterimakasih dan menghargai orang-orang yang berjasa dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply