Mengenali Kedatangan Malaikat Rafael

archangel raphael

PERTEMUAN itu terjadi lagi. Kali ini dengan beda orang, beda masalah dan beda situasi. Kemunculannya bisa dibilang cukup cepat. Dalam hitungan detik, Malaikat Rafael kembali menampakkan dirinya. Di sebelah kiri dan terdiam. Cahayanya sama, kuning keemasan.

“Sabar ya,”ucap Rafael pada si A kawanku, sebut saja demikian. A sebelum dihipnosis bercerita orangtuanya hendak cerai. Sedih sebenarnya, namun tidak bisa berbuat banyak. A masih berharap ayah ibunya bisa satu kembali meski kelihatannya sulit. “Harus ada upaya perbaikan satu sama lain,”kata Rafael sambil memberi energi kasihnya pada orangtua si A yang berada di seberang lautan di Pulau Sulawesi.

Menyadari keterbatasan itu, A berusaha memahami kebahagiaan ayah dan ibunya bakal mengakhiri kegalauannya. Meski kehidupan harus dijalani sendiri-sendiri. Karena itu, dia pun pasrah atas jawaban Rafael. Untung kegembiraan itu dilihatnya saat A kuajak melihat masa depannya dan dua orangtuanya. “Ayah sudah punya pasangan dalam vision itu, tapi mereka bahagia. Ibu juga,”ujar A.

Cahaya penyembuhan kembali dirasakan A saat Rafael muncul kedua kalinya di satu sesi hipnosis, Selasa (24/3/2015) malam itu. Kali ini Rafael berdiri di hadapannya sambil tersenyum sebentar, setelah itu pergi. Sebelumnya kami mohon berkat agar diberi kesehatan dan kegembiraan. Esoknya, dengan wajah berseri-seri A menyapaku. “Aku sudah segar, Mas,”katanya. Maklum empat minggu berturut, A mesti keluar kota untuk syuting. Hatinya pun ceria seperti biasanya.

Dengan si AS, ceritanya lain lagi. Sehari setelahnya, kawanku ini minta kuhipnosis setelah sekian lama kubujuk tak pernah mau. Malam itu, tubuhnya lemah dan dia sedang tidak fit. “Dia muncul perlahan. Cahayanya semula kecil lama-lama membesar memenuhi ruangan. Terang sekali cahayanya, menyilaukan. Warnanya kuning keemasan ada semu merahnya,”terang AS.

Bahu dengan sayap di belakang kemudian baru kelihatan. Muka yang tidak jelas kelihatan akibat cahaya yang begitu terang. “Dia seolah membungkuk hendak meraihku. Tangan kirinya meraih tangan kanan dan tangan kanannya memegang kakiku sambil membungkuk. Badannya tinggi, 2 meteran.”ujar AS.

Saat itu, AS yang kedinginan dan tubuhnya serasa beku mulai terjalari rasa hangat yang luar biasa. “Perbedaan suhu itu begitu terasa, menjalar perlahan dan sensasi seperti tersengat listrik terasa di bagian belakang leher dan kepala,”kata AS. Baru kemudian di akhir sesi AS menjelaskan, ada masalah dengan saraf bagian belakang leher. Dokter bilang itu stroke mata yang gejalanya terasa di leher.

Sempat gagal

Momen ketiga berlangsung tak lama setelah G kuinduksi lebih dalam di satu sesi hipnosis, Selasa (30/3/2015). Awalnya kami memanggil Malaikat Mikael dan Gabriel. Namun rupanya G belum siap menerima kedatangan mereka berdua. “Buat dia rileks lebih dalam lagi,”kata jati diri G menjelaskan kenapa gagal komunikasi dengan Mikael dan Gabriel.

“Tadi sebenarnya sudah datang, tapi tubuhnya tidak sanggup menerima dan dia belum siap komunikasi sehingga gagal,”kata jati diri G. Setelah kubuat rileks lebih dalam lagi, G kuajak berdoa memanggil Rafael. “Malaikat Rafael datanglah,”doa kami.

Tiba-tiba G menutup matanya yang tertutup dengan tangannya. “Ada apa?”saya bertanya.

“Silau, terang sekali,”ujar G

Saya pun langsung paham, Rafael pasti sudah datang.” Cahayanya terang sekali. Warnanya jingga (campuran kuning dan merah),”jelas G. Meski begitu G tetap tak mampu melihat wajah Rafael yang bersinar terang. G pun tak melihat ada sayap di belakang Rafael. Dia hanya melihat jubah putih dan tangan Rafael yang melayang-layang.

Lalu saya minta agar G bertanya perihal masalah keluarga yang sedang dihadapinya. Rafael pun menjawab,”Ikutilah kata hatimu. Kamu tahu apa yang sebenarnya harus kamu lakukan,”ujar Rafael lewat mulut G. G paham apa yang disampaikan malaikat. “Saya yang harus menanggung semua beban keluarga saya,”ujar G.

Memanfaatkan kesempatan bagus ini saya minta G mengajukan permohonan lain pada Rafael. “Coba minta agar istrimu bisa hamil,”ujarku. Dengan gaya santai, G sampaikan permintaan itu. “Tunggu dua bulan lagi,”kata Rafael yang menyampaikan informasi itu seperti kerja telepati, informasi langsung masuk ke pikiran dan G serentak mengerti dengan sendirinya.

Lalu beberapa pertanyaan disampaikan, dan Rafael menjawab sambil tersenyum. Tak lama, Rafael akhirnya menghilang dan kami berterima kasih atas kedatangannya.

Perjumpaan lain ketika istriku kuhipnosis pada Sabtu (25/3/2015). Sayang, Rafael hanya sejenak muncul lalu pergi. “Badannya menolak,”ujar Mikael yang juga kami panggil dan lantas pergi juga. Rupanya istriku sedang tidak mau dihipnosis. Ini terbukti ketika kubawa ke masa lampau, dia tidak melihat apa pun, demikian ke masa depan. Padahal sudah beberapa kali dihipnosis dan selalu berhasil. Memang, seharian bahkan beberapa hari ini aku bujuk untuk dihipnosis lagi dan dia menolak.”Sedang nggak mau. Cuma nggak tahu kenapa nggak mau,”ujarnya.

Hanya saja, satu yang penting kucatat, dia melihat Rafael untuk pertama kalinya dalam warna kuning keemasan agak merah sedikit. Wajahnya tak kelihatan karena cahaya yang teramat menyilaukan dengan jubah putih. Dia tersenyum sebelum pergi.

Ciri Kedatangan Rafael

Dari sekian kali pertemuan, Rafael menunjukkan ciri dan tanda-tanda yang sama. Pertama, dia datang dengan cahaya terang warna kuning keemasan, kadang-kadang ada unsur merah sehingga tercampur dan lebih terkesan jingga.

Kedua, wajahnya tak pernah kelihatan jelas lantaran cahaya yang begitu terang yang juga menjadi ciri ketiga sekaligus menjadi ciri para malaikat lain.

Keempat, selain cahaya yang terang, para malaikat itu juga bersayap meski kadang-kadang tidak tampak sayapnya dengan jubah putih bercahaya terang.

Ciri kelima, kedatangannya selalu memberi kedamaian dan cahayanya memberi kehangatan. Tidak pernah kedatangan malaikat memberi rasa gundah gulana dan risau apalagi kemarahan.

Dan keenam tentu saja pesan-pesannya selalu positif serta tak pernah melenceng dari kebaikan. Malaikat selalu memberi nasihat paling pas untuk diri kita sendiri. Diana Cooper dalam bukunya berjudul “A Little Light on Angels” menyebutkan, salah satu ciri khas malaikat selalu mengajak manusia “mengikuti kata hati.”

Guru besar luar biasa bidang anatomi dan biologi sel di Tufts University School of Medicine serta mantan guru besar tamu di Harvard University, sekaligus mitra pendiri Mind/Body Health Sciences, Inc. Miroslav Borysenko Ph.D serta istrinya yang juga doktor di bidang yang sama Joan Borysenko,Ph.D dalam bukunya “The Power tf the Mind to Heal” menyebutkan, tak seorang pun mempunyai bukti eksperimental malaikat itu ada.

“Kita paling tidak mempunyai apa yang disebut bukti fenomenologis. Bukti semacam itu terdiri dari kisah-kisah orang yang melibatkan malaikat.”

Laporan ini, kata Miroslav dianalisis untuk diketahui konsistensi internalnya seperti kisah-kisah lain misalnya mati suri. Jika, orang-orang dari berbagai usia, budaya, dengan kepercayaan pribadi dan agama yang berbeda mempunyai pengalaman sama, maka ilmu siap untuk bertemu dengan malaikat, kata Miroslav.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply