Mengenal Kasih

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:1
========================
“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.”

mengenal kasih

Instrumen musik seperti gong atau canang (cymbal) bisa membuat sebuah komposisi menjadi semakin unik, apalagi ketika dipadukan dengan instrumen-instrumen modern elektrik, maka kesan yang timbul akan jauh berbeda. Ada banyak musisi jazz yang mulai melirik penggunaan instrumen-instrumen pelengkap ini untuk menambah rasa dan warna dalam musik mereka. Gong atau canang tidak bisa dipakai untuk memainkan notasi seperti halnya piano, saxophone atau gitar. Tapi pada penggunaan yang tepat kedua instrumen ini akan melengkapi kesempurnaan sebuah komposisi. Tapi coba bayangkan seandainya gong atau canang ini dibunyikan tanpa pola, asal-asalan dan seenaknya. Tentu yang muncul adalah bunyian nyaring (cymbal) atau berdengung (gong) tanpa arti yang malah akan mengganggu pendengaran kita.

Saya ingin menyambung renungan kemarin tentang kasih. Jika kemarin saya sudah menggambarkan betapa besarnya peran kasih dalam kehidupan ini, hari ini kita akan melihat lebih lanjut kasih seperti apa yang sebenarnya mampu membuat perbedaan itu. Paulus menjabarkan itu semua secara lengkap dan jelas dalam 1 Korintus 13. Mari kita lihat seperti apa kasih yang sebenarnya.

“Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.” (1 Korintus 13:1). Paulus mengatakan, meski dia bisa berkata-kata dengan berbagai bahasa yang ada di dunia ini bahkan bahasa malaikat sekalipun, tapi jika ia tidak memiliki kasih terhadap orang lain, maka ia tidak lebih dari bunyi gong dan canang tanpa makna, yang hanya berbunyi tapi tidak punya arti apa-apa. Lalu kita lihat ayat berikutnya. “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” (ay 2). Paulus adalah orang yang punya begitu banyak karunia. Dia memiliki karunia bernubuat, dia punya pengetahuan yang sangat dalam mengenai rahasia surgawi dan kita tahu bahwa Paulus adalah sosok yang memiliki iman yang kuat. Ia menyebutkan iman seperti yang digambarkan Yesus, dimana iman yang sebesar biji sesawi saja akan mampu memindahkan gunung untuk tercampak kelaut seperti yang bisa kita baca dalam Matius 21:21 dan Markus 11:23. Tidakkah semua itu luar biasa? Mungkinkah orang yang memiliki karunia selengkap itu dikatakan tidak berguna? Tapi Paulus menekankan, bahwa sehebat apapun orang itu, sebesar apapun kemampuan rohani seseorang, mereka tetap saja tidak ada gunanya jika tidak mempunyai kasih. Selanjutnya Paulus berkata: “Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku.” (ay 3). Suka amal? Banyak menyumbang untuk gereja? Atau bahkan merelakan diri untuk dibakar karena agama yang anda anut? Rela mati dibom demi kepercayaan? Semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali jika tidak ada kasih. Banyak orang yang salah menangkap pesan ini. Mereka mengira bahwa semakin banyak kita memberi sumbangan, maka itu berarti kita semakin mengasihi. Padahal sebenarnya ada begitu banyak motif dibalik sebuah pemberian. Lihat apa kata Yesus. “Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” (Matius 6:2). Pemberian bisa didasarkan karena mengharapkan sebuah imbalan atau balas jasa, mengharapkan pujian, agar keinginan kita dipermudah dan sebagainya. Atau malah mengira kita bisa menyuap Tuhan dengan melakukan pemberian yang besar. Dan ini seringkali dilakukan banyak orang. Tapi perhatikanlah, pemberian sebesar apapun, bahkan menyerahkan diri kita sendiri sekalipun jika tidak didasari kasih tidak akan membawa manfaat apa-apa. Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian. Apa yang Dia lihat adalah motif di balik sebuah pemberian itu. Itulah sesungguhnya yang akan membedakan apakah Tuhan berkenan atau tidak lewat pemberian kita itu. Dan dasar yang berkenan bagi Tuhan adalah kasih. Pemberian yang didasari kasih yang tulus, sekecil apapun itu, meski hanya sebuah senyum sekalipun, itu akan dihargai Tuhan.

Paulus menjabarkan apa saya yang menjadi bagian dari kasih yang sungguh-sungguh ini. “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Inilah gambaran dari buah-buah yang dihasilkan oleh kasih yang sesungguhnya. Inilah sebentuk kasih yang bisa membawa perubahan nyata. Kasih seperti inilah yang mampu membuat perbedaan. Ketika kita memiliki kasih yang seperti ini, kita akan melihat langsung betapa kasih itu tidak akan pernah gagal. We’ll see how love never fails to make a difference. We’ll see how love never fails to succeed in every aspects of our lives. Iman, pengharapan dan kasih merupakan tiga hal yang sangat penting untuk kita miliki. Paulus menyebutkannya demikian. Tapi jangan lupa bahwa ia menekankan: “yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (ay 13). Pengetahuan dan nubuatan pada suatu saat akan lenyap, pengharapan dan iman akan selesai ketika kita sudah sampai di hadapan tahta Allah dengan selamat dan sudah melihat segala bukti dengan sempurna kelak, namun kasih akan terus bersama kita dalam kehidupan kekal. Karenanya kasihpun disebutkan Paulus sebagai yang terbesar. “Kasih tidak berkesudahan.” (ay 8).

Penting bagi kita untuk mengetahui kasih seperti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan untuk kita aplikasikan dalam hidup. Dia sudah memberikan itu semua lewat Roh Kudus (Roma 5:5). Sekarang keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau mengaplikasikannya dalam setiap sisi kehidupan kita, mencurahkan kasih Allah kepada orang lain juga, atau kita hanya mau menyimpannya untuk diri sendiri saja. Sesungguhnya kedua hukum yang terutama, mengasihi Allah dan manusia itu haruslah berjalan secara bersamaan. Bayangkan jika kita hanya terus menyumbang untuk Tuhan namun melupakan sesama kita yang sedang tertimpa kesusahan. Kita membuka dompet lebar-lebar untuk pembangunan gereja, namun tetangga kita yang ditimpa masalah tidak kita pedulikan. Atau sebaliknya, kita rajin menyumbang sesama, namun tidak mau mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Itu bukanlah bentuk kasih yang penuh.Lakukan keduanya sejalan, dan dasarkan dalam kasih, bukan kepentingan-kepentingan lainnya.

Pengharapan terhadap dunia yang fana ini akan sia-sia. Tapi kasih yang bersumber dari Allah, yang dikaruniakan lewat Roh Kudus itu mampu membebaskan. Meski kita bisa berbicara dalam berbagai bahasa, hebat dalam menyampaikan berita dari Tuhan, memiliki pengetahuan hingga rahasia-rahasia firman Tuhan, memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut, sangat royal menyumbang bahkan rela dibakar sekalipun demi kepercayaan yang kita anut, jika kita tidak mempunyai kasih maka semuanya akan sama sekali tidak berguna, sia-sia atau percuma. Tuhan Yesus mengingatkan “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23). Dan Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan kasih, di dalam kasih. Jika bentuk kasih yang sebenar-benarnya ini yang kita miliki, disanalah orang akan bisa melihat kemuliaan Tuhan secara nyata. Itulah yang akan membedakan kita dari dunia ini. Hari ini mari kita baca baik-baik dan renungkan kemudian perkatakan 1 Korintus 13 ini. Dan mulailah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Kasih seperti itu sudah dicurahkan Tuhan bagi kita, tinggal kita yang mengeluarkan, mengolah dan memakainya untuk bisa menjadi berkat bagi siapapun tanpa terkecuali. Only then you will witnesss that love really never fails.

Sehebat apapun kita, tanpa kasih semua hanya akan sia-sia

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply