Mengenal Potensi Diri

Ayat bacaan: Amsal 14:8
======================
“Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.”

mengenal potensi diri

Selama beberapa tahun mengajar, saya menemukan fakta bahwa ada banyak orang yang belum mengetahui seberapa besar potensi mereka sebenarnya. Ada banyak diantara siswa-siswi saya yang tidak mengetahui dimana letak kekuatan mereka, apa yang mereka miliki yang sebenarnya akan sangat berguna jika diasah. Maka salah satu kebiasaan saya adalah mencoba mengenali mereka lebih dalam dan menggali potensi mereka. Disamping itu mereka pun biasanya membutuhkan dorongan moril. Saya selalu memotivasi mereka dalam setiap pertemuan, karena itu merupakan salah satu masalah terbesar untuk sukses. Jika ditanya mereka ingin jadi apa, biasanya mereka kesulitan untuk menjawab. Padahal peluang sebenarnya ada banyak, bahkan di depan mata sekalipun. Tapi seringkali kita membuang-buang kesempatan itu tanpa sadar. Sebuah penelitian menyatakan bahwa rata-rata peluang yang hadir setiap harinya berjumlah 4000. Tapi bisa jadi kita tidak melihatnya, atau kita sering terlalu fokus kepada hambatan ketimbang peluang itu sendiri. Kita merasa tidak sanggup, pekerjaan itu terlalu besar, tidak berani untuk memulai, terlalu tinggi untuk dicapai dan sebagainya. Kita terlalu sering menilai diri kita terlalu kecil. Padahal kesuksesan bisa jadi ada di depan mata. Tapi kita melewatkannya lagi dan lagi, sehingga kesempatan selalu berlalu sia-sia di depan mata. Hidup akhirnya hanya berisi keluhan. Kita hanya melihat bahwa antara jumlah pelamar kerja dan lowongan pekerjaan tidaklah sebanding, dan kita menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak juga mulai melakukan sesuatu. Padahal jika penelitian di atas berkata ada 4000 peluang secara rata-rata per hari, masa satupun tidak ada yang bisa kita lakukan?

Tidak mengenali potensi diri sendiri, merasa kecil dan tidak mampu, itu masalah terbesar bagi banyak orang. Padahal Tuhan menciptakan kita begitu lengkap. Bukan saja organ tubuh, bukan saja nafas kehidupan, tapi Tuhan telah mempersiapkan rancanganNya yang terbaik bagi kita, bahkan telah melengkapi kita dengan talenta-talenta tersendiri, dengan keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda bagi setiap orang dengan tujuan agar kita bisa saling melengkapi. Ironisnya yang sering terjadi, orang hanya duduk diam dan merasa iri dengan kemampuan orang lain. Padahal jika saja mau melihat potensi diri, pasti ada sesuatu yang bisa diolah dan menghasilkan kesuksesan, karena Tuhan telah membekali setiap kita dengan talenta masing-masing. Mungkin tidak pintar jualan tapi pintar bertukang, mungkin tidak bisa memasak tapi mengerti banyak urusan komputer, tidak pintar berbicara, tapi hebat menyusun strategi, tidak suka politik tapi cekatan bekerja, dan sebagainya. Tidak masalah, karena tidak ada orang yang mampu melakukan segala sesuatu. Karena itulah Tuhan memberikan talenta yang berbeda-beda agar kita semua bisa saling melengkapi dan bisa memuliakan Tuhan di bidang kita masing-masing. Peluang untuk sukses? Tetap ada biar bagaimanapun. Semua orang berpeluang untuk sukses. Saya percaya itu. Yang penting adalah mengetahui kemampuan kita sendiri secara benar, mau mengasahnya agar lebih tajam, dan terus meletakkannya dalam doa agar langkah demi langkah tetap beradadalam rencana Tuhan. Dikuasai ketakutan, kekhawatiran, keraguan dalam mengambil sikap dan sebagainya, termasuk mengukur diri terlalu rendah merupakan hal yang harus kita atasi, agar berkat-berkat Tuhan tidak berlalu sia-sia di depan mata.

“Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.” (Amsal 14:8). Demikian firman Tuhan berkata. Orang cerdik yang penuh hikmat akan mampu mengetahui kemampuannya sendiri, tapi sebaliknya orang yang bebal akan terus dikuasai oleh keraguan, kekhawatiran dan ketidakberanian mereka untuk melangkah dan akibatnya tidak kunjung maju. Dalam perumpamaan talenta di Matius 25:14-30 kita bisa melihat bahwa Tuhan telah membekali kita dengan talenta tersendiri. Jumlahnya bisa jadi berbeda, namun yang terkecil sekalipun, satu talenta, itu sudah merupakan pemberian yang besar dari Tuhan. Dalam alkitab satu talenta digambarkan setara dengan 1000 uang emas. Itupun sudah besar bukan? Pemberian Tuhan ini harus mampu kita asah dan olah hingga bisa menghasilkan. Itulah yang Tuhan kehendaki, bukan sebaliknya hanya ditimbun dan malah bersungut-sungut seperti hamba yang diberi satu talenta dalam perumpamaan ini. “Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!” (ay 24-25). Inilah gambaran orang yang tidak menghargai pemberian Tuhan, tidak hanya menolak tapi malah menuduh dan bersungut-sungut, diliputi ketakutan akan kegagalan dan memilih untuk diam saja tanpa berbuat apa-apa. Talenta yang kecil sekalipun jika diolah akan berbuah, dan Tuhan siap memberi lebih lagi jika kita sudah mampu bertanggungjawab atas perkara kecil. “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ay 29).

Hari ini berhentilah mengeluh, bersungut-sungut atau menuduh Tuhan tidak juga menurunkan berkatNya. Seringkali yang terjadi adalah kita melewatkan kesempatan berlalu di depan mata, membiarkan berkat Tuhan terbuang sia-sia. Berhentilah bermalas-malasan dan berhentilah terus menerus dikuasai kekhawatiran dan ketakutan. “Si pemalas berkata: “Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.” (Amsal 22:13). Jika kita terus dikuasai keraguan dan kekhawatiran, maka kita pun akan menjadi pribadi-pribadi yang malas, tanpa semangat. Oleh karena itu temukanlah potensi diri sendiri. Seringkali Tuhan tidak langsung memberikan ikan, tapi Dia menyediakan kail. Apakah kita mau menggunakannya atau tidak, itu akan menentukan sejauh mana kesuksesan akan kita raih. Yesus sudah menunjukkan hal ini ketika Dia memberi makan ribuan orang dengan menggandakan lima roti dan dua ikan. Tuhan Yesus berkata: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” (Markus 6:38). Yesus sanggup langsung menurunkan makanan dari langit, tapi itu tidak Dia lakukan. Yesus lebih memilih untuk melihat apa yang ada pada kita, dan dengan berkatNya semua itu bisa menjadi berlimpah-limpah.. Semua itu sangat berguna untuk mengajarkan kita agar tidak menjadi orang-orang manja dan mau berubah menjadi pribadi yang giat berusaha. Periksalah! Periksa ada berapa roti yang kita miliki, dan Tuhan siap melipatgandakan itu menjadi berkat yang berlimpah.

Hari ini mari kita kenali potensi diri kita yang sebenarnya. Mari kita periksa talenta apa yang Tuhan berikan kepada kita, dan mari kita kembangkan, asah dan olah. Saatnya untuk mempergunakan talenta yang kita miliki untuk sukses, dan memakainya untuk kemuliaan Tuhan. Sesungguhnya semua orang dirancang Tuhan untuk sukses, dan Dia telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan untuk bisa mencapai itu. Jangan biarkan berkat Tuhan berlalu sia-sia, mulailah hari ini untuk menjadi orang cerdik yang penuh hikmat yang mengetahui kemampuan atau potensi diri sendiri.

Tuhan telah memberikan talenta yang cukup kepada setiap orang untuk bisa sukses

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: