Mengenal dan Mengalami

386-STEPPING-OUT-IN-FAITH-300x227PACARAN itu biasa. Tapi ada gadis pacaran dengan pria yang tidak dikenal sampai punya anak. Ini aneh tapi nyata. Gadis itu tidak tahu nama lengkap dari laki-laki yang menjadi ayah dari anaknya. Bukan karena si gadis buta huruf atau gila. Pendidikan terakhir si gadis SMP. Di Athena Rasul Paulus temukan realitas serupa. Orang-orang menyembah ‘dia’ […]

386-STEPPING-OUT-IN-FAITH-300x227

PACARAN itu biasa. Tapi ada gadis pacaran dengan pria yang tidak dikenal sampai punya anak. Ini aneh tapi nyata. Gadis itu tidak tahu nama lengkap dari laki-laki yang menjadi ayah dari anaknya. Bukan karena si gadis buta huruf atau gila. Pendidikan terakhir si gadis SMP.

Di Athena Rasul Paulus temukan realitas serupa. Orang-orang menyembah ‘dia’ yang mereka tidak kenal. Orang-orang di Athena menyerahkan diri kepada orang asing yang tidak dikenal.

Tidak berlaku ungkapan, ‘tak kenal maka tak sayang’. Yang dihayati berlawanan dengan prinsip umum ini. Orang menjadi aneh dan nekat berpegang pada semboyan konyol berikut, “halal- haram, kenal-tak kenal hantam saja.”

Yesus tidak dikenal oleh orang banyak. Itu wajar, karena orang banyak jarang bertemu dengan Dia. Para murid sekian lama bersama Sang Guru, tapi cuma Petrus yg mengenal siapa sang Guru, itu pun karena ilham Roh Kudus.

Kok bisa ya? Menyerahkan diri kepada orang ‘asing’. Kok bisa ya? Mempercayakan hidup kepada ‘dia’ yg tidak dikenal. Kok bisa ya? mengikuti orang yang tidak dikenal baik identitasnya. Ini aneh tapi nyata. Ini terjadi meskipun dianggap aneh.

Sebenarnya kalau ditelusuri lebih jauh tidak aneh juga. Mengenal itu ada tingkatannya. Ada yang sepintas bersumber dari kata orang, dari buku dan tv. Ini yang kita sebut ‘tahu’ atau pengetahuan (informatif). Pengenalan seperti ini biasanya dangkal sebatas nama dan penampilan lahiriah.

Pengenalan yang mendalam bersumber dari pengalaman perjumpaan secara pribadi. Kita mungkin tidak tahu nama orang asing yang kita jumpai tetapi kita merasakan kasih dan kebaikannya. Kita mengalami pertolongannya.

Pengalaman istimewa seperti ini melahirkan benih kepercayaan dalam diri terhadap orang asing tersebut. “Aku tidak kenal orang itu, tapi Dia telah menyembuhkan aku, Dia itu orang baik, rupanya Dia itu Mesias” kata orang yang mengalami pertolongan dari Yesus.

Dalam hal ini pengalaman lebih berharga dari pengetahuan. Apa artinya segudang pengetahuan teologi kalau orang tidak mengalami kasih Tuhan dalam hidup? Apa artinya pengetahuan tentang Tuhan, kalau Dia yang kita kenal itu tidak kita sembah atau imani?

Kita tidak diselamatkan oleh pengetahuan iman yang kita miliki, melainkan oleh sikap penyerahan diri secara total kepada Dia yang kita imani. Seorang teolog tidak otomatis diselamatkan kecuali kalau dia juga berlutut menyerahkan diri kepada Tuhan.

Sebaliknya seorang kampung yang terbatas pengetahuannya tentang ajaran iman tidak akan mati konyol kalau selama hidup dia bertekun dalam doa dan penyerahan diri kepada Tuhan yang dia imani.

Iman bukan pertama-tama perkara pengetahuan. Iman itu soal sikap penyerahan diri secara total kepada Tuhan yang kehadiranNya kita rasakan dan alami dalam hidup. Iman itu tumbuh dari pengalaman perjumpaan dengan yang maha Kudus dalam hidup.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply