Mengemban Tanggung Jawab ala Daud

1
4

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
“Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya…”

Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita? Maksud saya begini. Yang biasa dilakukan oleh orang, sebuah tanggung jawab akan diterima dengan senang hati kalau disertai imbalan yang besar pula. Tapi bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, bertanggungjawab secara penuh dengan memberi yang terbaik hanya berdasarkan tinggi rendahnya kompensasi saja? Saya percaya Tuhan tidak menginginkan anak-anaknya berbuat seperti itu.

Kisah tentang Daud dan Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Jika dalam beberapa renungan kemarin kita sudah belajar mengenai cara menghadapi dan menyelesaikan masalah ala Daud dan sikap mentalnya, hari ini kita bisa belajar mengenai keseriusan dalam mengemban tanggung jawab lewat kisah yang sama.

Ayat bacaan kali ini adalah jawaban Daud atas ketidakpercayaan Saul bahwa Daud sanggup mengatasi Goliat. Saul berkata: “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” (1 Samuel 17:33). Apa jawab Daud? “Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” Kata Saul kepada Daud: “Pergilah! TUHAN menyertai engkau.” (ay 34-37). Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa ia tidak ragu sedikitpun karena mengandalkan Tuhan, tapi selain itu kita bisa pula melihat bahwa Daud sangat bertanggungjawab akan pekerjaannya sebagai gembala kambing domba milik ayahnya. Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Tapi perhatikan bagaimana Daud berkomitmen serius dan penuh, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika dihadapkan kepada Goliat, Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat. Seandainya Daud tidak serius dalam bekerja, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah terjadi.

Meski tidak dibayar, Daud menunjukkan betapa seriusnya ia mengemban tanggung jawab. Daud rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang tidak lain hanyalah kumpulan hewan yang bahkan bukan miliknya. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa melawan binatang buas demi binatang yang digembalakannya? Tapi Daud tidak berpikir seperti itu. Ia tidak ingin satupun dari ternak yang digembalakannya binasa. Ia ingin memegang teguh tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya dan untuk itu ia siap membayar harga, bahkan apabila harus berhadapan dengan maut.  Dari keputusan itu ia merasakan betapa penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Ia sudah beberapa kali sanggup mengatasi ganasnya singa dan beruang, kemudian berhasil pula mengatasi Goliat.

Keputusan Daud kelak menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita semua. Lihat apa kata Yesus berikut: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” (Yohanes 10:11-12).

Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun melayani, apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan. Perhatikan ayat berikut ini: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa kita harus memberi yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, tanpa memandang besar tidaknya pendapatan atau kompensasi yang diterima dari situ. Itu tingkatan yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya. Mungkin kompensasinya tidak terlihat secara langsung, tetapi apapun yang dikerjakan untuk Tuhan pasti akan sangat Dia hargai. Tuhan bisa memberkati anda lewat apapun, meski tidak secara langsung berhubungan dengan sesuatu yang sedang dikerjakan. Percayakah anda bahwa saya memulai kerja hanya dengan dibayar 30 ribu rupiah sekitar 10 tahun lalu, tapi kemudian bisa meningkat lebih dari cukup dan sekarang itu menjadi sebuah ‘stepping stone’ untuk sesuatu yang jauh lebih besar lagi? Saya sudah membuktikan kebenaran firman Tuhan dan membuktikan pula bahwa apa yang terjadi pada Daud bisa terjadi pula kepada kita hari ini.

Adakah diantara anda yang saat ini merasa bahwa kerja keras anda belum sebanding dengan kompensasi yang anda terima, masih terus membandingkan antara keseriusan dan upah, atau masih bergumul mengenai hal-hal mengenai tanggung jawab? Pesan saya, do your best in it. Berikan yang terbaik dari anda, penuhi tangungjawab anda semampu yang anda bisa.  Selama itu anda kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, Dia pasti akan memperhitungkan itu. Percayalah, tidak akan pernah ada yang sia-sia.

“Each of you must take responsibility for doing the creative best you can with your own life.” (Galatia 6:5, [The Message])

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

1 komentar

Tulis gagasan

Please enter your comment!
Please enter your name here