Menghadapi Masalah Ala Daniel (1)

Ayat bacaan: Daniel 6:11
====================
“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”

daniel

Tidak ada satupun manusia yang bisa hidup seratus persen tanpa masalah selamanya. Siapapun kita tentu sudah pernah berhadapan dengan kesulitan-kesulitan atau tekanan hidup dalam berbagai bentuk. Ada yang mungkin tengah menghadapi pergumulan saat ini, nanti pun masalah bisa datang sewaktu-waktu. Tidak satupun manusia yang suka berhadapan dengan masalah, tidak terkecuali saya. Tapi saya tahu bahwa dalam hidup kita memang harus siap berhadapan dengan itu, dan saya selalu berusaha untuk mengambil hikmah dibalik setiap permasalahan yang saya hadapi. Minimal lewat masalah itu saya bisa menguji sampai sejauh mana iman saya untuk percaya kepada Tuhan dengan kesabaran penuh dan berusaha belajar sesuatu yang baru dari masalah yang timbul beserta pemecahannya. Ketika kita tidak bisa menghindari sepenuhnya kehadiran masalah menerpa hidup kita pada waktu yang tidak disangka-sangka, apa yang bisa kita lakukan adalah mencermati betul bagaimana cara yang kita ambil untuk mengatasinya. Seringkali karena kita terburu-buru atau panik, kita mengambil langkah-langkah yang salah. Akibatnya, bukan masalahnya yang selesai, tetapi kerap kali kita malah menambah masalah baru dengan keputusan-keputusan kita sendiri yang gegabah. Ada begitu banyak tokoh di dalam Alkitab, dan masing-masing mereka punya masalah atau pergumulannya sendiri-sendiri. Ada yang harus berhadapan dengan orang-orang yang sulit diatur, ada yang mengalami pergumulan iman, ada yang harus menanti cukup lama akan janji Tuhan, ada pula yang harus menghadapi fitnahan dari orang-orang yang iri atau benci terhadap mereka. Hidup bagi para tokoh ini tidak ada yang mulus dan mudah seluruhnya dan hidup di masa sekarang pun tidak kalah sulitnya. Apa yang menarik bagi saya adalah melihat bagaimana cara mereka menghadapi masalah lalu keluar sebagai pemenang. Semua itu tentu bisa kita jadikan pelajaran dan pedoman dalam menghadapi masalah-masalah hari ini.

Apakah anda pernah menjadi korban fitnah? Saya pernah merasakannya dan tahu bagaimana sangat tidak enaknya menghadapi itu. Rasa sirik dan iri hati sepertinya sudah mendarah daging dalam kehidupan manusia, sehingga pembunuhan karakter lewat tuduhan-tuduhan keji bisa dilemparkan dengan mudahnya hanya karena merasa iri melihat keberhasilan orang lain. Fitnahan bisa begitu kejam sehingga hidup korbannya bisa menjadi hancur. Seringkali mereka hancur sebegitu rupa sehingga sulit untuk bangkit kembali. Orang-orang yang busuk hatinya bisa tega melakukan itu hanya untuk memberi kepuasan terhadap perasaan dengki mereka. Daniel pernah mengalam hal itu secara ekstrim. Dalam dua hari ini mari kita lihat bagaimana cara menghadapi serta mengatasi masalah ala Daniel.

Daniel tercatat sebagai sosok luar biasa dengan banyak kelebihan yang lahir pada masa bangsa Israel mengalami pembuangan dan pengasingan di Babel. Daniel dikatakan sepuluh kali lebih cerdas dari pada semua orang berilmu di seluruh kerajaannya. (Daniel 1:20) dan diketahui memiliki roh yang luar biasa. (6:4). Kecerdasan Daniel dikatakan melebihi 120 wakil raja dan dua pejabat tinggi lainnya. (6:2-4). Empat kali raja lengser, Daniel masih tetap menjabat. Itu membuktikan bahwa Daniel memang beda. Apa yang membuat Daniel bisa diberkati sedemikian rupa? Alkitab jelas menuliskan jawabannya, yaitu kebiasaan dan disiplin Daniel dalam berdoa. Ayat bacaan kita hari ini menunjukkan hal itu dengan sangat jelas. Daniel ternyata biasa melakukan doa, berlutut dan memuji Allah sebanyak tiga kali sehari. Ada atau tidak ada kegiatan, sibuk atau tidak sibuk, keadaan memungkinkan atau tidak, dia tetap memegang komitmen untuk berdoa dengan disiplin. Tidaklah heran jika  Kebiasaannya berdoa ternyata bisa membawanya menerima anugerah Tuhan secara luar biasa, dan dari sana Daniel pun menjadi orang penting dengan pengaruh sangat besar. Melihat kesuksesan seperti itu, mulailah para pejabat tinggi dan wakil raja yang berjumlah seratus dua puluh orang itumerasa dengki dan iri hati. Mereka lalu mulai mencari-cari kesalahan atas Daniel. Alkitab menyebutkan bahwa mereka tidak mendapati kesalahan apapun. “Kemudian para pejabat tinggi dan wakil raja itu mencari alasan dakwaan terhadap Daniel dalam hal pemerintahan, tetapi mereka tidak mendapat alasan apapun atau sesuatu kesalahan, sebab ia setia dan tidak ada didapati sesuatu kelalaian atau sesuatu kesalahan padanya.” (ay 5). Tapi dasar niatnya jelek, mereka terus saja mencari-cari akal untuk menimpakan kesalahan atas Daniel. Akhirnya mereka menemukan sebuah akal untuk menjebak Daniel. “Maka berkatalah orang-orang itu: “Kita tidak akan mendapat suatu alasan dakwaan terhadap Daniel ini, kecuali dalam hal ibadahnya kepada Allahnya!” (ay 6). Dan itulah yang mereka pergunakan untuk menjebak. Mereka tahu betul kebiasaan Daniel dalam berdoa, dan itu mereka pakai untuk menyingkirkan Daniel. Mereka pun datang mengahadap raja dan melancarkan siasat buruk mereka. “Semua pejabat tinggi kerajaan ini, semua penguasa dan wakil raja, para menteri dan bupati telah mufakat, supaya dikeluarkan kiranya suatu penetapan raja dan ditetapkan suatu larangan, agar barangsiapa yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, maka ia akan dilemparkan ke dalam gua singa.” (ay 8). Raja Darius ternyata menyetujuinya. Begitu disahkan, mereka pun langsung bergegas menangkap Daniel.

Saya yakin Daniel tahu ia tengah berhadapan dengan masalah besar ketika mendengar perihal peraturan baru ini. Apa yang menjadi reaksinya? Gentar atau ciutkah dia? Apakah Daniel takut lalu berhenti berdoa atau mulai sembunyi-sembunyi dalam melakukannya? Ternyata tidak. Daniel sama sekali tidak gentar. Dia tidak cemas apalagi takut. Daniel tidak berusaha melarikan diri, berpura-pura tidak berdoa, atau bersembunyi supaya tidak ketahuan. Apa yang dilakukan Daniel menggambarkan sebuah iman yang luar biasa. “Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.” (ay 11). Daniel kemudian ditangkap, dan dimasukkan ke gua singa. namun kita tahu apa yang kemudian terjadi. Daniel selamat tanpa lecet sedikitpun. Kata Daniel: “Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan.” (ay 23). Apa yang terjadi pada para wakil dan pejabat berhati busuk yang memfitnah dan menjebak Daniel? “Raja memberi perintah, lalu diambillah orang-orang yang telah menuduh Daniel dan mereka dilemparkan ke dalam gua singa, baik mereka maupun anak-anak dan isteri-isteri mereka. Belum lagi mereka sampai ke dasar gua itu, singa-singa itu telah menerkam mereka, bahkan meremukkan tulang-tulang mereka.” (ay 25).

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply