Salah satu karya seni rupa ager Piring di BBY/ Foto: Nugroho Angkasa

Salah satu karya seni rupa ager Piring di BBY/ Foto: Nugroho Angkasa

Selasa malam (6/5) pelataran Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) di Jln. Suroto 2 Kotabaru dipenuhi lautan manusia. Ratusan pengunjung rela lesehan, berjongkok, duduk di kursi, berdiri, dan bahkan berjinjit dari pukul 19.00-22.00 WIB. Mereka takzim mengikuti peringatan 15 tahun wafatnya Yusuf Bilyarta Mangunwijaya, Pr. Pagelaran budaya tersebut terbuka bagi khalayak ramai. Siapa pun boleh hadir tanpa dipungut biaya, mulai dari tukang becak hingga pejabat teras kota Yogyakarta.

Dalam kata sambutan sebelum membuka pameran seni rupa “Pager Piring” Imam Priyono mengapresiasi jerih payah panitia. Sebab, ternyata Wakil Walikota Yogyakarta tersebut juga dulu merupakan salah satu anak yang menerima pager piring alias dibiayai pendidikannya oleh Romo Mangun. “Cita-cita Romo Mangun yang masih saya ingat ialah keseimbangan dalam kehidupan. Misalnya yang kaya membantu yang miskin, saling peduli dan mencintai antar sesama manusia dan juga turut serta menjaga keseimbangan ekologi,” ujarnya di hadapan para hadirin dan tamu undangan.

Wayang Milehnium Wae juga turut memanaskan suasana. Puluhan muda-mudi dari Institut Sansekerta Indonesia menyuguhkan atraksi musik perkusi, gamelan, tarian, pembacaan puisi, pantomim, wayang seng, dan teater. Pentas kolaborasi malam itu bertajuk Mlarat Ning Ningrat (Miskin Tapi Ningrat). Romo Sindhunata S.J selaku tuan rumah mengatakan bahwa Romo Mangun bukan sekadar tokoh intelektual, beliau juga seorang seniman.

Lebih lanjut, menurut Romo Sindhu salah satu kontribusi Romo Mangun bagi dunia literasi ialah sastra yang berpamor. “Susastra bukan dicipta, tapi digali lewat permenungan atas filsafat, realitas historis, sosial dan politik. Demi ide intelektual dan bersama ide tersebut, Romo Mangun siap mogok makan bersama warga Kali Code yang hendak digusur, memperjuangkan keadilan bagi masyarakat Kedung Ombo, berdemonstrasi bersama mahasiswa, buruh dan petani, mengembangkan ide pendidikan dasar lewat Dinamika Edukasi Dasar (DED) dan SD Kanisius Mangunan. Karena pengalaman otentik memang berasal dari grassroot,” ujar Romo Sindhu.

Romo Sindhunata SJ Membuka Pameran dengan Melukis Piring / Foto : Nugroho Angkasa

Romo Sindhunata SJ Membuka Pameran dengan Melukis Piring / Foto : Nugroho Angkasa

Selaras dengan paparan Prastowo selaku Ketua Panitia. Ia mengatakan bahwa YB Mangunwijaya ialah tokoh multidimensional. Beliau seorang arsitek, sastrawan, budayawan, pendidik dan juga filsuf. “Kita tidak cukup jika hanya menapakinya, tapi kita juga harus menjelajahi pemikiran beliau yang sangat kaya. Menjelajahi pemikiran Romo Mangun berarti memahami seluruh dimensi persoalan yang plural dimana beliau selalu berpijak pada nilai-nilai sosial, spiritual dan humanisme,” imbuhnya.

Tak ketinggalan pada Selasa malam itu, Shri Krishna Encik turut menyumbangkan suara emasnya diiringi petikan gitar dan gesekan cello. Salah satu lagu gubahannya bertajuk “Sang Pelayan”. Berikut ini petikan syairnya yang tepat melukiskan karakter Romo Mangun:

Selalu saja kau tenang
Dengan semua sikapmu
Selalu saja kau tegar dengan
Pendirianmu…

Tak sekadar kata-kata
Yang engkau utarakan
Tak sekadar perbuatan
Yang selalu kau wujudkan

Pentas Wayang Milehnium Wae/ Foto: Nugroho Angkasa

Pentas Wayang Milehnium Wae/ Foto: Nugroho Angkasa

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.