Menggadaikan Hak Kesulungan (1)

Ayat bacaan: Kejadian 25:32=====================”Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”Suatu kali saya bertemu dengan seorang teman lama. Obrol sana obrol sini, pembicaraan kemudian sampai kepada momen apa …

Ayat bacaan: Kejadian 25:32
=====================
“Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?”

Suatu kali saya bertemu dengan seorang teman lama. Obrol sana obrol sini, pembicaraan kemudian sampai kepada momen apa dalam hidupnya yang paling ia sesalkan, dan ia berkata bahwa apa yang paling ia sesalkan adalah saat ia menjual koleksi lengkap kaset salah satu grup band progresif rock legendaris di tahun 70’an hanya dengan harga yang sangat murah. Ia pun lalu bercerita bahwa waktu itu ia masih baru lulus kuliah dan butuh uang untuk bersenang-senang. Apa yang ada padanya adalah koleksi kaset tersebut dengan jumlah puluhan. Semua dalam kondisi baik dan covernya pun masih mulus. Tanpa mengetahui harga yang pantas dan hanya karena ingin buru-buru punya uang, ia pun bergegas menawarkan kemana-mana. Bisa diduga, dalam waktu sangat singkat koleksinya berpindah tangan dengan harga yang murah.Pada waktu itu ia merasa senang, tetapi penyesalan langsung datang ketika tidak sampai sehari uang tersebut sudah ludes tak bersisa. Apalagi waktu belakangan ia mengetahui koleksinya ternyata menjadi langka dan diburu kolektor dengan nilai yang fantastis. Yang menarik, menurutnya meski ia sekarang harganya sangat tinggi, kalau koleksi itu masih ada dia tidak akan menjualnya. “Bukan soal harga sih, tapi lebih kepada penyesalan bahwa koleksi itu tidak lagi ada pada saya, padahal itu sangatlah berharga.” katanya. Ia menyesal karena tanpa pikir panjang melepas atau menjual koleksi kaset album grup tersebut.

Kecerobohan melepas barang saja sudah bisa mendatangkan penyesalan dalam hidup. Sesusah-susahnya, barang masih bisa dicari kembali meski mungkin harus dibayar dengan harga yang sangat tinggi. Bayangkan apabila yang dibuang atau dilepas itu sesuatu yang jauh lebih berharga atau lebih penting, yang menyangkut soal hidup dan mati, bukan saja dalam kehidupan yang sekarang tetapi juga untuk fase yang akan datang. Mungkin secara sadar kita mengira bahwa tidak mungkin kita bakal sebodoh itu. Tapi pada kenyataannya ada begitu banyak penawaran dan godaan yang bisa membuat kita terjebak, melepas hak kita sebagai Anak Allah, sebagai ahli waris Kerajaan yang sudah Dia berikan kepada kita, atau dengan kata lain menggadaikan hak kesulungan. Seperti apa misalnya? Contohnya, ada banyak orang yang tergiur dan rela menggadaikan imannya demi kepentingan-kepentingan yang sifatnya duniawi atau kenikmatan sesaat saja. Apakah untuk kepentingan jabatan, karena takut disisihkan atau karena jatuh cinta, orang bisa dengan mudah berpaling meninggalkan Tuhan dan segala hak sebagai anak Allah dan ahli waris Kerajaan yang sudah diberikan kepadanya. Istilah hak kesulungan ini muncul dalam sebuah kisah antara Esau dan Yakub atas semangkuk kacang merah.

Dikisahkan pada suatu kali ketika Esau pulang berburu dan merasa sangat lelah dan lapar, ia tergiur mencium bau makanan yang lezat yang tengah dimasak Yakub. Esau lalu meminta sedikit kacang merah itu. Tapi ternyata Yakub menolak memberikannya. Yakub hanya akan memberikan semangkuk kacang merah itu jika Esau menjual hak kesulungannya, yaitu segala hal yang menjadi hak Esau sebagai anak kembar yang sulung dari Ishak. “Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” (Kejadian 25:31).

Apa reaksi Esau? Kita lalu melihat betapa mudahnya Esau mengambil keputusan. Tanpa pikir panjang ia menjawab “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (ay 32). Kalau orang jaman sekarang bilang, sifatnya lebay. Begitu mudah bagi Esau untuk menggadaikan hak kesulungannya, bahkan dengan gampangnya ia berikan diikat dengan sumpah. (ay 33). Kita bisa melihat bahwa Esau memandang hak kesulungan yang ia miliki sebagai sesuatu yang ringan, rendah atau tak berharga. Ia menganggap remeh hak yang sebegitu besar. Itulah satu-satunya alasan mengapa ia bisa rela menukarkan hak istimewa itu hanya dengan semangkuk kacang merah.

 Apa yang ditunjukkan oleh Esau adalah bagaimana ia memandang rendah atau menganggap remeh anugerah Tuhan dan status yang seharusnya ia sandang sebagai anak sulung. Pada ayat selanjutnya tertulis: “Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.” (ay 34). Esau memilih untuk menyia-nyiakan kasih karunia Tuhan yang berlaku kekal dan dengan mudah menggadaikannya, demi semangkuk kacang merah yang justru tidak lama bisa dirasakan nikmatnya.

Hak kesulungan adalah sebuah hak istimewa yang dimiliki oleh anak sulung sebagai ahli waris. Tidak semua orang bisa dengan mudah memperoleh hak kesulungan. Jadi betapa ironisnya apabila ada orang yang sudah memiliki hak ini namun rela menjualnya demi sesuatu yang sama sekali tidak sebanding dengan apa yang diberikan lewat kepemilikan hak kesulungan ini. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus sang Juru Selamat dan telah lahir baru, kita menyandang status sebagai anak-anak Allah. Alkitab berkata “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.” (Roma 8:14). Roh Allah ini akan bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita ini adalah anak-anak Allah. (ay 16). Kemudian, dengan menyandang anak-anak Allah kita menjadi ahli waris Kerajaan pula. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (ay 17). Itu adalah hak kesulungan kita, sebuah kasih karunia yang begitu istimewa yang seharusnya menjadi sebuah kehormatan besar bagi kita yang sudah menerimanya. Sangatlah keterlaluan kalau anugerah sebesar itu justru kita anggap remeh dan bisa kita gadaikan dengan berbagai alasan.

(bersambung)

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply