Mengemudi Dalam Kegelapan

Ayat bacaan: Mazmur 119:105
====================
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

mengemudi dalam gelap

Pernahkah anda tersesat di sebuah jalan gelap di malam hari? Saya pernah mengalaminya di sebuah tempat yang sama sekali masih asing bagi saya. Tidak ada penerangan apapun, karena di kiri kanan saya hanyalah pohon-pohon tinggi seperti sebuah hutan. Jalan yang bisa dilalui mobil pun begitu sempit, sehingga keadaan cukup menyeramkan untuk dilewati pada saat itu. Apa yang bisa diandalkan hanyalah penerangan dari lampu mobil yang tidak cukup jauh untuk bisa menyinari jalan keluar. Artinya, pada saat itu saya belum melihat kemana akhir dari jalan itu, apakah saya akan kembali ke jalan utama untuk menuju ke tempat tujuan atau sebaliknya semakin jauh tersesat. Pada waktu itu belum ada teknologi GPS (Global Positioning System) yang bisa menjadi penunjuk arah, sehingga suasananya membuat saya sempat takut. Satu-satunya andalan, sekali lagi, hanyalah lampu mobil yang sinarnya terbatas. Minimal saya masih bisa melihat jalan dan tidak menabrak pohon atau lainnya. Daripada berhenti, saya lebih baik terus melaju dan percaya kepada penerangan lampu mobil yang terbatas itu. Setidaknya lampu mobil itu bisa menerangi saya untuk terus maju. Pada akhirnya saya kembali ke jalan utama dan selamat sampai ke tujuan tanpa kurang suatu apapun.

Hari ini saya mengingat kembali pengalaman menegangkan itu, dan berpikir bahwa hidup pun seringkali penuh ketidakpastian, bahkan ada kalanya situasi terlihat begitu gelap sehingga kita bisa merasa khawatir atau takut menatap kemungkinan yang akan terjadi esok hari. Kemampuan kita yang sangat terbatas membuat kita tidak bisa melihat apa yang terjadi di masa depan. Kita hanya bisa memilih untuk terus berjalan atau sebaliknya berhenti bahkan mundur. Betapa seringnya ketidakpastian membuat kita hidup dalam ketakutan dan berpikir bahwa itulah akhir dari segala-galanya, apalagi jika apa yang kita hadapi terlihat begitu gelap tanpa seberkas cahaya sedikitpun di ujung sana. Tetapi lihatlah apa yang dikatakan Pemazmur. “Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105). Your word is a lamp to my feet and a light to my path, demikian bunyi dalam bahasa Inggrisnya. Pemazmur tahu bagaimana kegelapan akan masa depan itu sanggup membuat kita hidup penuh kekhawatiran. Ia tahu bahwa kemampuan kita dalam membaca masa depan sungguh sangat terbatas. Oleh karena itulah, seperti halnya pengalaman saya mengemudi dalam kegelapan malam di tengah hutan dengan pertolongan lampu mobil saja, Tuhan pun menjanjikan pelita dan terang agar kita mampu terus melangkah setahap demi setahap dalam kegelapan itu untuk bisa mencapai tujuan. FirmanNya, itulah yang akan mampu membimbing setiap langkah kita, bertindak bagai pelita bercahaya untuk menerangi setiap langkah agar kita bisa tiba pada sebuah kemenangan seperti yang dikehendaki Tuhan bagi kita. Jika demikian, bayangkan apabila kita mengabaikan untuk membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari. Bayangkan jika kita tidak mengetahui apa-apa tentang janji Tuhan dan peringatan-peringatanNya, maka tidak akan ada pelita apapun yang menuntun kita dalam melalui kegelapan yang panjang.

Apa yang direncanakan Tuhan kepada kita semua sesungguhnya jelas. Tuhan mengatakan “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.” (Yeremia 29:11). Apa yang disediakan Tuhan di depan sana adalah rancangan damai sejahtera dan bukan kecelakaan, dan Dia sudah mencanangkan hari depan yang penuh harapan sejak semula bagi kita. Artinya, segelap apapun situasi yang kita hadapi hari ini, ada sesuatu yang bersinar terang di depan sana, sebuah hari depan yang sangat menjanjikan. Tuhan juga sudah menegaskan “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5b). Pemazmur juga pernah merasakan bagaimana berjalan dalam gelap, namun ia merasakan kehadiran Tuhan dalam membimbing langkahnya setapak demi setapak untuk keluar dari situasi itu. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4). Jika Pemazmur tahu akan hal itu dan bisa berjalan dalam langkah imannya dengan keberanian dan keyakinan, kita pun harus bisa seperti itu. Sebab Tuhan tidak pernah berubah, Dia tetap sama dahulu, sekarang dan sampai selamanya. Janjinya teguh, Dia adalah Allah yang setia yang tidak akan pernah ingkar janji.

Alkitab juga mengingatkan kita agar tidak putus asa ketika terjatuh dalam situasi yang sukar. Yakobus mengatakan: “sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.” (Yakobus 1:3-4). Perhatikan bahwa Tuhan sudah menjanjikan bahwa meski kita jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan seperti yang disebutkan dalam ayat 2, pencobaan-pencobaan itu bukanlah untuk membuat kita hancur melainkan malah akan memberi manfaat positif bagi diri kita. They are all there to make us even better, not bitter.

Jika ada diantara teman-teman yang sedang merasakan seperti mengemudi dalam kegelapan, ingatlah bahwa Tuhan sudah menyediakan pelita agar anda bisa terus berjalan selangkah demi selangkah untuk menggenapi rencanaNya. Firman Tuhan akan selalu menerangi setiap langkah yang anda ambil agar bisa terus berjalan mencapai tujuan. Meski anda belum melihat titik akhirnya dan masih merasa segala sesuatunya gelap, jangan khawatir dan jangan pernah kehilangan harapan. Anda tidak akan pernah terjerembab jika anda terus berjalan dengan pelita yang berasal dari Firman Tuhan.

Tuhan menyediakan pelita lewat FirmanNya untuk terus menuntun kita setahap demi setahap

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply