Monday, 24 November 2014

Menghadapi Fitnahan

Ayat bacaan: Mazmur 119:78
========================
“Biarlah orang-orang yang kurang ajar mendapat malu, karena mereka berlaku bengkok terhadap aku tanpa alasan; tetapi aku akan merenungkan titah-titah-Mu.”

Seorang teman belum lama ini datang dan curhat mengenai situasi tidak enak yang ia alami. Ceritanya ia melihat ada beberapa orang yang membutuhkan bantuan di kantornya, dan ia tergerak untuk mengulurkan tangan. Tetapi ternyata ada sebagian orang yang tidak suka dengannya. Mereka menuduhnya macam-macam, mulai dari cari muka, ingin terlihat hebat, ingin naik jabatan atau sampai dituduh ingin membuat orang pindah agama segala. Padahal ia mengaku melakukan itu murni atas dasar belas kasihan tanpa ada agenda apapun dibalik itu. Begitulah sifat manusia yang bisa berlaku jahat, berprasangka buruk dan menuduh orang hanya karena iri, sirik atau dengki. Akan lebih baik jika mereka pun turut mengulurkan tangan, tapi yang sering terjadi, sudah tidak ikut tergerak menolong malah menambah kesusahan orang dengan hal-hal yang tidak perlu. Menjadi kaum minoritas memang sulit. Kita bisa dituduh yang bukan-bukan, disalah artikan ketika berbuat baik, tapi kemudian dicemooh dan dihina ketika kita diam saja. Teman saya berkata: “Ternyata untuk berbuat baik saja seperti kewajiban kita sebagai orang percaya pun susah.” Seperti itulah susahnya menjadi pengikut Kristus. Bahkan ketika kita mengasihi orang lain, kita masih saja harus berhadapan dengan kesulitan. Kalau untuk menolong saja sudah susah, apalagi dalam mewartakan kabar keselamatan sesuai Amanat Agung yang disampaikan Yesus. Itu bisa berlipat kali lebih susah lagi.

Paulus pernah mengalami hal yang sama. Dia bahkan sampai merasa perlu untuk menegaskan motivasinya dengan memohon: “Berilah tempat bagi kami di dalam hati kamu! Kami tidak pernah berbuat salah terhadap seorangpun, tidak seorangpun yang kami rugikan, dan tidak dari seorangpun kami cari untung.” (2 Korintus 7:2). Kenapa Paulus sampai harus mengatakan hal ini kepada jemaat di Korintus? Sepertinya teguran Paulus membuat jemaat di sana merasa tidak nyaman. Jika kita lihat pada ayat 9-11, maka motivasi Paulus sesungguhnya baik, yaitu meminta kesadaran jemaat untuk melakukan koreksi diri, mengalami pertobatan yang akan membawa keselamatan. Tapi mungkin caranya menegur terlalu keras sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman di kalangan jemaat. Sebelum masalah menjadi berlarut-larut Paulus pun segera berusaha menetralkan suasana dan menjelaskan duduk perkara. Ini adalah langkah yang baik dalam menyelesaikan masalah. Paulus perlu menjelaskan bahwa sebenarnya ia bermaksud baik, bukan mau merugikan, menyakiti apalagi kalau dikira mencari keuntungan pribadi. Ia justru ingin agar semua jemaat disana bisa diselamatkan tanpa terkecuali. Dalam mewartakan kabar keselamatan kita bisa mendapatkan tantangan yang seringkali tidak ringan. Kita digambarkan seolah-olah mewartakan itu untuk kepentingan pribadi kita. Fitnah, tuduhan, ancaman dan sebagainya akan langsung ditimpakan kepada kita. Dalam banyak situasi lainnya pun hal ini bisa terjadi. Apa yang harus kita lakukan? Menjelaskan duduk perkara seperti yang dilakukan Paulus, itu adalah salah satu cara yang baik. Tapi bagaimana jika orang yang menuduh, memfitnah atau bahkan merencanakan hal-hal jahat pada kita?

Dalam hal ini kita bisa belajar lewat kitab Mazmur. Seperti manusia lainnya, Daud juga pernah mengalami fitnahan. Tapi ia tidak membiarkan dirinya dikuasai amarah, kebencian, dendam yang mengarah pada permusuhan. Ia memilih mengatasi itu dengan berdoa. “Biarlah orang-orang yang kurang ajar mendapat malu, karena mereka berlaku bengkok terhadap aku tanpa alasan; tetapi aku akan merenungkan titah-titah-Mu.” (Mazmur 119:78). Orang boleh saja memfitnah kita, menuduh kita tanpa alasan jelas, atau bersikap sinis kepada maksud baik kita, tetap menyalah artikan niat baik kita meski sudah dijelaskan, tapi kita harus terus berpegang kepada firman Tuhan. Tetap mengarahkan fokus pandangan kepada firman Tuhan, terus merenungkan perintah-perintahNya dan tetap menjalankan tugas sesuai panggilan kita. Dendam atau terpancing untuk memusuhi, menjadi tawar hati bukan merupakan ajaran Kristus. Kita justru harus tetap mengasihi mereka dan berdoa bagi mereka. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Memang sulit, tapi dengan demikianlah kita bisa menjadi anak-anak Allah yang benar, yang menerangi dan memberkati orang lain. (ay 45). Sakita hati kemudian terpikir untuk balas dendam atau mendoakan yang jelek untuk ditimpakan atas mereka yang bengkok hatinya? Itu bukan hal yang benar untuk dilakukan sebab dikatakan:  “Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.” (Roma 12:19). Ayat selanjutnya berkata:“Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.” (ay 20).

Jika diantara anda ada yang sedang menghadapi tuduhan atau fitnahan. Bersabarlah menghadapi orang yang menyalah artikan kita. Dalam hidup ini bentuk-bentuk yang tidak menyenangkan seperti itu akan selalu ada. Tetap doakan dan kasihi, jangan musuhi, jangan mendendam. Itu kata firman Tuhan, dan itulah yang harus selalu menjadi fokus perhatian kita. Orang boleh berlaku jahat kepada kita, tapi kita jangan ikut-ikutan. Ikuti pula langkah Daud yang tetap fokus kepada merenungkan firman-firman Tuhan dan tetap menjalankannya tanpa harus terpengaruh pada gosip atau isu-isu negatif lainnya disekitar kita.  Berjuanglah mengatasi rasa kecewa, sedih dan sakit hati, karena kita tahu ada janji yang disediakan Tuhan bagi kita. Dalam mewartakan kabar keselamatan pun demikian. Lakukan terus dengan sabar, karena kita punya pengharapan dan percaya bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi. “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah ” (1 Timotius 4:10). Biarlah orang berlaku bengkok terhadap kita, tapi kita harus selalu tekun merenungkan firman Tuhan dan menghadapi mereka tepat seperti apa yang diinginkan Tuhan untuk kita lakukan.

Fight fire with ice, fight hatred with love

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Incoming search terms:

0saves


If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Related Posts to "Menghadapi Fitnahan"

Response on "Menghadapi Fitnahan"