Friday, 31 October 2014

Menghadapi Masalah yang Bertubi-tubi

Ayat bacaan: 1 Samuel 30:6
====================
“Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”

masalah bertubi-tubiBagaimana reaksi anda ketika menghadapi beberapa masalah sekaligus yang bertumpuk dalam satu waktu yang sama?  Belum lagi satunya beres datang lagi dua atau tiga masalah lainnya sehingga anda pun tertimbun di dalam tumpukan masalah. Lama-lama anda merasa tenggelam dan sulit naik kembali ke permukaan. Semakin lama semakin terpuruk jatuh tertimpa timbunan berbagai problema yang berat. Saya rasa hampir semua orang pasti sekali waktu pernah mengalaminya, tidak terkecuali saya sendiri. Ada beberapa kali saya mengalami situasi seperti itu dan beberapa di antaranya saya sempat merasa seolah menghadapinya sendiri. Bagi yang pernah mengalami tentu tahu bagaimana berat rasanya ketika hal ini tengah melanda hidup kita. Tidak jarang orang lalu menyerah, putus asa dan memilih melakukan hal-hal yang bodoh akibat tidak tahan menderita lebih lama lagi. Ada yang kemudian menjadi kecewa kepada Tuhan dan menjadi ragu akan kebaikan Tuhan, ada yang lalu malah terjebak untuk mengambil jalan-jalan pintas yang menyesatkan. Apa yang seharusnya kita lakukan pada saat berada dalam situasi serba sukar seperti itu? Daud pernah mengalami situasi seperti ini dan keluar sebagai pemenang dalam waktu yang sangat singkat. Alangkah baiknya jika kita belajar dari Daud tentang sikap seperti apa yang seharusnya kita lakukan untuk mengatasinya.

Mari kita lihat 1 Samuel 30:1-25. Betapa mengerikannya situasi yang terjadi di depan mata saat Daud dan tentaranya tiba di Ziklag. Pada saat itu orang-orang Amalek telah menyerbu dan membakar habis kota itu. Meski tidak ada yang dibunuh, tetapi para wanita dan anak-anak mereka tawan semuanya dan mereka bawa pergi bersama mereka, termasuk pula di dalamnya dua istri Daud. Sampai disitu saja situasi sudah sangat menakutkan. Tetapi ternyata masalah tidaklah berhenti sampai disitu. Kemudian dikatakan: “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan.” (ay 6a-b). Bayangkan situasi yang dihadapi Daud saat itu. Tidak hanya kalut melihat seisi kota dibakar habis, tidak hanya sedih melihat wanita dan anak-anak ditawan, tidak hanya sedih mengetahui bahwa istrinya sendiri pun turut ditawan oleh orang Amalek, tetapi ia juga harus menghadapi rakyat yang siap membunuhnya dengan lemparan batu karena marah anak dan istri mereka dirampas musuh. Daud harus menghadapi ini semua dalam satu momen yang sama. Kalau kita jadi Daud,  bagaimana perasaan kita? Mungkin takut, marah, kecewa, kesal, bingung dan kalut semua bertumpuk jadi satu. Untuk mencerna situasinya saja sudah sulit, apalagi memikirkan solusinya. Tetapi lihatlah apa yang dilakukan Daud. Dia tidak putus asa dan kehilangan pegangan sedikitpun. Dia tidak kecewa terhadap Tuhan meski yang ia hadapi sangatlah berat dan entah bagaimana bisa caranya diselesaikan jika mengandalkan akal sendiri. Alkitab dengan sangat jelas menyatakan seperti apa reaksi Daud setelahnya. “Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” (ay 6c). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: “David encouraged and strengthened himself in the Lord of his God.” Seperti itulah yang pilihan yang diambil oleh Daud sebagai reaksi atas segala persoalan yang ia hadapi. Daud meneguhkan dan menguatkan dirinya DALAM Tuhan. Yang terjadi kemudian sungguh luar biasa. “Dan pada keesokan harinya Daud menghancurkan mereka dari pagi-pagi buta sampai matahari terbenam; tidak ada seorangpun dari mereka yang lolos, kecuali empat ratus orang muda yang melarikan diri dengan menunggang unta. Daud melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isterinya dapat dilepaskan Daud. Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka; semuanya itu dibawa Daud kembali. Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: “Inilah jarahan Daud.” (ay 17-20). Daud sukses mengatasi masalah bertubi-tubi itu, dan itu bisa terjadi karena ia mengambil keputusan yang tepat.

Daud menyadari bagaimana terbatasnya kemampuannya sebagai manusia, bahkan sebagai raja dengan banyak tentara sekalipun untuk bisa mengatasi situasi serumit itu dalam waktu singkat. Karenanya ia memutuskan untuk mengandalkan Tuhan, yang punya kuasa diatas segalanya. Dia mengerti betul bahwa kuasa Tuhan mampu mengatasi apapun, dan tentu saja tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Kita pun mungkin tahu itu, tapi seberapa besar iman kita untuk bisa membawa kita percaya penuh akan hal itu? Daud percaya sepenuhnya bahwa Tuhan sanggup dan mau untuk melepaskannya dari situasi sesulit apapun. Dan tepat seperti itulah yang terjadi kemudian.

“Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.” Memang tidak ada satupun catatan yang menjelaskan secara rinci bagaimana cara Daud menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan. Namun setidaknya, dari berbagai kisah Daud kita bisa mendapat sedikit banyak gambaran mengenai gaya hidupnya yang benar-benar berpegang erat pada Tuhan. Dalam Mazmur saja kita bisa mendapatkan banyak catatan mengenai bagaimana Daud mengandalkan Tuhan dan bukan kepada kekuatannya sendiri. Dia memandang Tuhan, bukan banyak tidaknya masalah. Salah satunya berbunyi: “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!” (Mazmur 18:3). Ini menggambarkan dengan jelas betapa kuatnya Daud bersandar kepada Tuhan dan betapa besar rasa percaya juga pengharapannya. Kemudian lihat pula ayat berikut: “Sebab siapakah Allah selain dari TUHAN, dan siapakah gunung batu kecuali Allah kita?” (Mazmur 18:31). Berbagai pengalaman masa lalu Daud sejak ia kecil membentuk dirinya untuk mengenal betul siapa Tuhan. Ia tahu bahwa ia tidak perlu takut akan apapun selama Tuhan ada besertanya. Begitulah besar iman di dalam dirinya yang sanggup membuatnya percaya bahwa Tuhan akan selalu sanggup untuk melepaskannya dari jerat masalah, meski jawaban atas masalah mungkin belum ia lihat. Penulis Ibrani berkata: “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibrani 11:1), dan Daud sudah menunjukkan sebesar apa iman yang bisa membuatnya tetap percaya meski belum melihat apa yang bakal terjadi. Ketika Yesus berkata “Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya” (Markus 11:23), Daud sudah membuktikan kebenaran firman Tuhan itu sebelumnya.

Dalam menghadapi masalah yang menumpuk, yang mungkin membuat kita terpuruk sampai habis batas kemampuan kita, ingatlah bahwa Tuhan ada beserta kita dan tidak akan pernah membiarkan kita menderita sendirian. Semakin berat beban yang kita hadapi, semakin banyak tumpukan persoalan yang menerpa kita, semakin kencang badai menghantam, itu artinya kita harus semakin menyadari pula untuk membangun hubungan yang berpegang kuat pada Tuhan. Mungkin jawaban belum kita lihat pada saat ini, bahkan mungkin semua terlihat gelap tanpa solusi, tetapi percayalah bahwa adalah mudah bagi Tuhan untuk melepaskan kita, sebab “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (Lukas 1:37). Berhentilah memandang masalah, gantilah dengan mengarahkan pandangan kepada Tuhan. Peganglah janji Tuhan dan renungkan kebaikan Tuhan yang pernah kita alami sebelumnya. Jika dulu Dia sanggup, sekarang pun demikian, sebab Tuhan itu tetap sama, dahulu, sekarang dan selamanya. (Ibrani 13:8). Apapun masalah yang menghantui anda hari ini, tidak peduli sebanyak apapun masalah itu bertumpuk, jangan takut, jangan ragu dan jangan bimbang. Kuatkan dan tingkatkan kepercayaan anda kepada Tuhan lebih dari sebelumnya. Daud bisa keluar sebagai pemenang, mengapa kita tidak?

Miliki iman sebesar Daud dalam menghadapi masalah bertubi-tubi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Menghadapi Masalah yang Bertubi-tubi"

Response on "Menghadapi Masalah yang Bertubi-tubi"